Cerminan Betapa Kelamnya Dunia Perikanan dan Kelautan Dunia Lewat Film Finding Dory dan Dokumenter Seaspiracy

film dokumenter seaspiracy

Tulisan ini terinspirasi dari keresahan sejumlah mahasiswa jurusan Perikanan tentang film dokumenter besutan Netlix yang berjudul Seaspiracy. Film dokumenter tersebut menyoroti banyaknya kejahatan yang selama ini dilakukan oleh industri perikanan dunia untuk meraup keuntungan dengan merusak laut. Tidak hanya merugikan makhluk hidup yang ada di lautan saja, industri perikanan dunia pun telah merugikan manusia mulai dari aspek lingkungan yang dirusak hingga aspek ketenagakerjaannya.

Advertisement

Tidak lama setelah membaca hal tersebut, saya mencoba untuk mencari hiburan, yakni dengan menonton film animasi besutan Pixar dan Disney, yakni Finding Nemo (2003) dan Finding Dory (2016). Finding Nemo sendiri menceritakan tentang seekor ikan clownfish bernama Marlin yang berusaha mencari anaknya yang ditangkap oleh manusia, sedangkan Finding Dory adalah sekuel Finding Nemo yang bercerita tentang Dory yang berusaha mencari kedua orang tuanya karena mereka telah terpisah sejak Dory masih kecil.

Terlepas dari cerita fiksi dan tidak masuk akal dari kedua film ini, saya justru merasa agak frustasi ketika menonton kedua film ini. mungkin perasaan tersebut diakibatkan saya yang telah membaca tulisan dari keresahan tentang film Seaspiracy beberapa hari sebelumnya yang menceritakan tentang kelamnya industri perikanan dan pengaruhnya terhadap ekosistem kelautan dunia.

Saat menonton kedua film tersebut, tidak saja manusia sudah merugikan para makhluk hidup di laut dengan menangkapnya hanya untuk sekadar sebagai ikan hias untuk aquarium di tempat tinggalnya, manusia juga telah merusak laut dengan meninggalkan bangkai kapal, bangkai mobil, perabotan rumah tangga, ranjau bekas perang, hingga sampah-sampah seperti plastik yang banyak merugikan makhluk hidup di lautan. Tidak sedikit dari ikan, ubur-ubur, sampai burung pemakan ikan yang tidak sengaja memakan plastik maupun barang lainnya yang dibuang manusia di lautan. Tidak hanya itu, manusia juga telah mencemari lautan dengan membuang limbah sisa industri di lautan. Semuanya telah digambarkan dengan sempurna oleh dua film ini.

Advertisement

Ketika menonton Finding Nemo di tahun 2003, yakni saat saya masih berada di bangku sekolah dasar, tentu saja saya tidak menyadarinya. Saya hanya menikmati animasi tersebut yang saya anggap sama-sama seru seperti animasi Pixar lainnya seperti Toy Story, Monster Inc, atau A Bug’s Life. Saya juga menikmati berbagai macam trivia yang disajikan dalam film ini seperti Great Barrier Reef, ekosistem terumbu karang terbesar dan terpanjang di dunia, yang terletak di Australia sepanjang lebih dari 2.000 kilometer sebagai kampung halaman Marlin dan Nemo maupun East Australian Current yang merupakan arus bawah laut yang sangat deras.

Tapi saat saya menonton ulang film tersebut untuk kesekian kalinya di tahun 2021, saya malah merasa frustrasi. Bahkan saya juga merasa bersalah karena saya adalah satu di antara miliaran manusia di bumi yang turut andil dalam merusak ekosistem laut seluruh dunia meskipun tidak secara langsung. Memang sih saya tidak membuang sampah ke laut atau menangkap ikan dengan menggunakan bom, tapi mungkin sampah yang saya buang dari Kota Bandung ini berakhir di lautan sana. Mungkin ikan yang saya konsumsi selama ini melalui proses penangkapan yang kelam seperti yang diceritakan dalam film dokumenter Seaspiracy.

Selain itu, dalam film Finding Dory, manusia juga secara langsung telah menyiksa banyak hewan laut dengan mengurungnya di The Marine Life Institute (semacam Seaworld Ancol) untuk tujuan komersil. Meskipun The Marine Life Institute juga berkontribusi untuk kebaikan ekosistem laut dengan mengobati hewan laut yang terluka sebelum melepasnya kembali di lautan.

Dalam film tersebut, mamalia terbesar di dunia, yakni paus beluga yang terpaksa hidup di dalam kolam yang luasnya bahkan tidak sampai seluas  satu lapangan sepakbola sama sekali. Tentu ukuran ini tidak sebanding sama sekali. Belum lagi ada begitu banyak hewan laut seperti gurita, bintang laut, kerang, hingga ribuan ikan yang lahir dan hidup disana dengan keadaan yang memprihatinkan. Ini belum ditambah industri hiburan yang memanfaatkan hewan laut seperti lumba-lumba dan anjing laut yang menyiksa hewan-hewan tersebut untuk mencari uang.

Sama seperti orang-orang yang resah dengan film dokumenter Seaspiracy, salah satu tujuan saya kuliah jurnalistik adalah menjadi jurnalis untuk mengungkapkan fakta ini pada publik, seperti Najwa Shihab. Tapi jalan hidup telah berkata lain. Saya bahkan kehilangan pekerjaan saat pandemi Covid-19 ini. Bahkan jika ada kesempatan, mungkin saya juga akan melakukan apa yang para manusia perusak lautan ini lakukan, seperti menangkap ikan hanya untuk bertahan hidup. Jadi saya tidak terlalu menyalahkan mereka yang bertahan hidup dengan menangkap ikan di laut. Saya hanya kesal dengan para pemain besar yang merusak lautan. Indonesia tidak hanya membutuhkan banyak jurnalis seperti Najwa Shihab yang berani membeberkan fakta mencekam tentang lautan saja, tapi Indonesia juga membutuhkan banyak orang seperti Ibu Susi Pudjiastuti yang berani melawan para mafia yang merusak lingkungan. Mudah-mudahan suatu saat nanti ekosistem laut Indonesia dan dunia bisa kembali indah seperti dulu, karena kita tidak bisa mengandalkan Arthur Curry atau Aquaman, superhero DC di dunia nyata.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Akun resmi Raden Muhammad Wisnu Permana Akun ini dikelola oleh beberapa admin

CLOSE