“Bisakah kau sampaikan salam ku kepada tuhan mu, bahwa aku benar-benar mengagumi ciptaannya yang satu ini. Katakan juga kepadanya bahwa dirimu adalah salah satu karya yang benar-benar membuatku tergila-gila akan keagungannya. Serta sampaikan juga rasa Terimakasih-ku yang sebesar-sebesarnya kepada dirinya, karena telah menciptakan wanita muslimah yang benar-benar menawan luar dan dalam. Walau diriku tak bisa memiliki ciptaannya yang satu ini, aku sudah merasa bahagia walau hanya sekadar memandang wajahnya yang bersinar karena terbasuh air wudhu duha dan tahajud.”


Hari minggu yang begitu cerah, secerah wajah wanita muslimah yang telah kulihat pagi itu. Seorang wanita muslimah yang mengenakan hijab itu lewat di depan gereja tempat ibadah ku memuji segala keagungan yesus kristus. Ia lewat, aromanya sungguh seperti bau surga yang tak pernah mampu terlukiskan oleh tangan manusia dan tak mampu dijangkau oleh imajinasi manusia.

Advertisement

Minggu depannya lagi, ia kembali lagi melewati gereja tempat ibadah ku. Wajahnya yang merona membuatku terhenti menyanyikan lagu-lagu pujian terhadap sang kristus. Ia menawan, dari jauh pun sudah bisa membuat ku berpaling begitu lama darinya. Sontak, aku kembali tersadar dari lamunanku ketika pastor memukul kepalaku karena terlalu lama mengabaikan alkitab.

Minggunya lagi ia kembali hadir. Seperti biasa dengan gaun indah di baluti oleh hijab yang menutupi seluruh raganya. Meskipun seluruh raganya terlapisi oleh kain, aroma kecantikannya sama sekali tidak pudar, ia tetap mirip bidadari dari kayangan. Andai pagi itu ada pelangi, maka lengkaplah dugaan ku kalau ia adalah memang benar-benar seorang bidadari yang sedang bersinggah di bumi ini.

Minggu berikutnya, ada hal yang sangat berbeda terjadi. Sampai lima kali lagu pujian kristus ku lantunkan, tak ada sama sekali wajahnya yang muncul. Bayangan raganya bahkan tak muncul lagi. Hari ini cuaca masih sama dengan minggu sebelumnya, mentari juga tetap tersenyum seperti sedia kala, bahkan burung gereja pun masih tetap bersiul menyambut pagi yang begitu indah. Namun mengapa ia tak melawati jalanan ini lagi? Apakah ia melawati jalan yang lain? Atau mungkin sedang jatuh sakit? Ah… segera ku hilangkan semua hal-hal buruk itu. Dia baik-baik saja tukas ku dalam hati. Doa-doa pujian ku sedikit meleset, karena namanya ikut tersebut di dalam ayat pujian doa yang sedang ku lantunkan. Lantas kemudian memohon ampun kepada yesus kristus, karena telah salah memanjatkan doa kepadanya. Aku yakin yesus tak marah, ia selalu memaafkan. Itulah alasan mengapa aku begitu mencintainya.

Advertisement

Setelah pagi itu selesai menjalankan tugasku sebagai umat nasrani, ku cium patung yesus itu dan segera menjinjing kakiku untuk segera keluar dari gereja. Aku ingin segera keluar, karena otak ku telah memberontak untuk segera mencari gadis yang selama ini selalu lewat di depan gereja. Aku harus mencari keberadaannya.

Sambil memegang kalung salib di leherku, ku telusuri jalanan rumput yang ada di hadapanku. Rumput itu basah, ada embun juga dibalik daun-daunnya. Daun-daun menguning yang begitu indah, bukan karena layu namun karena ingin segera menjelma menjadi daun-daunan yang lebih indah dan memesona. Setelah berjalan beberapa lama, sampailah kakiku di depan rumah yang begitu banyak anak-anak kecil sedang melantunkan ayat-ayat suci, aku yakin itu lantunan alquran. Kulihat wajahnya dari kejauhan, luar biasa…. Wajahnya masih tetap bersinar.


Jika ku bandingkan dengan cahaya rembulan, mungkin rembulan akan cemburu dengan jawabanku. Sungguh, wajahnya begitu cerah dan menyejukkan. Mataku sangat lama tak berkedip karena memandangnya. Suaranya melantunkan ayat suci alquran begitu indah dan merdu. Hatiku bergetar, namun salib yang ku kalungi semakin erat ku pegang. Salib itu ku cium dengan erat, seketika hatiku menjadi sangat tenteram. Ia sungguh wanita muslimah yang luar biasa. Yesus juga pasti akan setuju dengan selera ku.


Yesus…

Aku tahu betul, ia akan mustahil menjadi milikku. Ia diciptakan untuk orang lain bukan untuk diriku. Dan aku sudah paham itu semua. Namun, izinkan aku untuk bisa memendam rasa kepadanya, walaupun itu semua tak akan mungkin tersampaikan. Aku ikhlas tak memilikinya, namun mohon izinkan diriku untuk tetap menyebut namanya di sela-sela pujianku kepadamu sebagai obat rindu dan cintaku kepadanya.

Ia wanita muslimah idaman semua pria. Ia pasti akan mencari lelaki yang benar-benar memiliki keimanan yang kuat, dan pastinya tak memiliki kalung salib di lehernya. Aku ikhlas melepasnya, karena cintaku kepada yesus tak akan mungkin ku korbankan hanya demi keindahan dan kenikmatan dunia semata. Ia memang sungguh menawan, parasnya yang menawan bahkan mampu menggetarkan imanku.


Namun, aku sudah tersadar jauh-jauh hari sebelumnya, bahwa kami tak mungkin bersama dalam ikatan cincin perkawinan di kemudian hari. Kita tak mungkin menjalin janji suci dengan tuhan yang berbeda. Kalung salib yang kupakai, tak akan mungkin menyatu dengan untaian tasbih yang selalu kau pegang.


Aku memang mencintai paras wajah dan keindahan hatinya. Namun, biarkanlah diriku hanya mengaguminya dalam diam. Mencintai dan mengagumi memang terkadang tak harus memeluk raganya, namun mencintai yang hakiki justru terletak pada seberapa besar pengorbanan kita untuk mampu melepaskannya di tengah-tengah kecamuk hati yang sedang mencintainya. Tuhanku tak boleh murka, begitu pula dengan tuhanmu. Kita telah memiliki jalannya masing-masing, tak ada jalan tengah untuk bisa menyatu, selamanya kita akan tetap berbeda. Engkau adalah bidadari ku, namun hanya untuk dinikmati dari luar semata. Izinkan mataku ini untuk bisa menikmati pemandangan dari paras mu yang terselimuti jilbab yang menawan itu.

Wahai wanita berhijab. Terimakasih karena telah hadir dalam hidupku. Aku memang tak bisa mencintaimu seutuhnya. Kalung salib yang telah ku pakai sejak lahir tak akan mungkin ku lepaskan untuk memeluk dirimu dengan tulus. Walau ku tahu diriku benar-benar mencintai dirimu, namun raga ini harus benar-benar ku jaga agar tak keluar dari batasan yang sudah di tentukan. Yesus memang tak akan marah karena telah mencinta mu, namun orang-orang di luar sana pasti akan menghujat ku dengan penuh kebencian.


Cinta memang tak selamanya harus memiliki. Maka itu semua sudah sangat tepat dengan kondisi ku saat ini. Aku tak harus memiliki raga mu seutuhnya. Melihat mu tersenyum dan tertawa walau dari jauh saja sudah merupakan kenikmatan yang tak terhingga dari yang maha kuasa. Tetaplah berhijab, karena di sanalah letak titik utama ku mengagumi mu dalam diam. Walau hanya sebatas diam dan membeku di bangku yang akan segera lumpuh ini.


Salib ini akan tetap menempel di dadaku, hingga raga ku mencium tanah yang merupakan tempat tinggal terakhir ku. Kelak, yesus pasti akan memberikan penggantinya. Jika kelak kita berjumpa di alam akhirat, jangan lupa untuk memberikan senyum manis mu kepadaku, walau itu hanya sedikit guratan bibir.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya