Mungkin terkesan terlalu gombal jika ku bilang bahwa aku datang hanya untuk satu senyum saja darimu. Sebab seperti kau tahu senyummu itu masih sangat berarti bagiku. Sejak awal kita saling mengenal untuk pertama kalinya, tatapan matamu dan senyumanmu adalah kesan pertama yang membuat hatiku terpaut oleh pesonamu.

Wajah gadis desa yang lugu, sederhana dan alami, tanpa tata rias atau dandanan yang berlebih. Kau tampil sederhana namun di mataku kau seperti magnet pemikat yang membuatku berusaha terus melihatmu lagi dan lagi. Termasuk saat segala kenyataan sudah mengatakan bahwa kita sudah tak ada ruang dan waktu lagi untuk memiliki sebuah kebersamaan, yang bisa jadi merupakan impian kita bersama. Kenyataannya kita harus rela bahwa itu tetap hanya sebuah mimpi yang takkan pernah jadi nyata.

Advertisement

Setelah rentang waktu puluhan tahun berlalu, kita kehilangan kontak tak tahu dimana masing-masing berada. Kenyataan antara kau dan aku juga telah jauh berubah. Kini waktu sepertinya memberi kita kesempatan saling tahu keberadaan masing-masing, meskipun kita sebenarnya berada dalam kota yang sama dalam jarak yang cukup dekat.
Namun tak pernah bertemu atau saling tahu.

Ketika waktu memberi kita ruang, semua sudah bagai dilema. Entah harus disyukuri atau disesali. Sebab semua ini telah jadi tak mungkin. Namun ada hal yang tak bisa berubah meski begitu banyak hal telah jauh berganti.Tatapan matamu dan senyummu masih tetap seperti sejuta magnet yang memikat hati.

Permintaanmu masih seperti hipnotis yang mampu menarik langkahku ke arahmu.
Hanya untuk sekedar bisa melihat wajahmu, tatapan matamu dan senyum manismu.
Hanya itu, dan melihat itu saja seperti biasanya hatiku sudah senang dan tenang, seperti habis menang undian besar.

Advertisement

Meski kini kau sudah akrab dengan kemajuan zaman, tak lagi sesederhana dan sealami dulu. Namun pesonamu tak sedikit pun berubah. Aku masih tetap tak berdaya untuk melupakanmu dan bahkan mungkin aku tak berharap untuk bisa melupakanmu.

Bagaimana mungkin?
Sebab ketika aku terpejam wajahmu dengan senyuman itu masih selalu terbayang, seperti tehampar jelas dalam pikiranku.

Dan aku hanya bisa tersenyum sendiri.

Aku berusaha menguasai diriku kembali, agar tak kembali terbuai angan-angan yang tak berkesudahan akan dirimu. Semua yang sempat reda seperti bergolak kembali dengan cara yang sama, seperti yang dulu dengan mudahnya kau kobarkan api asmaraku. Yang meski sempat terbenam dalam kubangan waktu, namun seketika bangkit kembali oleh seulas senyumanmu saja.

Apapun adanya kini, rasa ini akan tetap ada di sini seperti dulu. Aku sadar sepenuhnya bahwa segalanya hanyalah akan menjadi cerita indah yang tak pernah lekang oleh waktu meski ada cerita lain yang pernah silih berganti, dan kau pun sepakat itu.

Aku juga tahu bahwa apa yang kita rasakan hanya kita yang tahu. Dan yang aku minta padamu, tetaplah tersenyum padaku meski dari jauh. Agar rasa ini tetap terpupuk abadi terpahat dalam-dalam di hatiku, dan gambar wajahmu akan terpajang berbingkai cerita manis di hatiku selamanya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya