Lama memang perasaan ini sudah kupendam di dalam hati, lama sekali sejak pertama kali melihatnya jadi siswa baru di sekolahku. Pertama menatap matanya dalam satu kegiatan MOS sekolah saat itu, hatiku sudah langsung tertambat padanya, ada rasa yang yang tak mampu kudefinisikan berkembang di hatiku.

Sejak saat itu, setiap kali sampai di sekolah, mataku selalu mencari keberadaan dia dimana. Jangankan bisa bertegur sapa, dia tersenyum atau melirik saja padaku, rasanya sudah seperti menang lotre saja,

Advertisement

Dalam pandanganku dia begitu cantik, senyumnya manis, sorot matanya tajam, namun dia begitu kalem dan pendiam. Terlihat begitu anggung dan mempesonaku. Rambutnya pandek hampir sebahu dan selalu diikat satu. Penampilan yang khas dan saderhana, Mungkin karena aku lahir dari keluarga yang biasa-biasa saja, bukan orang kaya dan juga bukan orang yang miskin banget, aku lebih tertarik dengan cewek yang terlihat sederhana.

Sebagai laki-laki yang baru beranjak remaja, yang mulai benar-benar tertarik sama cewek, membuat setiap waktu luangku hanya berisikan khayalan tentang dia, namun karena aku yang kurang percaya diri tak pernah berani untuk mengungkapkan perasaanku padanya.

Meski begitu besar rasa yang ada dalam dadaku, jantungku selalu berdebar lebih kencang bila melihatnya, namun aku tak pernah punya keberanian yang cukup untuk mengungkapkan rasa yang ada dalam hatiku. Bahkan sering kali aku mengayuh sepeda memutar di daerah tinggalnya, hanya berharap bisa ketemu dan melihatnya saja.

Advertisement

Meskipun begitu terobsesinya aku padanya, begitu banyak khayalan yang berkembang di kepalaku tentang dia, tetap saja aku tak pernah mampu mengumpulkan keberanian untuk mengatakan rasa itu padanya, aku hanya bisa memendam angan-angan itu sebatas impian saja. Bahkan hingga akhirnya aku tamat dari sekolah itu dan pergi merantau ke kota melanjutkan kejenjang sekolah yang lebih tinggi, karena saat itu sekolah lanjutan hanya ada di kota kabupaten saja.

Satu setengah tahun berlalu aku di rantauan, aku mengumpulkan keberanian untuk menyampaikan perasaanku padanya, dengan menulis sepucuk surat, menggunakan kertas wangi, lalu kut itipkan pada pak pos menggunakan perangko kilat, agar surat itu cepat sampai. Berhari-hari aku menunngu balasan surat dengan harapan mendapat kabar baik, atau sekedar balasan saja, biar aku tahu yang sebenarnya, tapi ternyata minggu berganti bulan pun tak ada balasan darinya.

Aku tak tahu apakah suratku sampai atau memang tidak di balas. Sementara untuk menanyakan pun aku tak berani, karena aku sangat tidak percaya diri. Hingga akhirnya musim liburan sekolah tiba, aku pulang kampung dan bisa ketemu dengan adik kelas di kampung.

Aku berusaha mendapatkan informasi dari teman dan kerabat yang bersekolah di sekolah itu, ternyata menurut cerita suratku memang sampai di sekolah itu tapi disensor oleh seorang guru yang belakangan aku tahu dia adalah kekasihnya. Dan aku pun kandas menyerah kalah, karena tak berani bersaing, tanpa tahu apakah sebenarnya dia suka denganku atau aku hanya bertepuk sebelah tangan, itu akhirnya tetap menjadi tanya tak terjawab hingga saat ini.

Perasaan yang kupendam tiga setengah tahun itu pun akhirnya berakhir tanpa jawaban yang pasti entah aku bertepuk sebelah tangan ataukah aku yang terlambat menyampaikan isi hatiku. Aku dan dia tak pernah ketemu lagi hingga akhirnya suatu ketika aku mendengar kabar kalau dia, gadis idolaku itu sudah menikah dengan guruku itu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya