Pertama – tama baiklah kuperkenalkan siapa aku sebenarnya, karena tampaknya kamu mengenalku hanya sebatas luarku. Perkenalkan aku adalah hati dari seorang wanita yang sudah berhasil kamu patahkan beberapa kali.
Aku adalah pusat kendali dari sosok wanita yang setiap harinya membuatmu kesal, aku adalah kepingan yang akan bercerita kepadamu tentang apa yang dia sembunyikan selama ini, aku akan memulai ceritaku, dan simaklah setiap kata-kataku dengan baik.

Hai, kamu yang setiap hari ku semogakan dalam doaku, ada banyak sekali yang ingin kuceritakan padamu sejak pertama kali kamu bilang kamu akan pergi, hari itu aku benar benar tak punya rasa takut lagi, karna kehilanganmu adalah ketakutan terbesarku saat itu.

Advertisement

Aku tau memang aku yang menyuruhmu untuk pergi tapi aku tidak benar-benar bermaksud begitu, aku tidak benar-benar merelakan kepergianmu, aku hanya sedang mencegah rasa sakit yang akan datang di kemudian hari jika aku terus bersamamu, tapi ternyata rasa sakit itu datang lebih awal tanpa kuduga.

Aku pikir semuanya akan baik baik saja.
Karena kebersamaan kita yg terhitung singkat,harusnya aku bisa menjalani hidupku seperti biasanya jika akhirnya kau memutuskan untuk pergi, tapi saat itu aku akhirnya menyadari satu hal – aku sudah terbiasa denganmu, dan cinta itu datang karena terbiasa.

Aku takut lagi, dan kini ketakutanku juga terkait kamu,
aku takut aku bukan lagi aku yg biasanya tanpa kamu, aku takut lupa caranya bahagia,
aku takut akhirnya kamu menemukan dia yang benar benar kau cinta saat aku belum sepenuhnya ikhlas untuk itu.

Advertisement

Aku memang egois, ya aku mengerti.
Aku hanya memikirkan diriku, tapi tunggu, jika memang begitu, tapi mengapa setiap ketakutanku hanya berisikan namamu?
Kenapa setiap apa yg kupikirkan terlintas kamu di dalamnya?
Kenapa yg kufikirkan hanya kamu?
Siapa sebenarnya yang egois?

Bukankah sudah jelas

Aku takut tak bisa berhenti

Saat ini aku dipenuhi kata kata yang ingin kuucapkan tapi mulutku seakan kelu tak mau bicara lagi,
Katanya sudah cukup, kau terlalu banyak mengucapkan kata yang tidak perlu kamu ucapkan dan memang benar begitu adanya.
Aku lupa mengucapkan hal yang paling penting, hal yang harus kamu tau sebelum akhirnya kau pergi, hal yang mungkin kamu takkan percaya jika akhirnya pun kuucapkan.

Aku mencintaimu, dengan cara yang berbeda

Aku memang tak suka menanyakan kamu sudah makan atau belum, kamu dimana, kamu sedang apa.
Tapi apa semua penting?

Apa seperti itu caramu mendeskripsikan rasa sayang?
Apa karena itu pula kau meragukan aku?
Apa karena itu juga kamu sanggup mematahkanku kembali kali ini?
Atau karena kamu memang sudah lelah dengan sikapku yang selalu diam?

Kamu lelah karena aku keras kepala?
Ya, aku memang begitu keras kepala dalam hal menginginimu.
Sedangkan kamu terlalu pasrah untuk melepaskan aku.

Apa kamu pikir, aku bisa bahagia dengan setiap puisi puisi yang kau posting?
Yang keseluruhannya menceritakan betapa kamu berjuang sendirian sedangkan aku tak pernah berpaling padamu sedikitpun?
Yang menceritakan tentang kepergianku padahal aku tepat di belakangmu,karena nyatanya kamu yang pergi dan aku tetap di sini.

Apa pernah terlintas dikepalamu,aku begitu ketakutan.

Sekarang,semuanya terserah padamu.
Aku sudah tau seperti apa rasanya kehilanganmu.
Jika memang akan terjadi lagi, aku sudah memasrahkannya, seperti kamu yang begitu pasrah melepasku pergi.
Jika diamku akhirnya kau artikan sebagai perpisahan biarlah begitu,karena cepat ataupun lambat nantinya juga akan terjadi.

Harapanku semoga kamu bahagia dan aku jauh lebih bahagia

Salam sayang,hati yg tak pernah didengarkan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya