Kau tahu? Wanita itu di anugerahi sebuah rasa yang paling sederhana, rasa ini juga yang akan melindungi dia dari cemoohan dunia, dialah rasa “malu”. Rasa yang mungkin di era yang sudah menua rasa ini mulai berkurang, bahkan hilang, sebuah tanda akhir zaman yang mencengangkan. Kau tahu rasa malu itu adalah rasa yang aku syukuri ada di hatiku. Rasa yang melindungi hati, perasaan dan juga jiwaku. Ah aku jadi malu sendiri, jika teryata sebenarnya aku bersembunyi dari perasaan ini dengan rasa itu.

Cinta itu adalah sebuah anugerah yang Maha Kuasa. Cinta yang pada dasarnya aku dan kamu sama sekali “nol” berawal dari tak ada rasa. Jika kau bertanya apa hubungan kita sebenarnya, maka aku akan jawab tegas teman berbagi cerita. Sungguh di awal cerita rasa ini pertama tak ada. Sungguh di awal cerita hanya kagum akan sosokmu yang membuatku merasa “suka”. Kau tahu aku tak begitu dekat dengan lelaki, sikapku yang jutek dan angkuh membuat para makhluk ini akan melipir menyingkir menjauh. Aku syukuri itu, selamat dari hal yang dilarang agama.

Kita tak pernah se-iya sekata, kita selalu berbeda pendapat, sharing hal-hal sepele hingga hal-hal yang diluar nalar, bernbagi cerita sederhana. Kau tahu kan apa itu? Anime yup kita sama-sama suka dengan itu, meski dengan genre yang berbeda. Kita berbeda pendapat, meski kenyataannya genre yang kau pilih membuat aku tepok jidat. Lagi-lagi aku sadar kita berbeda kesukaan, karena itu aku hargai pilihanmu. Mungkin itu adalah rasa kagum kedua setelah sikapmu yang selalu ingin mengayomi itu.

Golongan darah “B” tipe moody, mungkin konyol jika kita percaya ini, tapi kenyataanya, kau memang berubah sesuai mood dan situasi, cuek dan flat expression, ya itulah kamu. Aku suka hal itu, sifatmu yang logis dalam menangkap situasi, selalu santai dan tak terasa dibebani. Apaadanya dirimu tak menjadi soal pendapat orang.

Inilah mungkin rasa-rasa yang hadir tak sengaja mengisi relung hatiku, rasa sederhana yang mulai mengusik batinku. Maaf jika rasa cinta ini tak pernah terucap barang sesaat. Karena rasa malu adalah benteng terkuat dalam hidupku yang aku punya. Aku menjadi penyemagat dalam doa menabuh gendang rasa lewat lantunan ayatnya, menyebar benih cinta lewat perangai tanpa makna, menyiram kelopak hati dengan air mata yang tenggelam.

Advertisement

Aku pernah cemburu kepadamu, sekali waktu rasa “konyol” ini masuk ke relung hatiku, numpang numpang lewat untuk menyeruak hati-hati saat kebaikan dan tindakanmu membuat jengkel diri. Sekali lagi watak kita yang berbeda ini yang membuat salah sasaran.

Kembali ke rasa itu entah kapan aku juga tak tahu, tapi kenyataanya namamu tertulis indah di skripsiku (tentu dengan sebuah kode), apa aku berdoa untuk bersanding denganmu? Tentu saja tidak. Aku menulisnya dengan sederhana, sesederhana saat kau membantuku tanpa kau sadari, sesederhana segala cerita yang mampu menenangkan isi jiwaku, sesederhana kata-katamu yang mampu mengetuk hatiku yang beku. Teramat sederhana.

Cinta dalam diam, ini yang aku rasa. Saat kita sama-sama diam membahas hal yang tak jelas tanpa sebuah ikatan, membalas hal-hal konyol yang tak jelas jlunturang. Tapi mampu membuat jantung berdetak kencang, mapu membuat sebuah penilaian baru akan sebuah sikap dan perhatian, mampu membuka pintu hati yang selama ini terkubur dalam-dalam.

Rasa ini mulai tumbuh tanpa aku sadari, mulai menyebut namamu dalam doa, mulai bersikap egois akan sifatmu yang tak karuan, mulai menjalankan egoism sendiri untuk mengatur, hal sederhana yang membuat aku merasa kesal tanpa babibu.

Kau tahu sebuah keluarga punya aturan sederhana, seperti batas tak tertulis yang mengikat, soal pernikahan. Tak terkeculai kedua orang tuaku. Sebuah perjodohan di depan mata, sebuah akhir tragis jika aku tak menikah dengan seseorang yang aku sebut dalam doa, sebuah akhir kepasrahan diri saat teryata dirimu yang aku nanti tak kunjung datang menghampiri. Air mata sudah jatuh tak terbendung, diatas sajadah aku merengkuh namamu, dalam sujudku sekali lagi namamu yang aku sebut. Tak inginku seperti siti nurbaya menikah karena perjodohan.

Sebuah tawa pahit yang tersungging disudut bibir, akhir sebuah kisah sederhana, pekik batin tak bertuan ini. Jikalau orang mengatakan “mungkin kau tak disatuka dengan dengan orang yang kau sebut dalam doa tapi disatuka dengan orang yang menyebut namamu dalam doa” maaf aku sama sekali tak setuju. Karena bagiku rasa itu sebuah proses, hati ini tak hanya ingin didampingi dan dilindungi tapi kenal sepenuh hati dengan sang pemilik rusuk sejati.

Sebuah dateline tergantung didepan mata, apa cinta diam-diam ini akan berakhir tragis dan menyakitkan, rasanya benar-benar menyedihkan. Sebuah dilema mengisi hati terkecil, apa aku harus diam dan menerima atau mengungkapkan rasa meski akhir cerita mudah ditebak jalannya. Aku memahaminya tak mungkin dia punya rasa dengan gadis setengah gila seperti aku, tak mungkin rasa itu hadir dengan banyak keburukan dalam hidupku.

Seolah hidup tak ada lagi harapan, seolah butiran elegy-elegi menatap tajam. Nampaknya ini sebuah akhir, tapi mungkin aku tak akan pernah menyerah meski sesaat, meski sebuah benteng itu yang akan menghancurkan hatiku saat cinta bertepuk sebelah tangan, bagiku itu jauh lebih baik, disbanding jika kelak aku menikah dengan membawa rasa untuk orang lain, mungkin akan jadi penyesalan terbodoh dihidupku.

Cinta sederhana yang aku pupuk tanpa sengaja, cinta diam-diam yang tak mmapu aku terjemahkan lewat kata. Hingga aku memutuskan untuk membuang rasa malu , rasa yang melindungiku selama ini. Sebuah tanda Tanya sederhana, saat kau bertanya. “apa kau siap” adakah yang kau suka”.

Hatiku rasanya sakit, kau selalu logis membuat hatiku semakin miris, sebuah kata-kata yang mampu menikam hatiku yang terdalam, membantingnya jatuh kelubang jurang. “ada seorang yang aku tunggu” jawaban sederhanaku, ingin sekali berteriak itu kamu. Tapi tak mungkin hati ini berlaku seperti itu.

Tangisan itu mulai menderu, sekali lagi ayat-ayat Nya basah oleh air mataku, sekali lagi rasanya hati hancur tak karuan. Kata “if I say “yes” that is you” apa yang kau pikirkan. Hatiku terasa terlontar jauh, rasa malu ini tenggelam makin dalam. Apa pintu langit terbuka?? Apa doaku terkabul, apa hatinya luluh? Jawabannya membuat sebuah penantian panjangku luruh. I will take responsible.

Mungkin ini adalah akhir penantianku, cinta diamku , rasa malu yang sudah menguar keluar, rasa yang aku pendam , membuatku tak lagi menyesal.

“Yaa muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘aladiinik”. Terimakasih Engkau Sang Pemilik segala rasa, Sang Pemilik dunia, Sang Pemilik isi raga. Jika ini jalan terbaikmu semoga pertemuan indah itu disegerakan.