Daripada Banyak Penderitaan, Lebih Baik Bercerai

Anak lain tidak ingin orang tuanya bercerai, maka dia adalah anak yang menginginkannya.

Pernikahan adalah suatu ikatan yang begitu sakral, namun tidak bisa dipungkiri jika dalam prosesnya terdapat situasi dan kondisi yang dapat menyulitkan. Sebetulnya, jika kedua pasangan mampu menghadapinya secara bijaksana, kedamaian pun akan terus berdentingan. Namun, siapa yang menyangka matinya kebijaksanaan dalam memecahkan solusi terjadi dalam kehidupan keluarga teman dekat saya. 

Advertisement

Kini, semua yang terlihat utuh dari luar belum tentu utuh dari dalam. Mungkin itulah yang menggambarkan kondisi keluarga kawan dekat saya yang satu ini. Entah tepatnya sejak kapan, tapi dia bercerita, jika dihitung-hitung, sudah hampir tiga tahun keluarganya kehilangan kedamaian dan keharmonisan dalam kehidupan sehari-harinya. 

Sejak mendengar kisah tersebut, saya mulai menyadari jika modal saling mencintai, kesiapan mental, dan finansial saja tidak cukup untuk membangun sebuah bahtera rumah tangga. Masih banyak rincian-rincian kecil lain yang harus dipertimbangkan dengan sangat matang, seperti kejujuran, kebijaksanaan dalam menemukan solusi saat harapan sudah benar-benar hilang, dan hati yang luas untuk saling memaafkan, kecuali rasa cinta itu memang sudah hilang di antara keduanya. Menurut saya, apabila rasa cinta itu sudah hilang, solusi terakhir adalah perpisahan. Itulah yang saya lihat dari kondisi orang tua teman saya saat ini. Jika tidak segera dipisahkan, penderitaan itu akan semakin menganga. Penderitaan itu tidak hanya berdampak kepada psikis pasangan itu, tetapi juga kepada anak-anaknya.

Kesehatan emosional

Advertisement

Rupanya, pasang surut kehidupan rumah tangga yang sudah dibangun selama 28 tahun itu tidak menjamin rasa saling menyayangi akan tetap terjaga. Pasalnya, saya melihat itu dalam keluarga yang diceritakan teman saya ini. Ayah dan ibunya, saat ini, sudah kehilangan empati satu sama lain. Hal itu telah merusak kebahagiaan dalam keluarganya dan berdampak pada kesehatan emosional mereka, termasuk anak-anaknya. 

Ini bukan masalah finansial, anak, atau perselingkuhan, tetapi lebih daripada itu. Iya, keduanya sudah kehilangan rasa saling menyayangi apalagi saling peduli. Kini, masalah-masalah kecil akan menjadi perdebatan hebat bagi mereka. Misalnya, ibunya yang hobi menonton sinetron di layar tv, tampak menjadi gangguan yang menjengkelkan bagi ayahnya. Tidak jarang ayah mengeyel dan mengeluarkan ujaran-ujaran menyebalkan yang membuat emosi ibu naik. Lalu, terjadilah pertengkaran hebat. 

Advertisement

Ketika cinta itu sudah hilang, kesehatan emosional mereka terus terganggu. Eksistensi mereka dalam satu atap itu menjadi sumbu terjadinya keributan, mereka menjadi sangat sensitif, dan kebencian semakin terlihat di antara keduanya. Alih-alih berdamai, mereka memilih untuk terus merasa terganggu ketika bersama–kenyaman itu sudah lekang. Tentu saja, kawan saya sangat prihatin melihat kondisi orang tuanya seperti itu. Secara tidak langsung, anaknya sudah ikut menderita.

Kesejahteraan anak

Tidak bisa dipungkiri jika perceraian seringkali memberikan dampak negatif, khususnya bagi kesejahteraan anak. Berbeda dengan kawan saya ini, menurutnya, perceraian justru merupakan cara untuk mendapatkan kesejahteraan–pun saya setuju dengannya. Berbicara soal anak, ayah dan ibunya adalah dua orang yang sangat mencintai dan menyayangi anak-anaknya. Kawan saya berkata jika dia dan kedua saudara kandungnya tidak pernah kekurangan kasih sayang. Kedua orang tuanya selalu menunjukkan cinta dan kasihnya, sangat bertanggung jawab dalam pemenuhan kebutuhan, hingga tidak pernah merasa kekurangan.

Saya pun melihat, jika dia adalah anak ayah sekaligus anak ibu. Sangat tampak dari bagaimana cara orang tuanya memanjakan hidup teman saya ini bahkan setelah masuk masa pertumbuhan dewasa. Namun ternyata, semua itu tidak menjamin jika dia hidup dalam keluarga cemara terka selama ini. Rupanya, bagi teman saya, rumahnya bukan lagi tempat tinggal yang menunjukkan kenyamanan. Jika dia tidak bercerita, saya tidak akan tahu dibalik manjanya anak itu terdapat luka yang telah lama dipendam. 

Bayangkan saja, ayah dan ibunya sangat perhatian kepadanya, tetapi saat orang tuanya saling berkontak, entah hanya melalui mata atau ada sedikit interaksi, pertengkaran itu akan dimulai. Setelah kawan saya memisahkannya, orang tuanya tampak legowo dan menunjukkan seolah sedang tidak terjadi apa-apa. Perasaan seperti dicambuk-cambuk, katanya. Bahkan, satu-satunya alasan mereka masih bertahan adalah karena anak, khususnya adiknya yang masih berusia belasan tahun. Adiknya sangat tidak menginginkan orang tuanya untuk bercerai, meskipun kawan dan kakaknya sudah setuju akan keputusan ini. 

Yang saya lihat, orang tuanya seolah hidup dalam penderitaan demi kebahagiaan anak-anaknya. Padahal, anaknya juga ingin melihat orang tuanya bahagia. Rasanya tidak adil, jika ibu dan ayahnya terus menderita dan saling menyakiti satu sama lain setiap hari. Sudah tidak ada solusi, rasa cinta di antara mereka sudah lama mati. Jangan bertanya mengapa tidak dicarikan solusi? Sudah berbagai cara, bahkan materi yang mumpuni bukanlah tolak ukur kebahagiaan mereka. Kekacauan mereka, tidak hanya perkara sering bertengkar setiap hari, bahkan satu tingkat lebih kacau dari itu–kekerasan dalam rumah tangga. 

Sejak semua berubah, rumah yang kini ditinggalinya bukan lagi rumah yang memberikan kebahagiaan. Apabila disandingkan, di kepala dan mata orang tuanya hanya terlihat kekecewaan, kemarahan, dan cacian. Tentu saja semua itu terjadi karena beberapa hal di masa lalu, seperti kejujuran yang tidak transparan, masalah yang terus berulang, menjadikan mereka kehilangan kepercayaan, dan tidak ada lagi kata maaf untuk kesekian kalinya. Dengan begitu, keduanya mudah saling menuduh, saling menyalahkan, saling memojokkan, dan perkelahian lah yang dihasilkan. Keduanya pun tidak bisa diselamatkan dan akan terus menabur penderitaan jika masih bersama. 

Maka, kawan saya berkata, jika dia bisa menentukan pilihan, dia ingin membantu kedua orang tuanya memiliki jarak dan mengeluarkannya dari ruang yang sesak oleh kemarahan. Dia ingin membebaskan keduanya dari hubungan yang sudah tidak ada lagi kebahagiaan, apalagi cinta di dalamnya. Tetapi, dia tidak punya kuasa. 

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Putri Amatul Noor.

CLOSE