Cerita Percintaan saat Kuliah: Hanya Bisa Melihat Tapi Tak Bisa Bersanding!

Cerita hiburan saat kuliah, percintaan mahasiswa


Iso nembang ora iso nyuling, Iso nyawang ora biso nyanding


Advertisement

Mungkin ungkapan itu cocok buat aku, saat memasuki dunia perkuliahan. Dari kecil hingga SMA tinggal di Jawa Timur, dan saat kuliah memberanikan diri untuk belajar di Jakarta. Sebenarnya saat baru datang, gue biasa menggunakan kata aku dan kamu, tapi karena ternyata disini hal tersebut terdengar aneh, jadinya ngikut kebiasaan orang Jakarta dengan menggunakan kata lo dan gue. Pertamanya sih terdengar aneh, tapi dengan cuek dan jiwa bonek yang sudah mendarah daging, akhirnya terbiasa juga dengan menggunakan kata itu meskipun masih bertahan dengan logat medhog yang khas asli Jawa Timur.

Singkat cerita, aku diterima di Fakultas Sastra salah satu Universitas Negeri ternama di Jakarta. Ketika awal masuk, jiwaku langsung bergejolak ketika melihat banyak cewek-cewek yang bisa dibilang cantik dan konon kabarnya Fakultas Sastra menjadi salah satu favorit jika dibandingkan dengan Fakultas lainnya. Awal masuk kuliah, sudah tentu mahasiswa baru harus mengikuti program pengenalan kampus yang diselenggarakan oleh Fakultas masing-masing. Dalam hati, yang pertama terpikirkan adalah Cakep, ini kesempatanku untuk berkenalan dengan banyak cewek cantik di Fakultas Sastra.

Mahasiswa tingkat atas yang menjadi panitia penyelenggaraan program pengenalan kampus meminta setiap mahasiswa baru untuk membuat sketsa atau peta dari fakultas Sastra dan saling bertukar informasi mengenai data pribadi dengan mahasiswa baru lainnya dan dituliskan di sebuah buku yang nantinya di akhir acara buku tersebut dikumpulkan untuk diperiksa dan dinilai oleh Panitia. Begitu acara dimulai radar eagle eye aku langsung mulai melakukan scanning dan langsung menentukan target cewek-cewek cantik untuk saling mengisi buku tugas. Selang beberapa waktu, pandanganku langsung tertuju kepada seorang cewek yang membuat jantung berdebar-debar dan membuat pandanganku nggak bisa menoleh kemana-mana.

Advertisement

Tanpa berpikir panjang, aku memberanikan diri untuk melangkah maju menghapirinya. Ibarat daun putrid malu yang durinya lumayan tajem tapi begitu disentuh langsung layu, itulah aku, pas uda di depan mata dan tinggal nyodorin buku ini buat diisi, aku memilih untuk putar balik dan jalan pergi menjauh. Kenal aja belum, tapi jantung sudah dibuat deg-degan nggak karuan. Konyol, katanya mau sebanyak mungkin kenalan dengan cewek-cewek cantik di fakultas, tapi pada kenyataanya waktu mau mendekati cewek yang cantik, malah memilih untuk mundur, seperti lirik lagu


Aku mundur alon-alon mergo sadar aku sopo.


Ternyata tidak semudah yang aku pikirin, kesempatan yang datang sebetulnya banyak, tidak hanya di hari itu saja, tapi mungkin aku aja yang gak berani, jadinya ketika cewek itu lewat dan berpapasan, aku hanya bisa melihat, memandang, dan membiarkan berlalu sampai bayangannya ikut menghilang.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

suka baca dan belajar menulis

Editor

CLOSE