Kanya menghela napasnya dengan ekspresi wajah yang tidak memiliki semangat sama sekali. Wajah penuh senyum dan binar mata saat melihat pujaan hatinya kini pudar tak bersisa. Agam baru saja pergi meninggalkan kantin—satu-satunya tempat yang bisa membuat Kanya sepuas hati melihat cowok pendiam itu.

"Kapan ya, Ra, gue bisa liatin dia nggak cuma punggungnya aja? Yah, walaupun punggungnya tetep aja bikin gue makin gedebuk lope sama dia." Kanya menopang dagunya dengan kedua tangan, menatap Aira yang sedang mencibirnya.

Advertisement

Kanya sontak menjitak kepala Aira. "Lo nggak tahu aja seistimewa apa si Agam. Dia idaman banget, sumpah!" Ia menggerutu pelan saat lagi-lagi Aira mengata-ngatainya bodoh dan sebagainya. Iya! Sahabatnya itu bisa mengatakan dirinya inilah itulah karena Aira tidak merasakan euforia saat melihat sang pujaan hati walaupun hanya ujung rambutnya saja saat sedang upacara.

"Makanya deketin lagi, dodol! Baru berapa kali doang udah nyerah aja. Cemen banget!"

Oke, jika Aira sudah mengatakan kalimat sakral ini, berarti cewek itu sudah kesal.

Advertisement

Kanya harus membungkam mulutnya jika tidak mau sahabatnya itu mengatainya dengan mengabsen seisi kebun binatang. Dalam batin ia memaki Aira yang tidak tahu perjuangannya, meski memang dirinya tidak mau bercerita. Karena ia berprinsip; sedekat apa pun, selama apa pun hubungan persahabatan, tetap saja privasi itu perlu. Karena tidak selamanya semua orang mampu menjaga rahasia.

Tidak ada yang tahu, bagaimana ia mengejar cinta Agam, bagaimana ia berusaha melakukan apa saja agar Agam berbalik dan melihat Kanya yang sudah lama menunggunya. Kanya bahkan rela mengubah dirinya sendiri supaya Agam mau dengannya.

Bukan tanpa alasan Kanya mengubah dirinya yang serampangan menjadi manusia kalem dan bertutur kata lembut—walau seringkali ia lepas kendali. Itu semua karena Agam yang memintanya. Kanya bahkan rela membuang rasa malunya dan mendekati teman dekat Agam untuk meminta bantuan supaya mengatakan jika ada seseorang yang menyukainya. 

"Bilangin sama Agam ya, Jal, kalau ada cewek cantik, imut dan nggak ngebosenin dipandang, suka sama dia."

Bukan itu saja. Bahkan Kanya mendekati Agam yang sedang sendirian di mana pun dan melempar kode keras jika ia menyukai cowok itu walau Agam tidak pernah meresponsnya. 

***

Kanya masih belum menyerah. Sampai tiba-tiba teman Agam meminta berbicara dengannya yang membawa kabar mengejutkan.

"Lo tahu, Agam nggak suka sama cewek serampangan. Agam juga nggak suka sama cewek yang sering ngomongnya kenceng. Tipenya itu ya … sebelas dua belas sama Dara gitu lah." Faizal yang sering dipanggil Jal oleh Kanya pun menatap tak enak padanya. "Jangan nyerah kalau memang beneran suka, Nya. Itu sih, yang Agam bilang ke gue. Katanya dia udah mulai suka sama lo."

Manik cokelat Kanya berbinar, "Seriusan?!"

"Iya. Lo itu diibaratkan buah yang lagi dibungkus biar nggak dimakan serangga. Dan kalau udah mateng pasti dipetik. Makanya, lo tetep kayak gini aja, atau berubah lagi jadi lebih baik." Faizal tersenyum tipis melihat Kanya yang menunjukan senyum semangat yang memang sering cewek itu umbar. "Pada saatnya nanti, Agam bakal ngambil lo, dan lo bakal jadi kesayangannya dia."

Binar mata Kanya semakin tak tertutupi lagi. Ternyata perjuangannya tidak sia-sia. Katakanlah dirinya terlalu naif dan menjadi "bucin". Karena mau saja menjaga jarak dengan sahabat yang jelas-jelas selalu ada untuknya demi Agam yang belum pasti akan membalas perasaannya atau tidak.

Kanya memang keras kepala. Karena ia masih saja yakin jika dalam waktu dekat ini dirinya akan menjadi pacar. Padahal sudah beberapa kali sahabatnya mengatakan jika Agam menyukai teman sekelasnya. Namun, ia sama sekali tidak memedulikan karena nyatanya cowok itu mulai menyukainya.

***

Kanya hanya tersenyum menanggapi teman sekelasnya lalu memilih meninggalkan kelas. Ia ingin mencari udara segar saja.

Kanya bahkan berjalan sambil menundukkan kepalanya. Berbeda sekali dengan dulu yang selalu menoleh kanan dan kiri sambil mengumbar senyum lebar. "Demi Agam, Nya. Demi Agam."

Entah mengapa langkahnya justru terhenti di taman belakang sekolahnya yang sepi. Ia mendudukan diri, menyandarkan tubuhnya pada sandaran bangku taman sambil memejamkan mata. Tempat ini lebih baik, dari pada ia harus tetap berada di kelas dan tergoda mengeluarkan sikap serampangan dan suka berteriak di kelas yang sudah tidak ia lakukan selama setengah tahun belakangan.

Namun, ketenangannya terganggu kala pendengarannya menangkap dua orang sedang berbicara serius.

Kanya tetap memejamkan matanya sambil menajamkan telinganya karena merasa tidak asing dengan suara itu. Agam.

"Raina, gue suka sama lo. Lo mau jadi pacar gue?" Kali ini suara Agam lebih lantang. Tidak ada sedikit gugup pun dari suaranya.

"K-kak Agam …."

"Please, Rain. Jangan tolak gue."

"Ta-tapi … gimana sama Kak Kanya? Dia jelas sayang sama Kak Agam," jawab lawan bicara Agam.

Kanya semakin memejamkan erat matanya mendengar namanya di sebut. Debuman jantungnya menggila. Hatinya menuntut jawaban Agam yang akan memuaskannya.

"Dia bukan siapa-siapa gue, Rain. Percaya sama gue, kalau gue cuma sayang lo."

CUKUP SUDAH! Air mata Kanya luruh begitu saja dengan mata yang masih terpejam erat. Ia tidak menyangka perjuangannya selama ini ternyata sia-sia. Faizal berbohong padanya. MANA?! MANA YANG KATANYA AGAM SUKA KANYA, HAH?! BULLSHIT! Batinnya berteriak. Air matanya tak terbendung lagi. Meleleh membentuk aliran anak sungai, begitu deras mengalir dan tidak mau berhenti.

TIDAK TAHU KAH JIKA KANYA SUDAH MENGORBANKAN APA PUN?! BAHKAN PARA SAHABATNYA?!

Bahu Kanya berguncang dan ia menangis tanpa suara. Kanya tidak bisa berteriak, tidak bisa meluapkan segala kekecewaannya. Kanya rela menjauhi sahabatnya, menuruti kemauan Agam. Ia rela tidak menjadi dirinya sendiri, demi Agam. Ia rela meninggalkan kesenangannya, sikapnya yang sebenarnya, meninggalkan kenyamanannya demi Agam.

TAPI INI BALASANNYA?!

Agam bahkan tidak memiliki rasa apa pun padanya. Dan dengan teganya cowok itu memberinya harapan palsu.

Katanya ia harus menunggu Agam mengatakan cintanya. Namun nyatanya, bukan mengatakan cinta padanya justru pada orang lain.

"Makanya, Nya, kalau ada sahabat nasihatin tuh didengerin. Sakit sendirian kan, lo," kata Aira.

 Kanya menoleh, lalu terkekeh miris.

"Gue nunggu setengah tahun lebih. Tapi dia malah nembak cewek lain. Kedengeran sampai telinga gue lagi." Kanya mengusap air matanya kasar. "Gue kehilangan semuanya, Ra." Ia kembali terisak. Dan kini, ia masuk ke dalam pelukan Aira.

"Kata siapa, hm? Lo masih punya gue, lo pu—" Perkataan Aira terputus karena sudah diserobot lebih dulu oleh Kanya.

"Gue nggak dapet Agam, gue kehilangan Rumpi Squad, gue nggak bakalan lagi kayak dulu sama temen sekelas, Ra. Gue kehilangan segalanya." Kanya menepuk dadanya berkali-kali. Berharap rasa sesak bercampur sakit itu menghilang walau sebentar saja.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya