Sejarah Pitch (perusahaan virtual) yang mengglobal

Semua murid SMA yang ingin masuk ke universitas favoritnya, pasti mereka mengikuti kegiatan-kegiatan yang bisa membuat mereka masuk. Mulai dari kegiatan seperti perkumpulan, klub, hingga pelajaran-pelajaran yang berhubungan dengan jurusan yang mereka minati akan diikuti. Mereka berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik, termasuk menjadi orang-orang yang dapat dikenali oleh orang-orang dari pihak penerimaan universitas. Di sekolah swasta yang terletak di Cilandak terdapat pelajaran bernama Virtual Enterprises (VE) atau perusahaan virtual yang melatih tata usaha secara virtual. Selain memoles CV mereka, pelajaran ini mengajarkan untuk melatih kemampuan mereka dalam segi tata usaha dan keterampilan lainnya, seperti kepemimpinan, komunikasi, dan berbagai keterampilan yang berpengaruh dengan mereka.

Pada November 2016, murid diangkatan sembilan menempuh semester tiganya dan kebanyakan mengambil pelajaran bernama VE. Salah satu orang yang sukarela dan dipilih menjadi CEO atau Chief Executive Officer adalah Raymond Kim. Ia dipilih atas ide yang menurut guru dan manajemen sekolah tersebut brilian, yaitu ide yang membantu perusahaan dan pekerja untuk mempromosikan kelebihan yang miliki. Setelah ia dipilih, proses selanjutnya ia memilih bawahannya yang mendukung proses kerja perusahaan ini.

Advertisement


Pada akhirnya mereka memilih “Pitch” sebagai nama perusahaannya. Mungkin beberapa orang mengira definisi pitch sebagai bahasa Inggrisnya nada. Namun, dalam konteks ini pitch memiliki arti “untuk meyakinkan orang lain untuk membeli atau menerima sesuatu.” Istilah tersebut digunakan sebagai nama perusahaan yang dipimpin oleh Raymond Kim.


Pada tanggal 23 Januari 2018, saya mendapat kesempatan untuk mewawancara Raymond Kim dan berdiskusi mengenai sejarah yang ia lalui selama ia menjabat menjadi CEO. Mengawali wawancara saya bertanya kepadanya, “Apa yang mendasari atau konsep-konsep Pitch?

Di lapangan hijau yang cukup ramai dan bising ia menjawab, “Jadinya itu, zaman sekarang banyak startup companies (perusahaan kecil) yang tidak berhasil untuk sukses, karena (mereka) tidak mendapat traffic customer yang cukup. Oleh sebab itu, kita membuat Pitch, saya mengusulkan ide Pitch untuk menjadi suatu company agar semua company-company kecil tersebut bisa dibuat menjadi lebih sukses dan mendapat traffic yang mereka perlukan.

Advertisement

Setelah ia menjawab, saya ingat bahwa saat ia mulai menjabat menjadi CEO, ia memiliki ide yang berbeda dengan perusahaan yang ia jalani, saya tanya “Apa yang membedakan konsep awal Anda dengan konsep yang Anda jalankan untuk nama Pitch?


“Pitch itu pada dasarnya ingin dibuat tak hanya untuk company-company yang baru mulai, tetapi untuk para pekerja ingin mencari lowongan kerja juga.” ujarnya. Ia berhenti sejenak dan lanjut berbicara, “Tetapi saat kita menjalankan, Pitch itu difokuskan untuk hanya untuk company-company yang baru dibangun.”


Saat wawancara, ada rasa penasaran yang muncul mengenai perbedaan konsep dengan penerapannya, saya tanya, “Apakah Anda kecewa atas perbedaan tersebut?” Melihat dari wajahnya ia berpikir sebentar, dan ia menjawab dengan kalimat “Saya kecewa tidak,” ia lanjut, “Karena dengan adanya fokus pada suatu segmen di market, kita dapat membuat company lebih sukses dan lebih gampang untuk mencari target market kita.”

Rasa tidak kecewa atas perubahan direksi dari seorang pelopor merupakan hal yang cukup sulit, namun dengan kesabaran dan kendali seorang pemimpin mampu menyetujui, bahkan mengambil alih kembali ke direksi yang baru. Konsep dan pengaplikasiannya sudah cukup jelas bagi saya. Saya bertanya lagi ke Raymond mengenai kendala yang ia lalui, “Menurut observasi saya, Pitch VE kurang sukses ketimbang (perusahaan) VE lainnya. Mengapa begitu?”

Secara defensif ia menjawab, “Sebenarnya dalam segi pendapatan Pitch itu sangat sukses. Tapi dalam segi kolaborasi Pitch agak dikit guncang, karena chemistry yang dimiliki students dalam Pitch tersebut agak dikit kurang, banyak sekali orang yang memiliki ego masing-masing, sangat sulit untuk mengatur para employee dan tim. Hanya beberapa yang berdedikasi ke dalam company tersebut.” Untuk mengakhiri wawancara saya bertanya kepadanya mengenai salah satu momen tersulit pada jabatan menjadi CEO, “Dengar-dengar terjadi perombakan VP (Vice President) menjadi employee, dan sebaliknya. Hal itu mengapa terjadi?”


Ia tampaknya sudah siap menjawab, “Karena saat company kita sudah berjalan, kita melihat dua VP kita mulai menurun performanya, menjadi cukup malas dan tidak mencapai goal-goal company kita, kita harus menurunkan dan menggantikan dengan tim yang lebih baru dan lebih capable of the task. Tetapi pada akhirnya kita tidak dapat membuat Pitch tenar dari ekspetasi kita, gara-gara kita mengganti VP-nya agak dikit telat.”


Itulah sejarah Pitch VE. Selama satu tahun para murid SMA kelas 2 mendapatkan pengalaman baru. Sejarah dari sudut pandang pemimpin yang melihat perusahaannya sukses, walaupun terjadi beberapa rintangan dan masalah. Perusahaan ini bukanlah yang paling kompak maupun yang memenangi banyak penghargaan, tapi terjadi dinamika dari murid yang tidak memiliki keterampilan hingga dapat menjadi pemimpin yang mandiri. Bahkan semua rintangan yang dialami merupakan sebuah pembelajaran dan penambah wawasan untuk masa depan mereka.


Seseorang yang berada di sejarah dan mampu untuk move on juga belajar dari kesalahannya adalah orang-orang yang pandai untuk beradaptasi. Mereka adalah orang-orang yang mampu berubah berdasarkan kemauan masa depan.


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya