Ketika lulus dari sekolah menengah, Ibu memintaku untuk melanjutkan studiku ke pendidikan tinggi. Alasannya, ibu ingin sekali mengikuti proses wisuda yang dulu tidak bisa ia rasakan ketika muda. Ibu ingin melihat manusia berjubah hitam bertopikan segi lima tersenyum dan berjalan dengan kepala tegak ketika namanya dipanggil ke panggung wisuda.

Sampai disemester akhir, tekanan, beban, dan rumitnya mendapatkan status lulus serta jarak antara ibu dan aku seakan membuat bumi berhenti berotasi. Gaya gravitasi seakan melebihi 9.8 m2/s, membuat semuanya terasa berat dan melambat. Tapi bu, aku ingat ketika kau ingin sekali mengikuti acara wisuda. Sampai di titik ini, aku masih dan mampu mempertahankan nilai cumlaude-ku. Aku ingin kau berada di kursi terdepan agar tidak ada yang menghalangimu melihat bahagiaku.

Advertisement

Tapi Bu, tapi Bu, tapi..

Kata “tapi” ini seakan tak mampu ku sambung Bu, habis pikirku.

Kau pergi sebelum aku menyelesaikan studiku, seakan perjuangan selama ini runtuh ketika mendengar kalimat “innalillahi waa inna ilaihi roji”un” dari kakak via telpon. Kenapa kau menemui Tuhan begitu cepat? Ibu jahat.

Advertisement

Detik berganti menit, menit mengejar jam, 2 bulan berlalu tanpamu terasa seperti 2 abad lamanya.

Bu, aku masih dendam pada pergimu. Dendam ini membuat ku terus bergerak, menyelesaikan studiku, dan berkompetisi merebut satu kursi terdepan untukmu.

Benar saja bu, tepat hari ini aku akan diberi gelar sarjana. Sedari shubuh mahasiswa dan orangtuanya sudah berada di depan gedung wisuda, mereka saling berbincang-bincang dan tersenyum begitu lepas. Aku juga tersenyum Bu, bedanya aku tak punya teman berbicara.

Kursi-kursi mulai terisi penuh, satu persatu nama wisudawan dan wisudawati dipanggil naik ke panggung. Sampai namaku tiba, kursi terdepan yang ku perjuangkan selama 4 tahun tak punya tuannya. Kau tak ada Bu.

Hari wisuda ini ku sebut hari cemburu sedunia.

Aku cemburu melihat mereka diberi ucapan selamat oleh Ibunya. Aku cemburu ketika mereka berfoto merangkul ibunya. Aku cemburu Bu. Tak bisakah kau meminta izin 1 jam saja kepada Tuhan untuk datang di wisudaku?

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya