Di setiap episode hidup ini

Harapku akan sebuah cinta yang istimewa tak pernah pudar

Advertisement

Menjemputku menuju mahligai impian yang kubangun di atas detak-detak waktu

Dan hingga detik ini, asaku masih coba kubangun

Meski ujung jalan ini seperti sebuah labirin yang tak berujung

Advertisement

~Saki~

(Jakarta, April 2016)

____________________________________

Namaku Saki. Lengkapnya Sakina Wardah.

Kupandangi kalender di meja dengan hati tawar. Dua hari lagi, adalah ulang tahunku. Ulang tahun kesekian di angka usia kepala tiga. Aku malas menyebutkan berapa persisnya usiaku, tapi yang pasti di atas 35 tahun dan di bawah 40 tahun. Usia yang matang bagi seorang wanita, tapi terlalu matang bagi seorang wanita lajang. Kata orang, usiaku kini adalah usia dimana hati seorang wanita mulai pasrah untuk urusan jodoh. Tak lagi menggebu-gebu seperti wanita berusia 20 tahunan. Juga tidak panik lagi seperti wanita berusia 30 tahun.

Aku, dengan usia yang menjelang 40 tahun ini, mencoba memaknai takdirku sebagai sebuah ujian, bukan kutukan seperti yang dilontarkan orang-orang tua di kampungku. Aku, di usia yang tak lagi belia ini, mencoba bersikap lebih tenang menghadapi desakan dan cibiran orang. Aku mencoba berdamai dengan keadaanku, meski sesungguhnya di lubuk hatiku yang paling dalam ada kegalauan yang menghentak.

@@@

Lampu merah masih menyala ketika sebuah mobil pribadi berhenti di samping bis yang kutumpangi. Pengemudinya seorang laki-laki muda berusia sekitar 35 tahunan, di sampingnya seorang wanita berkerudung tengah memangku bocah berusia sekitar satu tahun. Di belakang mereka duduk manis dua anak berusia sekitar 4 dan 6 tahun. Sebuah keluarga yang lengkap dan mereka tampak bahagia.

Kontras! Itulah yang kurasakan saat melihat diriku. Padahal aku kurang apa? Aku tidak jelek-jelek amat. Otakku cukup encer. Pekerjaan lumayan bagus. Kurang apalagi syaratnya? Begitu banyakkah syarat yang harus kupenuhi untuk bisa melangkahkan kaki ke sebuah mahligai bernama pernikahan?

Ada gelombang protes menggemuruh di balik dadaku. Kenapa rasanya semuanya begitu sulit bagiku? Apalagi yang menjadi pertimbangan takdir hingga aku masih belum juga dianggap layak untuk mengarungi bahtera rumah tangga? Rentetan pertanyaan terus menggerogoti benakku yang panas.

"Cawang habis, ya!" teriakan kondektur bis patas AC mengejutkanku. Terburu aku bangkit dari bangku dan melangkah menuju pintu. Perjalanan kulanjutkan dengan menumpang sebuah angkot.

"Permisi," sapaku saat melewati seorang penumpang angkot yang duduk dekat pintu. Seorang laki-laki separuh baya.

"O, iya, silakan, Bu," jawabnya memberi jalan.

Aku menuju bangku paling pojok dan membuka jendela lebih lebar agar udara masuk lebih leluasa. Kulirik sejenak laki-laki yang duduk di dekat pintu tadi. Dia memanggilku dengan sebuatan ‘Bu’ dan itu bukan pertama kali aku dengar. Entah kenapa aku tidak begitu suka dengan sebutan itu. Bukan cuma karena aku merasa bukan ibu-ibu tapi sebutan itu membuatku jadi merasa tua.

Tua? Ya Tuhan, bukankah aku memang sudah tua? Maksudku, sudah cukup tua dan cukup pantas untuk dipanggil dengan sebutan ‘ibu’. Aku menelan ludah, menatap galau jalanan yang dipadati manusia dan mobil-mobil penuh polusi. Dadaku ikut sesak menyaksikan debu yang berterbangan.

@@@

"Magriban dulu, Mbak," sambut adikku, Samira.

"Emang Ibu mau bicara apa sih, Mir?" tanyaku penasaran.

"Nanti tanya sendiri aja sama Ibu," jawab Samira sambil tersenyum.

Aku mendelik gemas, pakai rahasia-rahasia segala. Hmm… Jangan-jangan menanyakan kapan aku akan menikah. Atau mau menjodohkan aku dengan seseorang? Hatiku mulai tidak enak.

Sehabis shalat Magrib, aku langsung ke kamar Ibu. Beliau memang selalu mengajak anak-anak ke kamarnya jika ingin bicara sesuatu.

"Kamu sudah shalat Saki?" tanya Ibu menyambutku.

"Sudah, Bu," jawabku singkat seraya duduk di kursi yang terletak dekat ranjang Ibu. Samira mengikuti di belakangku, lalu mengambil tempat di samping Ibu, duduk di pinggir ranjang.

Ibu menatapku dan Samira bergantian. Dengan helaan napas agak panjang beliau memulai pembicaraan.

"Saki, Ibu mau membicarakan tentang adikmu Mira," Ibu melirik Samira sejenak. Aku menarik napas lega, ternyata bukan tentang aku.

"Samira mau dilamar orang," tambah Ibu lagi.

Aku tersentak. Kupandang Samira yang mengangguk ke arahku. Ternyata yang akan dibicarakan Ibu kali ini lebih menyesakkan ketimbang pembicaraan mengenai statusku. Adikku akan dilamar orang, dan itu artinya aku akan dilangkahi!

Kutatap mata Samira dalam-dalam. Setega itukah dia padaku? Selama ini kami selalu bersama karena kami memang hanya dua bersaudara. Sejak Ayah meninggal belasan tahun yang lalu, kami semakin merasakan kebersamaan itu. Hanya Ibu yang selalu ada di antara kami.

"Maaf, Saki. Kamu mungkin kecewa mendengar semua ini. Tapi Ibu tidak bisa lagi berbuat banyak. Selama ini Mira selalu menolak untuk menikah muda demi ingin melihatmu menikah lebih dulu. Tapi kini dia juga sudah tidak belia lagi, Saki. Umur Mira kini sudah 33 tahun. Dan alhamdulillah ada laki-laki baik yang ingin melamarnya, jadi Ibu pikir ini adalah kesempatan buat dia," urai Ibu panjang lebar.

Aku menunduk, menatap lantai dengan nanar. Ya, aku mengerti sekali. Umur Samira memang sudah cukup matang untuk segera menikah. Empat tahun yang lalu, usiaku persis sama dengan usia dia sekarang, dan saat itu aku sudah merasa sangat tua. Jadi aku bisa merasakan perasaan adikku saat ini.

Aku memang tidak boleh egois, memaksa Samira untuk terus antre di belakangku sementara aku masih belum juga menemukan jodohku. Tidak mungkin menyuruh dia menunggu tanpa batas waktu. Aku juga mengerti perasaan Ibu, memiliki dua anak perawan yang sudah cukup umur namun masih melajang. Beliau pasti malu, pasti tertekan mendengar gunjingan tetangga.

"Kamu tidak marah kan, Saki?" tanya Ibu pelan.

Aku menggeleng tak kalah pelan, "Tidak, Bu. Memang sudah saatnya bagi Mira."

Samira menatapku, ada kilatan bening di kedua matanya. Ada rasa bersalah di sana. Aku tersenyum, berpindah duduk di sampingnya. Meraih kedua tangannya ke pangkuanku.

"Kamu harus yakin, Mira. Jangan menatap ke belakang, masa depanmu ada di depan mata," kataku berusaha tegar.

Samira hanya diam, lalu perlahan ia merebahkan kepalanya di bahuku, memelukku erat. Dia memang tidak bicara sepatah katapun tapi aku tahu air matanya yang kemudian deras mengalir adalah sebuah permintaan maaf sekaligus permintaan izin untuk melangkahiku. Dan aku mengizinkannya, meski sebenarnya itu tak perlu karena takdirnya yang menentukan. Dan ia juga tak perlu meminta maaf, sebab selama ini Samira sudah cukup bersabar menungguku.

Bersambung…

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya