Pada hakikatnya sejak tahun 1945, kita-Bangsa Indonesia sudah dibebaskan dari segala jenis perbudakan. Perbudakan tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan Hak Asasi Manusia. Termasuk dalam ranah adaptasi perilaku. Adaptasi yang tanpa henti termasuk dalam konteks percintaan dan prostitusi perasaan (lah..), tetap tidak boleh membuat satu orang mendominasi satu orang lainnya.

Sayang 1000 sayang (kebanyakan sayang-sayang tapi tidak diajak serius ya gitu deh jadinya), tahun belakangan begitu lantang isu percintaan jaman now, konon meresahkan dan mampu membuat individu menjadi individu maladaptif. Isu tersebut adalah "bucin", budak cinta.

Kok serem ya? Konon urban legend satu ini memang cukup maut. Bersaing dengan epidemi bakteri dan prevalensi gangguan mental lainnya, "bucin" sangatlah berbahaya. Seorang individu adaptif hingga rela meninggalkan banyak hal demi mencapai komitmen semu nan belum matang. Tidak sesekali, berakhir tragis.

Tentu dalam konstelasi pergaulan sosial zaman now, yang dipengaruhi aktor non-negara dan kejahatan transnasional, "bucin" adalah sesuatu yang mengerikan. Apakah kita berdiam diri? Tidak! Memantaskan diri? Ntar dulu woy! "Bucin" adalah hal yang wajib dicermati saat rasa suka beranjak menjadi keakraban mediokre antar dua jenis kelamin berbeda.

Budak cinta adalah satu terminologi yang masih ambigu dan belum memiliki batasan-batasan. Kebetulan sih prevalensi (BEGH! Diduga penulis masih seleksi beasiswa saat merilis tulisan.. agak kecampur ya antara motivational letter sama narasi) masih berlangsung di pada rentang usia 21+. Prevalensi tersebut cukup normal, mengingat mengingat poin-poin dibawah akan menjelaskan lebih detil.

Berikut adalah hal-hal yang perlu dipahami, batas-batas dalam berhubungan sesuai umur.

Usia pra-remaja

Bingung sama kids zaman now. Ketulusan mereka memandang apapun disalahgunakan dan berhasil dipelintir oleh narasi-narasi keliru tentang anak-anak. Tugas anak-anak sejatinya hanyalah bermain. Bukan bermain perasaan, seperti kakak-kakaknya lakukan (eh..). Ketulusan adik-adik usia pra-remaja baiknya diarahkan kepada pengenalan emosi dan afeksi yang layak. Ajarkan kebaikan, ketulusan, dan pahami ketika ada kesalahan bisa diperbaiki. Guna mencegah potensi "bucin" di tahap perkembangan selanjutnya.

Usia remaja

Remaja zaman now, dengan akses yang mudah kepada banyak hal juga tidak sengaja menarik diri kepada keadaan cinta yang terlalu rumit, tidak sesuai usia-nya. Tahap kognitif alias pemikiran remaja pada tahap ideal perlu distimulasi dengan layak-guna mencegah menjadi potensi "bucin" pada tahap perkembangan selanjutnya. Tahap ideal tersebut perlu diisi dengan konsep hubungan antar individu yang sehat dan proses adaptasi sesuai rentang usia. Pada usia remaja, percintaan sebatas bumbu, bukan menjadi fokus utama. Seperti pra-remaja yang tugasnya adalah bermain. Salah satu tugas remaja adalah keseimbangan antara konsep ideal dan faktual. Maka seimbangkan terlebih dahulu.

Usia dewasa

Tentunya prevalensi "bucin" paling mudah ditemukan pada usia dewasa. Usia produktif dan matang secara fisik dan mental. Hal ini termasuk tugas dewasa juga membina hubungan antar individu dan mulai berkomitmen untuk bereproduksi. Dewasa sudah memiliki banyak bekal untuk menghindarkan diri dari predikat "bucin". Namun dalam keseharian, karena dorongan alami dan ketakutan akan kesendirian.. mendorong dewasa menjadi "bucin" (terdengar bunyi petir sahut-menyahut). Dewasa perlu menyadari prioritas. Tidak perlu terburu-buru apalagi merasa terbebani dengan pertanyaan pamungkas tanpa intensi apapun yang dilontarkan setiap saat :


Kapan nikah?


Tidak..tidak.. tidak peduli dewasa masih full price, diskon 25% atau buy one get one. Tidak satupun kategori tersebut menjadi alasan seorang dewasa zaman now menjadi budak cinta. Para dewasa tentu sudah mampu membuat prioritas. Silakan dibuat prioritas kehidupan. Lihat apakah percintaan adalah prioritas utama atau prioritas sekunder atau tersier? Niscaya, membuat prioritas ini akan menghindarkan para dewasa menjadi oknum "bucin".

Demikian tentang "bucin". Budak cinta terjadi bukan karena niat dari pelaku, melainkan karena ada waktu dan kesempatan. Waspadalah! Waspadalah! (lho kok jadi Bang Napi?).

Disclaimer :

Artikel ini hanya untuk hiburan semata. Jika memang ditemukan teman kalian yang bucin..

Kabari penulis, siapa tahu jadi artikel lanjutan :p.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya