“Entah sekarang ini kehidupan semakin banyak pergerakannya, banyak topeng-topeng, terkadang orang baik tidak menampilkan kebaikannya, begitu juga orang yang perbuatannya hanya ingin kelihatan baik disana sini mengklaim dirinya baik.” Segi bergerak merenungi.

Oh ya sampai lupa aku memperkenalkan diriku. Sebut saja namaku Amang. Aku tak sengaja mendengar adikku berbicara agak serius. Aku terpancing untuk gabung dengan obrolannya. Aku juga merasa dipancing dia.

“Topeng-topeng. Topeng itu fungsinya bisa saja menyembunyikan dirinya atau bahkan meniadakan dirinya dari popularitas kehidupan kalau aku menyebutnya menggaibkan diri dari orang-orang yang mengejar dunia.”

“Amang, terima kasih banyak lo. Tapi aku menginginkan kamu untuk menanggapi tentang orang baik yang tidak menampilkan diri dan orang-orang yang mengklaim dirinya baik.” Segi tu de poin (to the point).

“Oke baiklah Segi kalau itu kemauanmu. Ini bukan sebuah jawaban ya, tetapi ini bisa menjadi pertimbangan untuk menyeimbangkan dirimu melihat segala fenomena kehidupan. Orang baik yang tidak menampilkan kebaikannya, mungkin saja dia malu memperlihatkan kebaikannya atau mungkin saja dia tidak mau memunculkan kebaikannya karena ketakutannya timbul kesombongan dalam hatinya. Sehingga kebaikannya nanti hanya memunculkan rasa puas diri bukan menimbulkan kebaikan lagi.” Aku agak panjang melantunkan dan mengatur kata-kata.

Advertisement

Segi mengambil teh anget yang disajikan ibuku sedangkan aku baru saja menyelesaikan pembicaraanku. Segi diam sejenak menyeruput tehnya.

“Maksud dari memunculkan rasa puas diri bukan menimbulkan kebaikan lagi, itu bagaimana Amang?” Segi nampaknya mulai menjemput bola (pengetahuan).

“Jadi gini mas Segi yang baik dan mau baik.” Aku mengambil kopi tubruk buatan dari ibuku. Kopinya hitam banget, hitam pekat luar biasa. “Idealnya kebaikan akan menimbulkan kebaikan baik pada dirinya maupun orang lain. Kalau kebaikan hanya menimbulkan kepuasan diri atau menyombongkan diri. Ya percuma kebaikannya jika menimbulkan kesombongan. Itu yang kamu sebut topeng-topeng tadi. Orang sombong bertopeng kebaikan.”

Segi manggut-manggut. Sepertinya dia memahami.

“Tapi belum tentu juga orang yang menampilkan kebaikannya kepada orang lain bermaksud dia sombong. Kemungkinan maksud terbesarnya adalah mencontohkan kita kebaikan. Bagaimana jika tidak ada orang yang menampilkan kebaikannya di dunia ini?” Aku mengajak Segi berpikir lebih luas.

“Ya kebaikan itu kemungkinan besar tidak akan terwariskan ke orang lainnya. Dan kebaikan akan hanya menjadi kenangan masa lalu.” Segi bercanda mencairkan suasana.

“Alah yang kamu tahu hanya masa lalu, ingat masa sekarang juga Segi.” Aku mencegat.

“Ya. Sekarang aku persilahkan kamu untuk ngomong apa saja mengenai tanggapanku.” Segi bergerak mengubah suasana.

“Yang kamu sampaikan itu benar. Kebaikan tidak akan terwarisi. Maka jangan anggap orang yang menampilkan kebaikannya itu sombong. Begitu juga orang yang kamu anggap mengklaim bahwa dirinya baik. Bisa saja maksudnya dia adalah memberikan teladan kebaikan. Kita juga tidak perlu mengurus tentang hal itu. Yang perlu kita urus adalah kebaikan yang ia sampaikan. Tidak pada urusan hati.” Aku ambil kopi yang sudah mulai mendingin dan kuserut pelan.

“Tidak pantas dong kita menilai orang lain tentang hatinya.” Segi mengeluarkan pernyataan.

“Kita tidak bisa menilai orang lain dari apa yang ia diperlihatkan (fisik) tetapi itu ada dalam dirinya. Artinya dia yang tahu sendiri apa yang dia lakukan dan tujuannya. Hanya dia sendiri dan Tuhannya yang tahu, maksud dan tujuannya. Aku menyarankan kepadamu jika kamu melihat orang berbuat kebaikan ambillah kebaikannya, jika oranglain mengklaim dirinya baik ambillah kebaikan yang dia klaim.”