Seribu delapan puluh hari, lama ya. Eh tidak cepat ya. Hari demi hari yang datang yang pergi semua berlalu bukan?


Kau tahu banyak cerita yang kelak ingin ku ocehkan tiada henti, kau mengenalku dengan baik kan? Tiap kata tanpa jeda. Kau tak lelah kan? Kau perlu tahu banyak yang ingin kubagi, kau mau? Jika tidak ku getok kau hahaha. Tidak, aku tahu apa yang harus ku lakukan tanpamu, ya tanpamu. Bukankah sudah ku buktikan seribu delapan puluh hari ini?

Advertisement

Tetapi kenapa malam ini berbeda? Ah aku benci, sekali lagi aku tersesat dalam ruang-ruang yang kau cipta. Jangankan melepas penat diam saja sudah tak kau izinkan. Senyum yang dulu sebagai obat kini berubah jadi racun yang manis. Rasamu perlahan hilang, ah bukan rasamu berlari hilang saat aku tertatih kamu sudah di persimpangan. Persimpangan yang semakin membuat kita tak lagi jadi kita. Kini ku tak mampu lagi membaca matamu, mendengar bisikmu ruang yang kau cipta begitu jahat.

Tak ada lagi rindu dendang yang dulu jadi teman. Senandung hati yang biasa menjadi dendang mencair, kelopak mataku basah hening malam di ruang ini sungguh menyiksa. Bayang-bayangmu dibatas senja tadi berhasil mengacaukan malam ini. Malam yang biasanya sudah biasa saja. Dekapmu tak lagi ku rindu, bisikmu sudah tak ku ingat, dalam hati namamu tak lagi seperti saat dulu yang begitu ku spesialkan karena getaran yang tercipta hanya dari bisikmu.


“Aku mencintaimu selamannya.”


Advertisement

Kau tahu sekarang aku benci rangkaian kata ini dan sebabnya adalah sebab yang sama kenapa dulu aku amat menyukainya, ya sama-sama dari bisikmu. Aku tak pernah pergi, ya karena memang kau yang pergi hehehe. Setegas apapun aku, sekuat apapun aku, kau tetap pergi bukan? Naskah yang ku tulis basah seiring dengan langkah kakimu, naskah yang tadinya inginku bagi kisahnya denganmu harus kutulis sendiri, tanpa namamu yang sebelumnya inginku jadikan pemeran utamanya.

Tapi kau lihat dengan satu hapusan di takdir yang Tuhan buat aku harus menghapus seluruh mimpiku tentang kita. Tuhan tidak adil ya? Hahaha bukan aku saja yang belum mengerti alurnya.

Pernah lihat bintang bersinar putih yang penuh semangat? Kau tahu dia sedang tersenyum padamu dan berbisik bahwa kau tak sendirian. Bukan, bukan ini. Bukan untukmu ini untukku. Karena nyatanya sekarang kamu memang tak lagi sendirian bukan?

Pagi ini ku lihat kaca dan menerka-nerka seberapa bodohnya malam tadi. Jendela yang ku biarkan terbuka sejak malam mengganti tampilannya sendiri, langit yang luas, matahari pagi yang hangat memanggil tawaku, memanggil senyumku. Tuhan memberitahuku dengan cara paling sempurna untuk tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Bohong bila ku bilang tidak sepi. Ya memang sepi handphone yang biasa terdapat inbox, tak terhitung sekarang juga tak terhitung bedanya dari grup sebelah heuh hmmmm :(

Wanita selalu punya caranya sendiri untuk memberi charger energinya sendiri, nanti kelak akan ada satu masa di mana kita akan bertemu kembali, di suatu tempat dengan takdir Tuhan mungkin bukanlah sebagai kita tapi sebagai aku ya aku dan kamu sebagai ya kamu. Dan ku berjanji satu hal kau akan tersenyum dengan apa yang kau lihat di diriku, bukan senyum penyesalan tapi senyum bangga bahwa wanita yang dulu kamu biarkan lebih hebat tanpamu. Ya kan? Ya dong hihihi dan terakhir ku bisikan pada bumi semoga kau bahagia :)

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya