Untuk semua keberadaan rasa, Aku mensyukurinya. Bahkan untuk setiap relung hati yang telah terbuka. Aku memeluknya. Seindah apa pun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda? Dapatkan ia dimengerti jika tak ada spasi? Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak? Dan saling menyayangi bila ada ruang?

Aku kembali bertanya pada sesap-sesap kopi yang masih tersisa di bibirku. Pahit manisnya bercampur satu pada aroma vanilla latte yang sedari tadi telah ku genggam. Semakin ku sesap, semakin ku merasakan sesak pahit manisnya skenario buatannya.

Advertisement

Dia terukir indah di setiap bagian buku bersampul merah itu. Bahkan di setiap lembaran-lembaran origami hati miliknya. Namun apakah maknanya bila pada akhirnya dandelion kembali memilih untuk menerbangkan bunganya?

Dia terbang, pergi jauh melintasi jagad raya. Meniti kehidupan yang penuh kesulitan. Hingga pada suatu hari nanti, sejauh apapun dia telah pergi, dia akan kembali, dia akan kembali ketempat dimana hati telah memilihnya.


Terkadang keadaan membuat cinta terasa amat menyakitkan, akan tetapi kesejatian cinta tidak akan pernah berakhir manakala pengorbanan cinta itulah yang menjadi pemeran utamanya. Cinta tidak akan pernah salah. Cinta tidak mengenal batas. untuk cinta yang bertepuk sebelah tangan sekalipun


Advertisement

Saat itu, aku duduk termenung di tepian tempat tidur bersprai polkadot milikku. Dengan rapi ku coret origami-origami hati yang kumiliki. Ku isi semua ruang kosong yang dipenuhi kehampaan pada dinding yang polos bercat harapan milikku. Sedikit demi sedikit kunikmati kopi buatannya. Entah sedari kapan aku memilih untuk mulai menyukai kopi, entahlah. Akupun tak terlalu menyadarinya.

Tak ada arti yang cukup berarti jika kita tak mulai menyapa kala itu. Saat dimana aku hanya berdiri tegak diantara keramaian orang, mencoba melihat senyum terindah yang kau miliki dari kejauhan, terlihat jelas di lensaku.

Untuk semua konsekuensi. Akankah itu konsekuensi mencinta, atau sebelah tangan, aku menerimanya.


Pegang tanganku, tapi jangan terlalu erat, karena aku ingin seiring dan bukan digiring


Bahkan sama seperti sebelumnya, aku selalu merasakan hadirnya halus kasar tangan milikmu itu. Tangan kuat dikala mentari pagi saat itu menyinari kebekuan hatiku. Dan kau memilih untuk berdiri, hingga aku hanya bisa mendongakkan kepalaku mengikuti tubuh tegap kepunyaanmu. Kau mengulurkan tanganmu padaku, menopangku untuk bangkit berdiri hingga berlari kecil seperti anak kecil yang baru saja belajar berlari.

Seakan kau berkata kau akan selalu berada disisiku, menggenggam erat tanganku apapun yang terjadi selanjutnya. Bukan, kita bukan berbicara soal cinta. Namun rasa yang kini kusadari telah terbuka sepenuhnya untukmu. Rasa yang kujaga selama ini agar jatuh pada orang yang tepat. Aku bisa merasakannya. Sungguh.

Bahkan pada saat namamu tiba-tiba muncul dalam doaku, dan aku tidak mengganggapnya sebagai kesalahan yang perlu koreksian pada saat ulangan harian.


Ada dunia di sekelilingmu. Ada aku di sampingmu. Namun, kamu mendamba rasa sendiri itu


Bahkan saat yang sama ketika kau berkata kau akan selalu ada disampingku, akupun tak terlalu menyukainya. Karna aku dapat dengan jelas melihat semua kebohongan di mata hitam indah milikmu di pagi itu.

Untuk melupakanmu masalaluku, aku menyimpan memori indah saat-saat itu. Dan kupercaya, akan tiba saatnya hati benar-benar memilih untuk berlabuh atau kembali mengubur masa-masa itu.


Hidup akan mengikis apa saja yang memilih diam, memaksa kita untuk mengikuti arus agungnya yang jujur tetapi penuh rahasia. Kamu, tidak terkecuali.


Bahkan aku tak dapat berpikir rasional untuk membedakan ketulusanku yang tersimpan pada setiap origami hati milikku. Aku bahkan tak menyadari begitu rapuhnya hidup yang kumiliki, bahkan mungkin pada saatnya akan bersama berlalu dengan angin yang menerbangkan setiap bunga dandelion, dan akhirnya akan memilih untuk menerbangkan semua kenangan yang kumiliki, tidak terkecuali tentangmu.

Semua rasa, amarah, suka, rindu, bahkan emosi akan bercampur satu, kembali memilih pergi bersama sang angin. Dia, yang tidak pernah kamu mengerti. Dia, racun yang membunuhmu perlahan. Dia, yang kamu reka dan kamu cipta. Sebelah darimu menginginkan agar dia datang, membencimu hingga muak dia mendekati gila, menertawakan segala kebodohannya, kehilafan untuk sampai jatuh hati kepadamu, menyesalkan magis yang hadir naluriah setiap kalian berjumpa. Akan kamu kirimkan lagi lukisan monokrom wajahnya, coklat buatanmu, semua tulisanmu,dari mulai nota sebaris sampai doa berbait-bait. Semoga dia pergi dan tak pernah menoleh lagi. Hidupmu, hidupnya, pasti akan lebih mudah.

Aku kehabisan kata-kata untuk menuliskan semua kebenaran yang telah kumiliki. Kebenaran yang pada akhirnya menyuruhku merenungkan sebait kata. Yaitu takdir yang hanya mempertemukan namun tidak mempersatukan.


Keheningan mengapungkan kenangan, mengembalikan cinta yang hilang, menerbangkan amarah, mengulang manis keberhasilan dan indah kegagalan. Hening menjadi cermin yang membuat kita berkaca-suka atau tidak pada hasilnya.


Dan kenyataannnya lelah telah mengakhiri segalanya dengan mengatasnamakan kasih sayang. Dengan semua gejolak didada, aku mengakhirinya. Jangan lumpuhkan ia dengan mengatasnamakan kasih sayang.


Kalau saja hidup tidak berevolusi, kalau saja sebuah momen dapat selamanya menjadi fosil tanpa terganggu, kalau saja kekuatan kosmik mampu stagnan di satu titik, maka…tanpa ragu kamu akan memilih satu detik bersamanya untuk diabadikan. Cukup satu. Kamu….


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya