Cerita Pendakian Gunung Tertinggi di Pulau Sumatera

CeritaPendakian Gunung Kerinci 3805 Mdpl

Berbagi cerita dari sudut pandang aku (sebagai Idris Akhmad, tak lain abangku sendiri) agar lebih terasa dekat di tiap baitnya. Mahasiswa yang cukup aktif mendaki saat itu. Sebenarnya sejak dulu aku ingin sekali ikut abangku, namun apa daya selalu saja tak kesampaian. Jadi untuk mengobatinya kuceritakan dulu cerita abangku. Aku, lain kali ya.

Advertisement

Oke cerita dimulai. Kala itu aku, Zulfan dan teman lainnya berencana naik Kerinci. Kami menyewa mobil sejenis Luxio yang bentuknya kotak dan luas lega dan muat banyak. Kami pun berangkat dengan kecepatan tinggi khas sopir travel yang kejar setoran. Melewati daerah Sekayu yang panas, dan seterusnya, serta jalan jelek di perbatasan Sumatera Selatan dan Jambi. Dengan hanya bermodalkan google maps dan banyak bertanya kami menembus tempat yang belum pernah kami lewati, dimana mayoritas sepi. Tidak terasa keesokan malamnya udara mulai terasa dingin menandakan tujuan kami sudah dekat, aku terpikir untuk memakai jaket agar tidak kedinginan, tapi kemudian memutuskan untuk tidak memakai dengan harapan supaya tubuhku cepat menyesuaikan, namun ternyata salah, sesampainya di basecamp justru tubuhku menggigil seperti demam ringan.

Kami sampai di basecamp mak, saya lupa namanya mak siapa pada dini hari. Aku memilih tidur karena memang aku orangnya tak biasa begadang. Pagi pun datang, setelah semuanya siap kami pun menuju tugu Macan yang menjadi landmark kawasan Taman Nasional Kerinci ini. Lalu melanjutkan ke lokasi registrasi pendakian. Tidak lupa berdoa dan berfoto di pintu rimba sebagai bentuk ritual pagi ini, Alhamdulillah saat itu secara fisik sedang berada di level tertinggi karena belum lama pulang dari pendakian Dempo.

Rombongan kami terbagi 3 aku di depan bersama Zulfan yang jalannya cukup cepat, aku berjalan cukup lancar dan konsisten tapi tetap saja tertinggal. Selain juga karena faktor beda gendongan, dilemanya adalah kalau menunggu rombongan yang di belakang, carrier berat yang dibawa melambat dari tempo jalan kita itu cukup menyiksa, tapi untuk mengiringi yang di depan itu susah terkejar. Perjalanan kami disertai hujan deras, beruntung shelter 1 sudah dekat kala itu jadi kami berteduh sekaligus makan siang yang telat. Berangkat sekitar 8.00 kami sampai shelter 1 sekitar jam 13.00. Setelah berhenti sekitar satu jam kami melanjutkankan perjalanan ke shelter 2 dengan waktu tempuh kurang dari 3 jam dan sore itupun kami memutuskan untuk menginap di shelter 2 karena shelter 3 kami dengar tempatnya cukup terbuka jadi jika cuaca sedang buruk bisa beresiko besar terkena angin badai langsung,

Kebetulan juga shelter 2 ini relative tertutup namun tempatnya sempit, maksimal hanya bisa untuk sekitar 5 tenda yang bisa berdiri di sini. Saat itu tanggal 18 Agustus jadi jadi momen kemerdekaan masi terasa hari itu. Alhasil kami dapat banyak hadiah sampah dan ranjau, aku masih ingat di shelter 3 yang cukup terbuka dan lumayan luas aku melihat banyak kotoran manusia di areal camping ground. jadi kami sore itu menginap di Shelter 2 dan merencanakan summit sekitar jam 2 dini hari, namun karena ngaret, akhirnya berangkat summit pukul 3 dini hari. Dari shelter 2 ini baru sesungguhnya trek yang benar-benar mendaki dimulai, dengan mayoritas jalan yang nyaris vertical namun kemudahannya ada di banyaknya akar maupun tumbuhan kayu yang bisa jadi pegangan. Melihat kondisi di sini aku pikir tempat ini akan mudah sekali longsor jika tidak ada pepohonannya.

Kami menyusuri dinginnya malam nan sepi, syukur terlihat senter pendaki lain dari kejauhan. Alhamdulillah hormon dopamine ku naik saat itu mengimbangi rasa sakit yang dirasakan secara fisik yang disebut summit attack. Selepas shelter 3 trek pendakian mulai terbuka, dan kami melewati punggungan Kerinci dengan angin yang cukup deras, aku sempat berpikir apakah angin di gunung bisa menerbangkan seseorang atau tidak. Kami juga melewati Tugu Yudha di tengah perjalanan yaitu sebuah prasasti nisan yang dibuat untuk seorang pendaki yang hilang di sekitar sana. Aku bersama Zulfan di depan salah satu yang sampai lebih awal, pagi itu aroma belerang mulai menyeruak dari kawah kerinci yang dalam dan tidak terlihat permukaannya karena tertutup awan dan belerang, saat mencoba meraba wajah terasa banyak debu dan tanah yang menempel, mungkin ketebalannya mencapai 0,05 cm sampai 0,1 cm.

Advertisement

Puncak Indrapura suasanannya damai pagi itu, sekeliling anginya sepoi-sepoi diselimuti awan tipis dan gunung-gunung dan bukit-bukit kecil di sekelilingnya serta danau Gunung Tujuh di kejauhan. Sesampai di puncak Indrapura tidak lupa bersyukur sebanyak-banyaknya atas kesempatan ini, dan juga membuat video ucapan syukur untuk Ibu dan teman-teman yang baru saja wisuda. Kami turun lebih awal dan rombongan yang lain baru mulai sampai ketika kami turun. Perjalanan turun lancar jaya meskipun aku terpisah sendirian ketika melewati shelter 1 karena masalah awal tadi, tidak cukup cepat untuk mengiringi zulfan dan tak ingin tersiksa oleh bawaan berat jika mengiringi yang dibelakang. Suasana di shelter 1 sore itu cukup redup, aku hanya takut kalau-kalau ada binatang buas yang megintai pendaki yang sedang sendirian seperti aku. Alhamdulillah kami sampai di pintu rimba dan melihat mobil kami sudah terparkir menunggu kami tiba. Cerita dan perjalanan kami berlanjut ke Gunung Tujuh ke esokan harinya InshaAllah akan dibahas di #ceritapendakian selanjutnya. 

Terimakasih Kerinci, semoga kita berjumpa kembali.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Mahasiswa ilmu komunikasi

CLOSE