Suatu hari, di pojok kamar dengan suasana yang sunyi aku sedang memikirkan bagaimana caranya diriku ini mengungkapkan rasa yang sudah lama terpendam kepadanya. Berawal dari pertemuan singkat disuatu acara dan kini masih berlanjut hingga sekarang. Taman kota menjadi tempat awal pertemuan kita. Pertemuan singkat yang terjadi diantara kita yang masih melekat dan tersimpan rapi di dalam memori tubuh ini.

Tepat ketika sang matahari berada di atas kepala, ku beranikan diri untuk menyapa dia. Dia berbaju merah lengkap dengan hijab hitamnya membuat wajahnya semakin manis untuk dipandang. Dengan malu-malu kuberanikan untuk menanyakan siapa nama nya dengan salah tingkah membuat diriku tampak konyol dihadapannya. "Halo siapa namamu?" Itu lah sepatah kata yang menjadi pintu awal perkenalan kita. Sekejap terdengar suara merdu yang keluar dari mulutnya dia pun menjawab" nina".

Advertisement

Sejak itulah hubungan kita menjadi lebih dekat dengan saling bertukarnya telepon genggam yang membuat kita selalu dekat. Padahal kita hanya sekedar bercanda tawa berbasa basi di sebuah telepon genggam, tapi hati ini bagai bunga ditaman yang sedang bermekaran ketika melihat notifikasi di telepon genggam mempertandakan ada pesan singkat darinya.

Kamu yang selalu menjadi penyemangatku di setiap harinya, kamu yang menjadi salah satu alasanku setiap menginjakan langkah ke kampus akankah menjadi pengisi hati yang kosong ini?

Bila kita bertemu sungguh sejuk hati ini dan bila kita tak bertemu rasa rindu selalu menghampiri. Sebutan bagaikan sayur tanpa garam mungkin sangat tepat seperti hari-hariku tanpa hadirnya kamu disisi. Diri ini menginginkan kamu selalu ada disisi untuk membuat sejuta kisah untuk diceritakan di waktu yang akan datang.

Advertisement

Lama kelaman diri ini tak mampu lagi menyembunyikan rasa sayang yang amat mendalam, ingin sekali diriku mengatakan semuanya kepadanya tapi apa daya tetap saja aku tak mampu mengatakan. Malu, malu semalu-malunya untuk menyatakankan bahwa aku sayang kepadanya.

Diriku menyadari bahwa kita tidak mungkin lebih dari teman. Ya begitulah, aku tahu kau kini sudah ada yang punya walau diseberang kota nan amat jauh di sana. Memang berat jika memendam rasa sendirian.

Tapi aku bahagia bisa dekat dengannya. Biarkan rasa ini berjalan tanpa diketahui oleh siapapun, sekaligus sang kelelawar yang berkeliaran dimalam hari. Dengan berusaha selalu membuatmu tertawa, itulah cara diri ini menyampaikan rasa sayang yang terpendam.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya