Untuk kamu, lelaki yang tiba-tiba masuk dalam hidupku, membuat hubunganku hancur tak bersisa dengan dirinya, terima kasih pernah ada untuk menjadi peneduh jiwa yang rapuh. Di saat aku mulai lelah dengan suatu hal yang tidak pasti hingga bertahun-tahun lamanya, kamu datang membawa harum bunga meski wujud bunganya tak ada.

Perbincangan bersamamu membuatku begitu terpukau, walau terkadang kuakui banyak hal yang tidak membuatku nyaman bahkan pikiranku terancam. Kamu yang pernah kukagumi sejak dulu, muncul bagai kunang-kunang di gelapnya malam tak berbintang. 

Advertisement

Memilikimu adalah harapan baru bagiku, hingga aku sanggup melepas dia yang telah bersamaku beberapa lama. Obrolan kita menyatu. Terlebih ketika aku memilihmu menjadi pendengar bagian kisah sakit dalam hubunganku bersama yang dulu. Kubilang aku tak bisa hidup bersama dia, orang yang seolah tidak pernah puas dengan satu wanita. Kamu tersenyum, seolah menghangatkan jiwa.

Malam itu, menjadi malam paling hangat yang pernah kulalui bersamamu. Genggaman tanganmu yang seolah menenangkanku ketika kamu bilang bahwa kita tidak bisa bersama. Kamu ingat? Seduhan cokelat hangat dan tuturanmu mengenai alasan bahwa kita tidak bisa bersama. Kamu ingat?

Malam itu malam terakhir kita bertemu dengan saling menggenggam. Hari-hari selanjutnya kamu membiarkanku seolah tak pernah tahu bahwa aku pernah ada. Terima kasih, kamu. Berkatmu, aku mampu menjadi wanita yang berani memutuskan suatu hal yang sudah tidak aku harapkan. Berkatmu, aku mampu berubah menjadi lebih kuat dan hati-hati untuk menata hati lagi.

Advertisement

Kini, hari pernikahanku tiba. Tak perlu menunggu lama untuk menerima hati yang baru, yang lebih baik, dan lebih memiliki kepastian. Berkat cintaku yang bertepuk sebelah tangan padamu, aku mampu mengakhiri hubunganku dengan masa lalu, mengikhlaskanmu bahwa aku tidak bisa bersamamu, dan kini menerima hati baru untuk menautkan dua hati hingga akhir waktu. Terima kasih, kamu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya