Aku memanggilnya senja karena ia begitu menawan dan memesona. Namun, seperti senja ia hanya sesaat. Aku memanggilnya senja, karenanya siang berganti malam begitu indah. Namun seperti senja, keindahannya hanya bisa kunikmati untuk sesaat. Aku memanggilnya senja, karenaku jatuh cinta padanya. Senja aku jatuh cinta padamu.

***

Advertisement

Jantungku masih berdebar sedari tadi. Aku tak mampu menahannya. Aku terlalu takut untuk bicara, terlalu takut unuk memulai sebuah kata. Aku hanya berani menatapnya, bukan tapi bayangannya. Aku takut, sedangkan dia terlihat tenang, sungguh tenang.

“Apa yang ingin kamu katakan?” tanyanya tiba-tiba.

“Aku nggak tau lagi..,” jawabku singkat terkaget.

Advertisement


Aku tidak bisa seperti ini, aku terlalu mencintaimu senja. Namun apa dayaku, seperti siti Nurbaya kau dulu bilang. Ya itu yang kurasa, aku Siti Nurbaya zaman saat ini. Dan aku terlalu takut karena harus seperti ini. Aku hanya bisa menyampaikan lewat hatiku, lewat batinku, dan kuharap engkau mengerti.


***

Desiran angin pantai sangat menyenangkan. Di sini aku merasa bebas, di sini aku jatuh cinta padaya, pada senja. Aku takut ketinggian, namun entah apa yang memberanikan diriku untuk mengikuti dia menaiki mercusuar itu. Di sanalah aku jatuh cinta pada senja.

“Aku tak tahu perasaanku padamu, tapi ini kesalahan.” Lelaki ini tidak memandang mataku dan hanya melihat jauh kearah laut.

“Maksudnya?” tanyaku padanya.

“Akh., entalah,”

“Bisakan kamu jelasin ke aku?” pintaku.

“Sepertinya aku suka padamu, tapi ini sebuah kesalahan,” jawabnya. “Mungkin..,” sambungnya.


Aku tak peduli perasaanmu padaku adalah kesalahan. Aku tak peduli apapun itu, yang kupedulikan aku jatuh hati padamu, Senja. Caramu tersenyum, caramu berbicara bahkan caramu memandangku, aku suka. Aku tak peduli ini sebuah kesalahan, aku hanya peduli tentangku padamu, Senja.


***

“Kamu tahu dan aku juga. Bukan aku yang tak bisa melepas genggaman, tapi kamu tak ingin genggaman kita terlepas. Tapi kita juga sama-sama tahu, telah ada yang mengikatmu melebihi genggamanku,” dia mengatakannya sambil menatap dan tersenyum padaku.


Senja, kamu tau dan akupun juga tahu, saat ini aku hanya jatuh cinta padamu. Aku tak peduli dengan ikatan apapun itu. Aku hanya ingin gengaman tanganmu, kait erat jemarimu. Senja, aku hanya peduli padamu, aku tahu sungguh egois. Tapi hanya itu yang kuinginkan.


“Kini saatnya kamu melepas genggaman kita, dan kamu seharusnya tahu sejak kapan kamu harus melepasnya. Yaitu saat kamu memilih jalan yang hendak kamu tapaki. Saat ini setelah aku dan kamu beranjak dari tempat ini, kita sudah memiliki jalan yang berbeda, aku akan bahagia dengan jalanku dan aku berharap kamu juga,” sambungnya menyakinkanku.

Gerimis bulan Desember. Aku selalu menyukainya, namun tidak gerimis bulan Desember kali ini, seperti ada rasa benci dan sesal bersamanya. Gerimis bulan esember, engkau membuatku patah hati.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya