Dahsyatnya Naluri di Dalam Diri, Sebuah Dorongan Hati yang Selalu Memahamimu

Naluri diri sendiri

Naluri merupakan sebuah kata yang banyak diucapkan oleh setiap insan manusia, namun masih banyak yang tidak menyadari kehadiran naluri dalam diri nya. Berbicara naluri, jika diartikan berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti sebuah dorongan hati atau nafsu yang dibawa sejak lahir dan sebuah pembawaan alami yang tidak disadari mendorong untuk berbuat sesuatu.

Advertisement

Naluri atau banyak disebut sebagai intuisi juga, ternyata berperan sangat besar dan cukup bekerja keras setiap hari nya di dalam diri kita. Akan tetapi, naluri masih kerap terkalahkan dengan apa yang ada di otak kita.

Berbicara mengenai naluri tentu berbeda dengan pikiran. Naluri berada di hati, sedangkan pikiran berada di kepala atau otak. Oleh karena itu ada pepatah “ikuti apa kata hatimu”. Ini berarti ikut apa kata naluri dalam diri.

Sebuah naluri selalu benar, mengapa? Karena tanpa disadari, intuisi diri kita yang paling mengetahui siapa diri kita, apa yang kita butuhkan, apa yang baik dan tidak untuk diri kita. Naluri dapat membantu kita dalam bidang apapun. Hal ini pun sudah saya rasakan sendiri. Bagaimana sebuah intuisi menguasai diri saya, yang ternyata selama ini tertutupi dengan dominasi kerja otak.

Advertisement

Intuisi dan otak setiap hari nya selalu berkompetisi untuk dapat menguasai diri kita. Jika di ibaratkan, seperti “angel and devil”. Naluri mengatakan sebenarnya, sedangkan pikiran otak selalu menolak untuk menerima pesan dari naluri kita. Maka dari itu, sistem penerimaan pesan terhadap diri sendiri akan sangat baik apabila naluri dan pikiran dapat bekerjasama.

Proses untuk dapat mempercayai naluri atau intuisi tidak mudah. Saya sendiri membutuhkan waktu dua tahun untuk akhirnya dapat menggunakan intuisi yang ada di dalam diri. Dimulai dari belajar self-healing dengan metode meditasi. Metode ini menurut saya sangat membantu dalam proses menuju konektivitas diri dengan intuisi.

Advertisement

Ketika meditasi, individu diminta untuk merileksasikan pikiran dan menerima apa yang intuisi ingin tampilkan. Seperti ketika sedang banyak pikiran yang berdampak pada fisik dan mental. Individu akan diminta untuk tidak memikirkan permasalahan tersebut, dan akan diarahkan membayangkan suatu hal yang menenangkan. Contohnya, berada dibawah air terjun. Individu diinstruksi membayangkan sedang berada dibawah air terjun, dan membayangkan dirinya dibasahi oleh setiap air yang mengenai tubuhnya dari ujung kepala hingga kaki. Di proses ini, kita akan merasakan ketenangan. Lalu, mulai lah naluri atau intuisi kita bekerja.

Membangunkan perasaan yang tenang, dilanjutkan dengan menginstruksi otak untuk memutar rekaman yang mungkin menyakiti diri kita. Kemudian, kita akan merasakan berbincang dengan diri kita sendiri dan di saat itu lah intuisi membantu kita, serta memberikan solusi atas apa yang menimpa diri kita.

Contoh lainnya, ketika kita dendam dengan seseorang. Mungkin setiap hari kita merasa dihantui dengan orang tersebut. Apa yang mereka lakukan masih teringat jelas dalam otak kita, hingga akhirnya berdampak pada psikis kita. Dalam hal seperti ini, naluri kita tidak bekerja secara maksimal, mengapa? Karena dominasi kerja otak yang menguasai diri.

Bagaimana agar naluri nya dapat membantu? Melakukan meditasi atau menenangkan diri. Hingga akhirnya kita dapat menemukan jawaban “mari maafkan apa yang pernah terjadi”. Ketika kita sudah mendapatkan jawaban ini di dalam diri, saya sangat yakin perasaan kita akan berubah. Ketenangan yang menghampiri diri. Jika sebelumnya merasakan gundah gelisah, kebencian, namun kala kita mendengarkan intuisi yang ternyata berbanding terbalik dengan apa yang kita pikirkan, saya meyakini di saat itu lah naluri selalu benar sedangkan pikiran tidak selamanya benar.

Pada akhirnya, dapat disimpulkan jika setiap bagian dalam diri ini memiliki perannya masing-masing. Otak untuk memikir secara logika, dan naluri untuk berpikir secara perasaan serta berperan untuk mendeteksi apakah hal ini baik atau tidak. Memahami intuisi diri sendiri, saya yakin tidak akan membawa diri ini dalam lubang keburukan. Kembali lagi, karena hanya intuisi atau naluri ini yang mengerti dan memahami siapa diri kita. Selalu pakailah nalurimu di setiap pijakan yang dilalui.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

CLOSE