Kutatap kakakku yang sedang menekan tombol di HP-nya. Mencoba mencari siapa yang ingin diteleponnya kali ini. Rasa penasaranku terus tumbuh terhadap hape berwarna putih dengan layar berkilau kuning pucat itu. Hanya beberapa orang saja di desaku yang memiiliki teknologi termutakhir tersebut. Suara orang yang tak bisa kau temui dapat kau dengar meski terpaut beribu kilometer jauhnya, entah dari timur atau dari barat menghitungnya.

Hape yang kala itu sangat fenomenal dikalangan sosialku. Orang orang ber HP adalah mereka yang memiliki kemapanan ekonomi. Terlihat jelas bagaimana gemuknya postur HP berbanding lurus dengan banyaknya harta pemiliknya. Meski keluarga sederhana, memiliki hape merupakan hal sangat diidamkan selain kebutuhan lainnya. Satu hape untuk kakakku yang beranjak dewasa dan satu lagi dipakai oleh orang tuaku. Aku? Hanya meminta sesekali berbicara lewat hape tersebut sambil berharap jawaban diujung telepon sana.

Advertisement

Terbatas hanya saling sapa telepon dan mengirim pesan saja sudah menjadi suatu kebahagiaan. Irama musik kekinian zaman dulu menemani kala menunggu jawaban orang yang ditelepon. Belum lagi promosi bombastis untuk berbagai konten dari televisi yang bisa didapatkan hanya dengan ketik “reg” atau gabung.

Serunya mencoba apa saja permainan didalam menu dan mengotak-atik nada dalam galeri menjadi hiburan saat televisi tidak lagi asyik ditonton.


            Pesan saling berbalas pesan dengan berbagai rasa yang tak bisa dungkapkan, balasan yang didapat semoga sesuai yang diharapkan.


Advertisement

Tak ingin ketahuan sedang mengirim pesan untuk seorang perempuan, kadang namanya disamarkan lalu pesannya setelah diterima dihapus atau sesekali ada yang disimpan. Agar tak ketahuan orang tua dan masih bisa diinjam kapan kapan. Seru dan tegangnya memang selalu ada, entah hape dulu yang masih berfitur infrared atau sekarang yang bisa jelajah internet. Bedanya, sekarang tak lagi seprivasi dulu.

 Sesekali kubuka hapeku, kutekan tombol persegi disampingnya dan memasukkan nomor rahasia untuk ke tahap selanjutnya. Pertama kuperiksa bukannya kotak masuk pesan singkat. Tetapi sebuah symbol hijau bergambar gagang telpon yang pertama kubuka. Betapa penasarannya melihat angka diatas simbol itu untuk melihat apakah ada orang yang tiba tiba menanyakan kabarku.

Diurutan teratas tentu saja sebuah grup yang isinya membahas perkuliahan, dibawahnya ada grup komunitas yang isinya adalah forwarded broadcast dan itu sudah dua hari yang lalu. Sisanya hanya sebagian individu yang meminta bantuan kepadaku dan hanya mengomentari statusku. Di satu HP tentunya tidak hanya satu aplikasi media sosial saja. Ada banyak medsos yang sebenarnya isinya sama dan bahkan ada grup yang isi orang didalamnya sama dengan medsos lain.

Dengan alasan ada fitur yang tidak dimiliki oleh satu aplikasi dengan yang lain. Kembali jika melirik zaman sekarang, dimana hape tak hanya soal bertanya kabar tetapi juga media untuk saling pamer kehidupan. Atau juga curhat yang tidak didengar dikenyataan akhirnya diunggah ke linimasa jaringan.

Berbagai kontak yang kudapat, kulihat seksama bagaimana tampang foto profilnya. Begitu mempesona dengan editan yang luar biasa, akupun demikian. Tak hanya itu jika kita sangat ingin menelusuri siapa dia, tak perlu untuk menunggu momen berbalas pesan.

Sentuhlah logo berbentuk rumah itu dan temukan barang-barang yang dia tampilkan di sosial medianya. “Aku punya sepatu baru, aku jalan jalan ke air terjun, aku lagi makan di restoran pizza, aku sedang galau ditinggal pasangan yang pulang kampung” kira kira seperti itu bila diterjemahkan dalam bahasa percakapan.


Linimasa dengan statusnya  bertema ini hidup gue memang menjadi primadona untuk ditampilkan di akun siapa saja.


Seketika temanku yang pendiam dan pecandu game android bisa menjadi pujangga pemikat wanita dengan kalimat bijak romantic yang ia tampilkan di akunnya. Lalu ada wanita menarik yang bisa kulihat apa saja yang ia lakukan hari ini dengan hanya menekan tombol teman atau follow, meski kita belum pernah semeja makan sebelumnya. Begitu mudahnya hidup ini, terima kasih teknologi dan informasi.

Hape kakakku sudah tiada lagi. Hape itu berganti dengan spesifikasi yang jauh lebih tinggi dan bisa menagkap momen cepat sekali jepret. Balas pesan masih ada, saling telEpon tentu juga masih ada, bahkan bertambah video call yang semakin menggiurkan. Saat dulu daftar kontakku hanya sebatas teman sekampung saja sekarang aku bisa berteman dengan seseorang dari singapura.

Soal ketengangan menunggu balasan pesan tentu masih ada, apalagi itu adalah orang yang begitu kau inginkan. Lalu sebelumya, sebelum memastikan mengirim pesan hai, ku sentuh logo berbentuk rumah itu untuk memastikan apakah ia memang sesuai dengan apa yang kuharapkan.

Foto sederhana sesekali dengan temannya menampilkan senyuman gembira lalu tiba tiba kutipan kata bijak hingga ternyata ada keluhan permasalahan hidup ada semua di akunnya. Seolah akun maya itu berkata : “inilah aku, lihatlah gayaku dan kalau suka silahkan tekan tombol like”. Sebaliknya, aku tak suka dengan gayanya, ku urungkan niatku yang hanya sebatas sapa dalam media maya.


            Pribadi seseorang sekarang dapat kau lihat dengan mudah tak perlu datang langsung kerumah atau berteman satu dasawarsa lamanya. Akun medsos kadang menunjukkan bagaimana ia dan apa yang ia lakukan dan sukai.


Kau bahkan bisa panen fotonya, orang yang kau incar selama ini. Aku pun demikian, zaman dan kebiasaan memang terkadang memiliki hubungan. Di zaman ini kebiasaan kita yang dulu dalam menggunakan HP sekarang berbeda jauh meski ada kesamaan tetapi sedikit. Pengalamannya pun berbeda, ketika kita yang hidup dalam dua zaman dengan perubahan yang signifikan tentu ada saja kata pembandingan hingga penghakiman.

Tetapi tentu saja untuk saling mengenal selalu ada yang namanya saling balas pesan, bukan hanya titip lewat jasa internet tetapi juga dari mulut ke mulut, mata ke mata, lalu semeja seterusnya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya