Pertunjukan seni tari tradisional, adakah yang merindukannya? Merindukan adanya aura wiraga, wirasa, dan wirama dalam sebuah tarian. Makin ke sini sudah tertutupi, dikalahkan, dilupakan, digantikan dengan pertunjukan yang lebih modern seperti film atau konser musik. Negara Indonesia adalah negara yang kaya akan kebudayaan mulai dari musik, adat, bahasa, hingga ratusan tarian yang beragam. Kita seharusnya bangga, dengan banyaknya kekayaan Indonesia kita bisa menarik peminat turis asing yang datang ke Indonesia. Indonesia memiliki potret tari tradisional yang lengkap dan bervariasi tanpa kita sadari.

Tarian dapat menunjukan ekspresi, emosional, maupun untuk doa dalam sebuah ritual. Unsur utama dalam tari adalah gerak tubuh manusia dan tidak lepas juga dengan irama, ruang, dan waktu. Namun seperti yang kita lihat saat ini banyaknya mayoritas orang-orang sudah mengabaikan indahnya seni tari tradisional Indonesia yang memiliki makna mendasar, tak sedikit anak muda lebih senang menarikan tarian modern. Padahal jika dicermati, tak sedikit negara lain yang ingin mengklaim tari-tarian yang dimiliki Indonesia seperti tari pendet yang berasal dari Bali diklaim oleh negara lain. Itu semua menunjukkan bahwa seni tari yang kita miliki sangat berpengaruh besar terhadap dunia internasional.

Advertisement

Kurangnya kesadaran akan kecintaan kepada seni tari tradisional membuat perlahan-lahan eksistensinya berkurang atau bahkan punah tak dapat dinikmati lagi. Banyak sisi yang memengaruhi generasi muda Indonesia seperti tarian k-pop yang sangat popular saat ini membuat lebih tertarik untuk mempelajarinya, beramai-ramai membuat video dan diunggah di youtube atau jejaring sosial lainnya. Generasi muda adalah generasi penerus yang seharusnya bisa memilah budaya yang masuk ke dalam budaya Indonesia, bukan justru menikmati budaya asing yang  masuk dan mengunggah ke jejaring sosial dan mungkin saja mereka tidak tahu yang sebenarnya asal usul dan maksud dari tarian tersebut, jika dilihat miris sekali kejadian ini.

Gedung-gedung kebudayaan yang ada di kota-kota besar semakin lama semakin sedikit pengunjung yang mau menonton pertunjukan, seperti Graha Bhakti Budaya (GBB) di Taman Ismail Marzuki, penonton yang melihat pertunjukan umumnya berasal dari komunitas penyelenggara pertunjukan tersebut. Bagaiaman bisa masyarakat umum tidak hadir menonton pertunjukan budayanya sendiri? Kemanakah generasi yang nantinya diharapkan dapat menjaga kebudayaan Indonesia? Melihat kejadian ini memang tak lantas dapat menyalahkan masyarakat yang lebih memilih tarian modern dibandingkan tari tradisional yang Indonesia miliki. Perlu ada penanaman terhadap kecintaan budaya Indonesia khususnya seni tari tradisional agar generasi muda memiliki ketertarikan untuk mempelajarinya, dibuatnya ekstrakulikuler disekolah tentang tari tradisional juga sangat inovatif, karena kalau bukan kita siapa lagi yang akan melestarikan kebudayaan Indonesia yang melimpah ruah ini.

Sudah saatnya kita sebagai masyarakat Indonesia khususnya pelajar dan mahasiswa, harus bisa memilah apa yang masuk dari luar akan berpengaruh positif bagi kita atau sebaliknya, bukan sekedar mengikuti trend yang sedang naik-naiknya di jejaring sosial. Mari kembali kembangkan dan lestarikan kembali tarian tradisional yang sudah mulai tertutupi oleh tarian modern karena bagaimanapun itu adalah hasil cipta karya bangsa kita “Indonesia”. Semakin sering kegiatan kebudayaan menari diselenggarakan dan diperkenalkan terhadap generasi muda, maka mereka akan mengerti dan paham tentang kebudayaan asli daerah (Indonesia) Tanah Air Tercinta.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya