Surat Terbuka Seorang Anak Tunggal: Jadi Anak Tunggal itu Nggak Enak. Heran Banyak yang Iri

Curhatan anak tunggal

Jujur saja saya tidak pernah tahu bagaimana itu hubungan antara adik atau kakak. Karena saya tidak pernah punya sama sekali. Sejauh yang saya tahu, saya hanya punya adik atau kakak sepupu yang saya temui sesekali, atau teman. Alasan itu juga yang selalu membuat saya enggan mengatakan apapun atau menilai atas satu hubungan bersaudara, yang saya sayangkan adalah banyak orang yang tidak bisa berpikiran sama dengan saya. 

Advertisement

Bukan cuma satu atau dua kali rasanya saya mendengar orang berkata, bahkan rasanya semua orang yang saya temui mengatakan hal itu setelah mendengar bahwa saya anak tunggal, "ah enak elo mah anak tunggal!" atau kalimat semacam, "ya lo mah anak tunggal gak punya tanggung jawab apa-apa!" sungguh, semakin hari semakin sulit rasanya memaklumi ucapan seperti itu.

Seperti yang sudah saya utarakan di awal, saya selalu berusaha untuk tidak berkata, "lo mah enak punya kakak!" atau "seru ya lo punya adik!" karena saya tahu, itu hanya penilaian saya semata, bukan yang sesungguhnya terjadi. Karena jika saya memutuskan untuk bersikap egois seperti mereka, inginnya saya berkata, "enaknya lo mah punya kakak, kalo ada apa-apa, bisa minta tolong, ada yang bantuin!" atau "enak ya lo mah punya adik, nggak sepi di rumah!" 

Tolong dengarkan, sekali ini saja. Jadi anak tunggal tidak semudah itu. Ya mungkin akan semudah itu jika saya Rafathar atau anak seorang sultan. Hanya mungkin. Tapi untuk saya, dan saya rasa bukan saya satu-satunya, menjadi anak tunggal itu sulit dan sungguh bukan beban yang ringan. Secara finansial, tentunya saya harus memikirkan bagaimana orangtua saya karena sekarang mereka sudah tidak bekerja. Ya, jelas saya tidak punya kakak atau adik untuk dimintai tolong atau istilahnya "patungan". Saya benar-benar harus menanggung semua itu seorang diri. Belum lagi pada kasus orangtua saya, Ayah saya memiliki tanggungan beberapa orang keponakannya, dan setelah beliau tidak bekerja, tentunya itu beralih menjadi tanggung jawab saya.

Secara sosial, di umur saya saat ini, orang mulai bertanya kapan saya akan mulai berumah tangga. Saya tidak pernah bisa menajawab pertanyaan itu, karena itu pertanyaan yang sangat sulit. Bukan apa-apa, tapi yang saya pikirkan jika saya menikah. Saya harus berkompromi dengan suami, tapi apakah suami saya bisa berkompromi dengan kehidupan saya, si anak tunggal yang tidak punya pilihan lain selain tetap bersama orangtua nya ini?

Bisakah, tolong mulai saat ini berhenti berkata bahwa jadi anak tunggal itu enak?

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Editor

Not that millennial in digital era.

CLOSE