Tidak pernah terpikirkan olehku waktu dulu jika semua tidak akan semenyenangkan ini. Aku orang baru dalam hidup kalian, orang yang bisa jadi tidak sama secara adat, pergaulan, bahkan pemikiran, tapi kucoba berusaha untuk menjadi yang terbaik. Tapi kurasa belum bisa.

Untuk kamu adik iparku, ingat kah di hari pernikahan aku dan kakakmu dulu? Kamu menangis sejadinya di pernikahan kakakmu bersamaku? Momen terekam kamera yang akhirny kamu cetak sendiri dan dipajang di ruang tamu rumahmu? Kalian berpelukan, kamu menangis tersedu seolah tak ada lagi hari esok yang bisa kamu lakukan bersama kakakmu lagi. Sedangkan aku tertunduk lesu merasa bersalah akan kondisi seperti itu.

Advertisement

Dari sana aku berjanji dalam hatiku untuk selalu menyayangimu seperti adik perempuanku sendiri. Aku yang pernah memiliki kakak dan ditakdirkan menjadi anak perempuan satu-satunya di kelurga. Ditinggal oleh ayah selamanya sebelum menikah. Menjadikanku berusaha menjadi perempuan yang juga berada di posisimu. Kuyakinkan di hari itu bahwa aku dan suamiku akan menjadi seorang kakak yang selalu ada untukmu sampai saatnya kamu menikah nanti dan tanggung jawabmu berpindah pada suamimu.

Kamu ingat jika beberapa bulan kemudian aku mengirimimu kado di hari ulang tahunmu meskipun mungkin tidak terlalu kamu suka? Kala itu, bahkan suamiku saja tidak ingat pertambahan usiamu. Tapi aku ingin menjadi kakak ipar yang bisa masuk dalam kondisi baik dan ingin selalu baik setiap waktu.

Kamu mungkin tidak menyukaiku sejak kutolak tawaranmu untuk isi rumah kosong kelurga kalian supaya ibumu atau ibu mertuaku sendiri bisa terurus. Tapi tau kah kamu bahwa aku dan suamiku memutuskan mandiri di tempat lain karena permintaan kakakmu sendiri yang tidak lain adalah suamiku supaya kita bisa belajar mandiri berdua. Setidaknya kuyakini dapat meringankan beban ibumu untuk tidak memikirkan kondisi susahnya kami yang dapat diketahui olehnya. Hal itu juga yang akhirnya kamu lakukan pasca menikah bukan?

Advertisement

Kamu ingat jika di beberapa hari sebelum pernikahanmu aku menitipkan buku pranikah lewat kakakmu yang kamu pikir itu dari kakakmu? Padahal itu semua dari aku sebagai bukti bahwa aku peduli akan masa depanmu selanjutnya. Aku yang ikut membantumu menyiapkan pernikahan. Berbincang dengan vendor katering hingga salon karena kamu meminta bantuan pada kakakmu yang tidak paham akan itu. Apa balasanmu di hari pernikahanmu? Hanya aku yang tidak dirias oleh salon yang kamu bayar seperti kakak iparmu yang lain. Kupikir waktu itu mungkin kamu lupa, tak apa.

Ketika anak pertamaku lahir yang tidak lain adalah ponakanmu sendiri. Kulihat dirimu tidak seantusias ponakan yang lain. Tidak ada kado sederhana yang kamu berikan seperti kue-kue ulang tahun dan kado istimewa yang biasanya kamu beri kepada ponakanmu yang satunya. Ada apa? Apa salah ponakanmu ini? Apa terlahir dari rahim aku atau dalam darahnya mengalir kakak yang amat kau cintai?

Puncak amarahku tiba, ketika kamu membutuhkan suamiku yang tiada lain adalah kakakmu sendiri mengantarmu ke rumah sakit hingga pulang larut malam dengan kondisi ponakanmu ini gundah dan belum tidur. Sialnya bagi kami, tak ada tegur sapa yang kamu dan ibu mertuaku ucapkan pada anakku dan aku. Tidak seperti sapaanmu pada ponakanmu yang satunya.

Hancur hatiku saat itu. Apa salah anak ini? Apa salahku? Jika memang dari awal kalian berat mengizinkan kakakmu yang paling kalian cintai akhirnya menikah. Kenapa tidak kamu larang saja?

Tapi aku selalu berusaha tegar. Aku berusaha menjadi kakak ipar terbaik bagimu. Jika aku tidak bisa memberimu tenaga saat kamu melahirkan, setidaknya aku sudah menitipkan barang yang kuyakini kelak akan kamu butuhkan pasca lahiran sambil memastikan bahwa bayimu sudah memiliki semua barang dengan komplit.

Di hari lahir anakmu, meskipun aku tidak bisa menemanimu karena aku harus pulang kampung, aku tetap ingin memberi anakmu kado sederhana yang kuyakini akan dia butuhkan.

Meskipun aku sempat tidak menyukai caramu yang seringkali menyuruh kakakmu menjaga ibu dan kamu tanpa memikirkan kondisi rumah tangga kami sebenarnya, dalam lubuk hatiku aku tetap ingin menjadi kakak ipar terbaik bagimu supaya kamu juga tidak pernah merasa sendirian menjadi anak perempuan satu-satunya.

Biarlah rasa sayang dan peduli ini bertepuk sebelah tangan. Wajar mungkin jika ada rasa tak suka kamu pada kehadiranku dalam keluarga kalian. Aku hanya tidak ingin rumah tanggaku terkoyak karena masalah yang bukan bersumber pada kami berdua.

Biarkan aku dan kakakmu hidup mandiri. Meniti rumah tangga berdua, karena kuyakini bahwa aku mampu mengurus anak dan suamiku sendiri tanpa perlu merepotkan orang tua.

Semoga kelak kamu mampu memahami kondisiku, seiring berjalannya waktu kamu sudah menjadi ibu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya