Ia menarik nafasnya sebelum ia kotori kertas putih itu dengan cat merahnya, membuat sebuah ruang dari goresan titik demi titik namun tetap saja lukisan yang ia buat selalu saja sama. Terlihat semakin banyak burung yang mati di hadapan sosok pelukis bersayap itu. Saat ia melukis tak ada yang berani mengganggunya.

Sudah puluhan tahun ia melukis di atas gunung, saat malam tiba ia kembali ke langit. Pemandangan yang ia lukis tak pernah berubah selalu saja matahari di atas gunung yang dipenuhi warna merah, lukisan itu tampak tak punya kehidupan hanya goresan yang dipenuhi dengan rasa kekesalan. Hari mulai gelap pelukis bersayap terbang kembali ke langit dengan lukisannya, ia terbang tanpa sapaan dari penduduk langit.

Advertisement

Suara nyanyian berbunyi menandakan hari telah pagi, tampak warga di kerajaan langit sedang asik berdangsa sambil berbelanja di pasar, pelukis bersayap itu terbangun saat sebuah bola memecahkan kaca rumahnya, ia pun langsung mengambil pedang di hadapannya lalu berjalan keluar rumah.

Anak kecil yang menendang bola itu berlari menghampiri kerumunan warga yang sedang asik bernyanyi, saat warga melihat sosok pelukis bersayap nyanyian pun berhenti “Siapa yang berani mengganggu tidurku, akan kujadikan bangkai di depan rumahku,” ucap pelukis bersayap. Warga hanya terdiam melihatnya, pelukis bersayap langsung berjalan dengan pedangnya menghampiri anak kecil yang bersembunyi dibawah kaki warga, terdengar suara gesekan pedang disetiap perjalanannya “Nasib baik kau tak kujadikan bangkai,” pelukis bersayap menunduk berbicara kearah anak kecil itu.

Ia pun berjalan mengarahkan pandangannya ke warga sambil menggesekan pedangnya kebawah, “Lihat! Garis ini adalah batas kalian hidup, jika kalian melewati garis ini kalian akan kugantung di hadapan keluarga kalian!” sebagian warga hanya berbisik melihat sikap pelukis bersayap. Pelukis bersayap lalu berjalan pulang kerumah untuk mengambil peralatan lukisnya dan segera turun ke bumi.

Advertisement

Dengan matanya yang masih mengantuk ia tetap melukis di hadapan kabut pagi, pelukis bersayap mulai bosan melukis pemandangan dari puncak gunung, iapun berniat untuk hendak turun ke kaki gunung. Saat hendak berjalan ke kaki gunung dua merpati terbang salah satu diantaranya jatuh mengenainya, ia pun marah dan segera mengambil pedang lalu mengarahkan pedang itu ke sang merpati yang sayapnya rusak, “Amarahh, tolong jangan bunuh aku, kasihan istriku,” merpati memohon,

“Aku tak peduli, kau telah mengganggu perjalananku ke kaki gunung,” Amarah mengarahkan pedangnya ke merpati, merpatipun terbang melarikan diri namun tetap saja ia terjatuh di hadapan Amarah. Mata Amarah terpaku saat melihat merpati itu terbang, ia melihat sebuah tetesan darah yang sangat indah merah dengan nyata di depan matanya tanpa cat warna yang biasa ia gunakan, iapun langsung rmenangkap merpati itu dan meletakannya di ranting pohon. Merpati terkejut saat Amarah meletakan dirinya di ranting pohon.

Amarah mulai melukis merpati yang sayapnya dipenuhi darah itu, namun semakin lama ia melukis, darah di merpati itu mulai habis hingga hampir mati. Karena lukisan yang ia buat belum sepenuhnya jadi iapun merobek bajunya lalu menggulungnya ke sayap merpati. Dan ia kembali duduk melanjutkan lukisannya “Aku berhutang budi kepadamu Amarah,” ucap sang merpati. Amarah bergegas pergi membawa lukisan merpati itu, lalu ia terbang kembali ke langit.

Saat hendak pulang, ia melihat rumahnya telah hancur di bakar warga. Warga telah bersiap bertempur dengan Amarah dan siap meninggalkan istrinya menjadi janda apabila mereka mati. Amarah sangat marah dan melawan kerumunan warga itu, karena semakin banyaknya warga yang berusaha membunuhnya amarah pun jatuh di hadapan kerumunan warga. Warga sudah siap untuk menggantung Amarah tepat di atas tanah rumahnya, namun warga masih punya rasa kasihan kepada sosok amarah merekapun mengusirnya dari kerajaan langit lalu membuangnya ke bumi.

Matahati yang jatuh cinta mengarahkan sinarnya kepada Amarah, iapun terbangun Matahri tersenyum. Amarah kesal setelah tak sadar dibuang oleh warga ke bumi, satu-satunya alat yang warga berikan padanya hanyalah peralatan lukisannya. Amarah berjanji bahwa ia takan pernah kembali ke langit. Tiba-tiba sosok merpati terbang ke pundaknya, Amarah sangat marah lalu mencari pedangnya, “Aku tak takut bila kau tancapkan pedang itu ke tubuhku,” ucap merpati. Amarah terus mencari pedangnya, namun tetap saja pedangnya tak ia temukan dan ia hanya berteriak di atas puncak gunung itu.

Merpati itu masih saja mengikuti Amarah yang sedang mencari kayu bakar untuk sarapan pagi, “Kenapa kau selalu saja mengikutiku, apakah kau sudah berserah diri saat kujadikan sarapan pagi?” Tanya Amarah dengan kesal saat merpati itu terus mengikutinya.

Merpati berbaring di hadapan Amarah “makan saja aku bila itu bisa membuatmu senang,” merpati itu menyerahkan seluruh tubuhnya ke Amarah. Amarah melihat merpati itu masih dipenuhi darah pada sayapnya, “Aku memang suka darah, tapi aku tak berniat untuk memakannya, sebaiknya kau pergi aku tak suka berdua dengan siapa pun,” merpati itupun pergi meninggalkan Amarah sendirian.

Amarah duduk di bawah pohon dengan kayu bakar yang menyala sambil melukis pemandangan yang sudah berjuta-juta kali ia gambar. Kerumunan merpati datang mengelilinginya, iapun terkejut lalu menghempaskan lukisannya ke tanah “Kenapa kalian ada di sini!”, tanya Amarah, “Kau yang bilang kepadaku bahwa kau tak suka berdua, makanya kuajak teman-temanku supaya kita tak berdua,” ucap merpati yang terluka. Amarah berteriak kesal, “Andai saja pedangku ini ada, akan kuhabisi kalian semua,”

Amarah berjalan ke tepian gunung, sementara burung-burung merpati asik bernyanyi. Amarah kembali berjalan kearah kerumunan merpati itu, “Sudahlah aku tarik omonganku tadi, sekarang aku lebih suka berdua, lebih baik kalian semua pergi,” Amarah mengusir kerumunan merpati yang sedang bernyanyi, “Kenapa kau masih di sini?” Tanya Amarah, “Karena kau bilang kau lebih suka berdua, dan sekarang kita berdua.”

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya