Bertahun-tahun yang lalu saya pernah sangat kecewa pada Tuhan karena saya yang berusia belasan itu merasa tak terbalas sembah sujudnya. Doa-doa yang mengalun deras sepanjang pagi hingga larut malam, yang diucapkan, yang ditulis dan yang tersimpan di hati, ternyata dibalas air mata ketika apa yang saya inginkan tidak menginginkan saya di sana.


Kenapa Tuhan?


Advertisement

Saya ingat sambil telentang mendekap handphone polyphonic sederhana yang menjadi saksi pesan masuk dari salah satu teman yang punya akses internet di rumahnya, mengabarkan sebuah berita yang tidak ingin saya dengar: nama saya tidak ada di target pertama yang saya inginkan untuk kuliah.

Seorang siswa kelas 3 SMA pasti sangat bingung ketika mencari jurusan yang tepat untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Pun begitu dengan saya. Cita-cita saya punya. Dengan fasilitas yang minim, saya berusaha keras menyeimbangkan usaha dan doa serta memohon restu sana-sini agar ikut didoakan. Saya ingat lelahnya belajar menyelesaikan soal-soal SNMPTN (sekarang disebut SBMPTN) yang kalau saya pikir-pikir lagi sekarang, bagaimana bisa saya lahap tiap hari seolah itu novel terbaru J.K. Rowling, penulis favorit saya.

Ketika yang dinanti ternyata tak sesuai harap, saya kecewa. Usaha saya tinggi. Ingat Tuhan pun saya sudah. Tapi Tuhan tak memberikan saya kesempatan yang saya inginkan. Saya protes. Satu hari itu saya tidak berdoa lagi. Saya menangis merutuki diri dan menyalahkan Tuhan untuk bersikap tidak adil pada saya.

Advertisement

Sembilan koma lima tahun setelahnya ternyata saya bersyukur pada-Nya. Untuk memberikan saya kelulusan di pilihan kedua dan menjadikan saya seperti sekarang.

Malam itu ketika saya menangis sedih sekali, esok harinya saya mengetahui nama saya ada di pilihan kedua jurusan dan universitas untuk melanjutkan studi, Walaupun tidak yakin dengan kemampuan di bidang kedua ini, tapi saya tidak boleh mengecewakan orang tua dan diri saya sendiri. Berbekal keyakinan tersebut, saya melewati kehidupan perkuliahan dengan baik dan sangat menyenangkan. Saya lupa sama sekali di malam ketika saya menyalahkan Tuhan.

Hanya saja setelah itu saya berhati-hati berdoa. Saya tidak ingin Tuhan tahu apa yang saya inginkan. Saya takut, Ia tidak akan memberikannya lagi pada saya. Pada saat itu saya masih merupakan mahasiswa program sarjana yang naif, yang kalau ujian semesteran yang penting ingat belajar dan setelahnya yang penting ingat nongkrong ke kantin sama teman-teman untuk menikmati sebotol teh hijau segar dalam botol.

Setelahnya saya akan berdoa semoga IP semester saya baik dan IPK saya lebih dari 3 ketika saya lulus. Tidak ada harapan yang muluk-muluk. Doa pun tidak terlalu ngoyo, lebih seperti whatever will be will be.

Saat itu saya belum tahu bahwa di masa depan, saya akan berterima kasih pada Tuhan atas yang diijinkannya saya untuk nikmati. Saat itu saya belum mengerti bahwa justru karena saya berdoa begitu tulus di masa lalu sehingga Ia mengabulkannya dengan cara berbeda.

Semua yang ada di dunia ini adalah milik-Nya. Ia akan memberikan kesempatan pada saya untuk memilikinya jika itu yang terbaik bagi saya dan masa depan saya. Sembila koma lima tahun lalu jika saya tidak melantunkan doa dengan ajeg dan mengaturkan ibadah terus-menerus, mungkin Tuhan akan memberikan apa yang saya inginkan, namun ternyata itu bukan yang saya perlukan di masa depan.

Butuh proses dan waktu sampai saya melihat pada kebijaksanaan keputusan Tuhan.

Sebagai anak belum dewasa yang pernah dikecewakan, selama masa-masa kecewa itu, saya mencoba menjaga hubungan yang baik dengan Sang Pencipta. Saya tidak punya tempat lain untuk mengadu, karenanya ia tetap tempat saya pulang dan berkeluh kesah tanpa takut orang lain merasa sedih atas cerita saya. Tuhan tidak langsung menjawab apapun yang saya keluhkan, itulah yang membuat saya nyaman untuk bicara dari waktu ke waktu dalam lantunan doa berbagai cara berbagai bahasa yang saya sembahkan.

Sampai akhirnya satu per satu tabir misteri itu terbuka dan kesempatan-kesempatan yang hampir tidak mungkin itu ternyata dialamatkan untuk saya. Ucapan terima kasih mulai mengalir dari mulut saya di tiap "pengaduan" saya ke Tuhan. Hanya saja, saya lupa jika saya pernah sangat kecewa pada-Nya dan bahkan sempat memboikotnya dengan tidak berdoa sekeras yang pernah saya lakukan hanya karena takut kecewa lagi.

Saya ini bukan ahli agama, doa, ayat suci, mantra, tak banyak saya hapal. Tapi lambat laun saya punya hubungan yang saya sukai dengan Tuhan. Setelah banyak hal saya pahami tentang keinginan dan kebutuhan, saya mencoba untuuk tidak takut jika harus mengadu kembali pada-Nya.

Saya terinspirasi dari kisah yang diceritakan dalam Uddhava Gita (bisa baca selengkapnya di : sini) dimana seorang murid bertanya pada Sri Krishna tentang kejadian dalam perang Mahabarata. Dikisahkan bahwa Krishna yang merupakan 'pelindung' dari Pandawa justru tidak melindungi mereka ketika pandawa kalah bermain dadu melawan Kurawa, yang mengakibatkan mereka kehilangan kerajaan. Bahkan, Drupadi, istri Sang Panca Pandawa hampir saja dilecehkan oleh orang-orang Kurawa.

Jawaban yang sangat mengejutkan diberikan Sri Krishna bahwa ia tidak bisa datang dan menyelamatkan pandawa karena ia tidak dipanggil, bahkan pandawa berdoa agar Krishna tidak mengetahui mereka sedang berjudi dan mulai kalah sehingga banyak yang dikorbankan. Lain halnya ketika Drupadi yang sudah putus asa ketika pakaiannya hendak dilucuti di depan banyak lelaki, akhirnya memanggil-Nya dan memohon lindungannya.

Maka dari itu, saya percaya bahwa Tuhan mendengar doa kita.


Ketika tidak tahu harus mengadu kemana, pulanglah pada-Nya.


Setiap kali ada berkah, pilihan sulit, kesempatan, kondisi kritis, masa lalu yang mengecewakan, pengalaman yang membelajarkan dan masa depan yang kabur, yang saya lakukan adalah kembali menyebut nama-Nya. Masih dengan berbagai cara, berbagai sebutan, berbagai doa yang tidak ada di daftar hafalan yang harus dibaca. Dalam tangis, dalam kebahagiaan, dalam bimbang, dalam kepastian, yang saya lakukan adalah menyerahkan hidup ini pada-Nya.

Dan sekali ini lagi, ketika akhirnya saya paham apa arti derai doa yang saya lakukan, tangisan di suatu malam atas apa yang saya kecewakan, dan tangisan-tangisan bahagia yang mengiringi derap langkah saya berikutnya, bukan berarti masalah hidup saya berakhir. Satu keputusan akan membawa pada akibat lain, menjadi alasan mengapa suatu reaksi datang. Usaha duniawi sudah pasti saya lakukan, tapi dalam lara dan harap, semuanya saya kembalikan pada doa.

Sekali lagi tangis tak hentinya mengalir. Sekali lagi tak ada makanan yang terasa manis. Sekali lagi yang saya inginkan hanya menangis dan menyalahkan keadaan. Hidup baru saja menjadi indah ketika tiba-tiba semuanya gelap lagi. Tentu saya tidak terima, tentu ingin memberontak dan mengirim surat keberatan pada Tuhan. Hanya saja mengingat apa yang terjadi sebelumnya, betapa banyak rahmat Tuhan pada saya,betapa besar kasih dan sayangnya, apakah saya masih pantas untuk mempertanyakan kasihnya?

Atas semua keputusan besar dalam hidup dan keputusan-keputusan lain yang berkontribusi pada keputusan lainnya, serahkan semua pada izin dan restu-Nya. Dan kali ini saya akan dengan sabar menunggu apa yang diberikan-Nya pada saya, sebagai jawaban doa-doa ini. Tidak kurang tidak lebih, saya akan ceritakan semua yang saya inginkan. Lalu menunggu hasilnya dengan sabar. Tidak akan ada protes berkepanjangan lagi, karena saya yakin ketika usaha dan doa sudah maksimal, keputusan akhir yang diberikan itulah yang terbaik.

Semoga semua makhluk berbahagia.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya