#CerpenHipwee Alienasi

Aku bangun. Ternyata semuanya hanyalah mimpi.

Aku menatap pasangan pengantin baru yang duduk manis di pelaminan. Senyum yang merekah tergambar pada masing-masing mempelai. Suasana di acara pernikahan saudara jauhku cukup meriah. Keluarga besarku semuanya datang, membuat acara ini sangat ramai. Mereka adalah keluarga dari pihak nenekku.

Advertisement

Acara pernikahan ini pun digelar cukup megah, walaupun tidak diadakan di gedung pernikahan karena halaman rumahnya cukup luas sehingga cukup untuk dijadikan tempat resepsi pernikahan. Aku terus memperhatikan sekitar sampai dua orang di sebelahku berbisik pelan,


“Istri lamanya sudah meninggal?” sahut salah satunya.

“Iya, makannya dia menikah lagi,” jawab yang lain.


Aku termenung sebentar sampai bibiku mengajakku bersiap untuk pulang. Aku mencari-cari keberadaan mama yang sedari tadi hilang dari pandangan, yang setelahnya kulihat ia sudah lebih dahulu bergegas bersama papa dan adik perempuanku. Aku pun akhirnya pulang bersama bibiku dengan mobilnya, berpisah dengan mama.

Advertisement

Jarak antara tempat resepsi pernikahan dengan rumah cukup jauh, sekitar tiga jam jika tanpa macet. Aku masih memikirkan mama yang sepertinya tidak mengacuhkanku sejak tadi –ia bahkan tidak mengajakku pulang bersamanya. Atau itu hanya pemikiranku saja?

Waktu berjalan dengan cepat. Karena suatu kendala, mobil bibiku mogok di gang yang cukup sempit –hanya dapat diisi satu mobil. Aku keluar sebentar untuk mencari toko kecil untuk membeli beberapa makanan ringan. Namun, ketika aku kembali, kudapati mobil yang tadi aku tumpangi sudah tidak ada, berganti dengan kerumunan anak-anak kampung sekitar yang sedang bermain.

Advertisement

Aku panik dan mencari ke setiap cabang gang kecil yang ada, namun hasilnya nihil. Aku tambah panik dan bersiap untuk menangis ketika ponsel dalam sakuku berdering. Aku lupa kalau aku membawa ponsel sejak tadi. Bibiku meneleponku, aku memberitahu dimana aku berada. Akhirnya aku cukup tenang dan berhasil sampai di jalan raya, keluar dari gang-gang sempit yang memusingkan. Aku masih menangis, entah kenapa aku sensitif sekali hari ini. Aku masih memikirkan mama yang daritadi tidak mengacuhkanku, seolah lupa ia mempunyai dua anak. Aku juga ingat, dulu mama pernah membelikan makanan kepada papa dan adikku, namun aku tidak. Apa aku benar-benar tidak dianggap? Aku merasa terasingkan. Tangisku semakin deras, sampai setelahnya.

Aku bangun. Ternyata semuanya hanyalah mimpi. Namun tangisku tak kunjung reda ketika sedetik kemudian aku menyadari, bahwa aku bahkan tidak akan pernah bisa bertemu mama lagi, di kehidupan ini.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Football, music, movie, drama, and writing enthusiast. Interest in politic, social issues, and woman empowerment.

CLOSE