Bunga Taman Sebelah

Matahari yang bersinar cerah menghangatkan kami untuk terus bertumbuh

           Rumah berwarna-warni. Kawanan serangga bergerombol di sekitarnya. Aroma manis nektar terbawa angin hingga taman sebelah. Aku bisa bayangkan betapa manisnya nektar itu. Betapa berserinya mereka para penyambut—setelah sekian waktu menunggu untuk saling menjamu. Mungkin aku akan berkunjung ke sana—beberapa waktu lagi. Untuk sementara, aku harus sudah puas dengan dedaunan hijau ini.

            Ibu pandai dalam berkebun. Bagaikan anak, ia seperti memberi susu dan mentega pada semua tanaman miliknya. Berharap mutiara mereka akan bersinar lebih indah dan menyilaukan dari tanaman di taman manapun. Aku tersenyum setiap kali belalai gajah itu menyemburkan air. Tanaman itu menari-nari gembira. Dan perlahan kelopak yang menguncup terbuka menampilkan sang mahkota.

            Cuaca hari ini sangat panas. Salah satu dari kami tiba-tiba mengisi hening.

            Ya, benar, meski sudah berlindung di tempat seteduh ini pun rasanya seperti akan segera ganti kulit, saut lainnya.

            Kapan musim ganti kulit akan datang?

            Entahlah, aku melupakan semuanya saat cuaca sepanas ini, ini begitu menusuk. Aku tersenyum diam. Tidak salah dengan apa yang mereka katakan. Cuaca panas ini seperti akan mempercepat siklus kami. Aku rasa kami juga butuh susu dan mentega itu.

            Siang pun berlalu. Bulan bertukar tempat dengan matahari. Udara menjadi lebih sejuk. Gerutu itu pun menghilang perlahan seperti tidak pernah terjadi. Aku menikmati makananku. Daun hijau yang menyegarkan. Di tengah itu, tiba-tiba ada seekor kupu-kupu melintas. Aku melongo. Indahnya, begitu pikirku dalam hati. Ukiran dan warna sayap itu tetap terlihat cantik di tengah malam yang gelap. Di bawah pantulan sinar bulan.

            Aku masih menguyah dan mataku masih terpaku pada kupu-kupu yang sedang menari-nari di angkasa itu. Sangat bebas. Aku rasa dia tersenyum. Sungguh, aku harus segera berganti kulit. Tekatku tiba-tiba menguat dan kesabaranku menipis.

            Hai kupu-kupu! panggilku berteriak. Ia masih terbang. Mungkin tidak dengar. Lalu kuulangi beberapa kali.

            Ada apa? Ia akhirnya menghampiriku. Aku terkejut betapa besarnya sosok di depanku itu.

            Apa kamu dari taman sebelah? tanyaku langsung pada intinya dengan wajah berseri.

            Ya.

Bagaimana di sana? Aku sangat penasaran.

            Hm? Kamu harus lihat sendiri, jawabnya lalu kembali terbang. Sebelum menghilang di balik tembok tinggi itu ia melambaikan sayapnya padaku.

            Ya, harus kulihat sendiri. Akan kulihat sendiri, ucapku pasti.

            Malam semakin larut. Suara jangkrik sudah mulai bersautan. Semua kawanku telah menemukan tempat mereka untuk tidur. Aku juga sudah berada di posisi terbaik untuk memintal mimpi. Aku harap mimpiku malam ini tentang bunga di taman sebelah. Bersama semua kawanku mencoba setiap nektar. Memberi nilai dan peringkat. Kritik jika perlu. Itu sepertinya akan menyenangkan. Bibirku mengukir senyum lembut. Dan perlahan warna langit menjadi semakin pekat.

            Pagi ini suara pancuran air dari belalai yang sama membangunkanku. Tapi, tidak dengan wajah yang sama. Ia tampak lebih muda. Meski terlihat mirip, perlakuannya berbeda. Tidak seperti biasanya, ia hanya menyiram seakan yang penting tugasnya selesai. Tidak mencium wewangian bunga yang mulai mekar. Tidak juga  menikmati keindahan yang telah dipupuk oleh ibunya. Ia orang yang berbeda.

            Taman terasa lebih sepi. Aku dan kawananku beraktivitas seperti biasanya. Sesekali aku lihat kupu-kupu yang terbang dari taman sebelah. Cantik. Hanya itu yang terlintas. Mereka tumbuh dengan sangat baik. Kami pun akan seperti itu.

            Apa kalian lihat anak itu? Aku bergabung dalam percakapan ini.

            Ya, sama sekali tidak bersemangat.

            Kemana ibu? tanyaku.

            Kemarin aku lihat benda besar membawanya pergi. Meski malam, warna putihmya itu membuatnya bersinar.

            Tapi kita aman jika tidak ada ibu itu. Bisa-bisa kita diracuni setelah melihat beberapa lubang pada daun-daun segar miliknya itu.

            Tidak salah, meski aku sedikit meragukan anak itu.

            Benar, jangan sampai banyak yang mati karena anak itu tidak bersungguh-sungguh.

            Kami berdiskusi cukup panjang. Terik matahari kembali menyengat kulit. Kami masing-masing berteduh di dedaunan rindang. Meski mulai berpola semua masih kebagian tempat. Musim kali ini kami cukup banyak mengumpulkan pasukan. Terlebih lagi ibu yang tak kunjung terlihat meski sudah lewat beberapa hari.

Tanaman tetap subuh—sepertinya. Banyak luka. Tapi tetap terlihat segar. Sepertinya anak itu tidak seburuk yang kami pikirkan. Ia mulai memberi susu dan mentega pada tanaman ini juga. Tidak hanya air yang terkadang hangat setelah setengah hari ia jemur. Meski rerumputian di sekitar sini mulai meninggi.

Tidak lama lagi masuk musim ganti kulit. Semua sudah tidak sabar. Beberapa dari kami berkumpul. Menyimpan tempat terbaik untuk masa hibernasi. Aku juga sudah jarang melihat kupu-kupu terbang di langit-langit taman. Mereka seperti sudah merantau dan menemukan tempat yang bagus hingga tidak terbesit untuk kembali.

Aku terus membayangkan bagaimana wujudku. Seberapa besar. Seberapa indah ukiran itu. Seberapa kuat dorongan angin yang bisa kuciptakan. Seberapa jauh aku bisa pergi. Seberapa manis nektar bunga taman sebelah.

Apa kalian sudah siap? tanya seorang tetua dari kami.

Ya, jawab kami serentak. Tidak banyak yang perlu disiapkan karena ini bukan pertempuran dengan musim dingin. Ini hanya masa ganti kulit.

Hari ini adalah hari ke-14 ku sebagai makhluk hijau melata yang membuat orang menjadi pembunuh bersenjata sandal saat melihatku. Fakta ini aku lihat sendiri di hariku yang ke-5. Beberapa dari kami yang nekat memanjat dinding demi melihat bunga dengan nektar manis itu berakhir tragis di bawah sandal ibu. Atau lebih seringnya pria tua yang selalu sigap memegang sandal saat ada yang berteriak dengan menunjuk seakan menusuk hingga hati terdalam kami.

Hari ke-17. Selamat tinggal dunia untuk sementara, ucapku sebelum masih dalam dunia hibernasiku.

1 hari. 3 hari. 6 hari. 10 hari. Akhirnya tiba saatnya aku untuk melakukan debutku. Aku menggerakkan tubuhku. Berusaha merobek bungkusan tipis yang mengering melilitku. Sruk. Sedikit demi sedikit terbuka. Aku mengeluarkan sayapku, badanku dan kaki kecilku. Aku berdiri menempel pada bungkusan itu. Perlahan aku merenggangkan otot-otot sayapku.

Aku sangat senang. Tersenyum sangat lebar—entah ada yang bisa melihatnya atau tidak. Aku bisa merasakan sesuatu di punggungku. Seperti tangan lain selain kaki-kaki kecil ini. Aku melebarkannya lalu mulai mengepak. Mataku melihat langit biru. Cuaca hari ini sangat bagus. Sedikit aba-aba dan aku terbang. Aku pergi mengejar langit biru itu dan sesekali melihat ke daratan.

Mereka juga sudah mekar rupanya, pantas saja aroma manis ini menyerbak, ucapku tersenyum hangat. Dan ini saatnya untuk melihat taman sebelah. Aku menoleh. Mataku bergetar.

Apa ini? aku tidak melihat satu pun bunga yang mekar. Bahkan tidak ada tanaman di sana. Rumah itu… kosong.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis