Menikah adalah momen yang ditunggu saat bujang dulu, tapi kini setelah menikah, mempunyai buah hati adalah hal yang paling ditunggu. Menjadi calon ayah dan ibu muda, sungguh menjadi pengalaman yang berharga.

Bagi para ibu muda seperti kita yang berusia masih produktif, menjadi tantangan tersendiri. Terbesit banyak hal yang menjadi pertimbangan. Perasaan nano-nano menjadi hal yang sangat di tunggu, sebut saja membayangkan si baby lahir dengan jenis kelamin lelaki atau perempuan membuat excited untuk membeli perlengkapan bayi. Memikirnan nama-nama lucu buat si adek bayi, menyiapakan kamar tidur yang nyaman sesuai karakter kesukaan. Ah, itu menjadi momen yang sangat menyenangkan.

Advertisement

Di balik itu semua, ada pula yang kita pikirkan, mulai dari tahapan hamil yang membuat kia merasa tak nyaman, mual berkepanjangan, ukuran badan yang berubah, mood dan keinginan yang kadang bertolak belakang, ditambah lagi hal-hal sepele yang kadang menjadi pemicu pertengkaran. Ingin melahirkan dengan cara apa, seperti apa, dokter mana, rumah sakit apa, dan lain sebagainya.

Lagi lagi ada hal lain yang jadi pikiran bagi bumil muda. Zaman yang sudah milennial seperti ini bagaiamana cara mendidik buah hati dengan baik, penuh kasih sayang tapi bukan kemanjaan, ketegasan tapi bukan dengan cara kasar, disiplin tapi tidak mendoktrin, memberi peluang tapi tidak mengkekang, membukakan jalan tapi tetap membebaskan eksplorasi diri, menjadi ibu muda di era yang sudah menua ini membuat kita punya  banyak pertimbangan.

Hal sepele lain yang kadang dipikirkan itu seperti nama, sepele sih tapi jadi pertimbangan besar.  Nama itu sebuah doa sebut, jadi jangan membuat anak terbebani dengan nama yang memiliki arti berat banget, jangan pula membebani anak dengan nama yang kebanyakan huruf mati, kasihan dia klo nggak bisa mengeja nama. Jangan memberi nama panggilan yang akan menjadi bahan olokan (bullying di mana-mana).

Advertisement

Menjadi sepasang suami-istri menginjak fase menjadi seorang ayah dan ibu muda, ada perasaan yang mengganjal yang akan membuat kita berpikir keras dengan semua yang harus kita kerjaan. mulai berpikir soal kebutuhan hidup, kebutuhan anak, keluarga, memberikan yang terbaik tapi tetap dengan kotrol diri. memyebarkan kasih sayang di setiap nafas kehidupan.

Menikmati momen maternity, mulai dari mual trimester pertama, ogah-ogahan makan, melakukan apapun nggak nyaman, lalu ketika memasuki bulan ke tiga ada detak jantung yang mulai berirama dalam rahim, tendangan kecil yang mulai membuat senyum-senyum sendiri, meski masih mengalami hal-hal makan yang nggak enak. Perasaan campur aduk antara A,B,C, D. Mulai timbul kecemasan baju nggak pada muat semua, diri yang muali nggak keurus karena susahnya bergerak.

Trimester terakhir saat semua mulai terasa berat, janin dalam kandungan yang mulai bergerak makin akif dan tumbuh sehat membuat gerah dimana-mana, posisi tidur yang terasa nggak nyaman, pengin ini itu, semuanya jadi satu.

Semua proses terbayarkan. Saat suara tangis bayi itu mulai terdengar, perjuangan berat seperti jihad fi sabilillah, mulai terasa melegakan saat janin yang selama ini tumbuh dan berkembang dalam rahim telah keluar menjadi sesosok anak manusia mungil, tangan yang kecil, mata sayau, suara tangis yang menyejukkan, semua terbayar sudah perjuangan selama 9 bulan.

kita mesti bersyukur dengan proses panjang ini, karena tak semua wanita seberuntung ini

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya