Kepada Lara,

Demi rasa yang tidak akan pernah memudar, demi duka yang akan menjadi tawa dan demi lara yang akan selalu di cinta.

Kepada Lara yang aku sebut dengan cinta

Aku masih bisa merasakan hawa dingin dimalam itu. Sweater yang aku pakai tak lantas membatasi kulit tipisku dengan angin malam. Kertas yang kamu tinggalkan dimalam itu masih tersimpan rapi di sudut kamarku, tak cukup batin ini untuk membukanya.

“Jam 20:00 aku tunggu ditempat biasa”

Advertisement

Sending By Lara

Tak biasanya aku dapatkan pesan dari kamu, apalagi pesan yang begitu dingin dengan tanda tanya yang berada di bawanya. Biasanya kalau kamu pengen ngajak ketemuan atau cuman sekedar menghabiskan weekend bareng kamu bakal telfon aku, tapi kali ini tidak, kamu hadiahin aku dengan pesan pendek berikut dengan makna yang kamu tinggalkan yang sampai saat ini tak cukup kuat otak ini untuk menafsirkanya.

Ada apa lara?

Hati ini mulai bertanya-tanya

Seperti biasanya aku akan datang 15 menit lebih cepat dari waktu yang kamu tentukan. Aku terduduk bingung di atas batu yang sering kita gunakan untuk memperhatikan bulan yang tersipu malu diatas cakrawala. Dan tak jarang juga kita ke sini hanya untuk berbagi cerita dan bertukar senyum seakan tempat ini telah menjadi ruang nostalgia hanya untuk kita berdua dengan cahaya bulan menjadi padunya.

Tetapi hari ini ada yang beda. Aku datang dengan undangan yang tak biasa. Yang kalo bisa pesan pendek itu tidak pernah aku baca.

Bulan mulai menaikkan wajahnya ke atas singasananya dan begitupun dengan kamu yang baru datang dengan senyuman kecil yang menghiasi di wajahmu.

Dengan tatapan kosong yang kau bawa sedari tadi. Lima menit berlalu dan kita masih saja tak bersuara seolah olah dinginya malam membisukan kita berdua.

Lara…

Pintaku sedikit agar memecahkan suasana. Kamu masih diam seribu bahasa dengan secarik kertas yang ada ditanganmu yang dari tadi menjadi titik penglihatanku.

Kertas apakah itu apakah karena kertas itu kita dihadirkan disini sekarang?

Otakku mulai bergerilya memikirkan hal hal yang membuatku tidak berdaya, sesekali aku berusaha memejamkan mata berharap ini hanya guyonan semata

Saka?

Kamu mencoba memanggil namaku, bibir mungilmu mencoba untuk bersuara memecah kebisuan ini. Yang setiap aku mendengar suara yang keluar dari mulut kamu aku akan secara spontan tersenyum dan memandangi dalam dalam bola mata indahmu. Tapi apa daya kamu hanya bisa menyebutkan nama tanpa bisa melanjutkan dengan kata kata. Kamu ibaratakan seseorang yang memberikan teka teki dalam kebisuan. Aku mulai bingung dengan semua ini. Aku mulai memikirkan jawaban jawaban nakal akan pertanyaanku sendiri.

Kamu mengajakku ke tempat ini dengan cara yang berbeda hingga membuat susananya pun menjadi beda, tempat kita bersenda gurau, tertawa lepas sekarang menjadi tempat kebisuan yang telah sama sama kita ciptakan berdua.

“Tangan mungilmu seketika menempel ditanganku, otaku ku pun melayang pada waktu pertama kita bertemu. Aku mendapatimu seorang diri lagi ada di tengah jalan dengan hujan lebat yang menjadi kawanmu, yang memaksaku untuk menginjak pedal rem mobil dan mencoba menghampirimu.

Kamu bilang kamu lagi menunggu seseorang tapi laki laki mana yang tega membiarkan wanitanya disetubuhi hujan, seorang diri bertarung melawan dinginya malam.

Saka, Tanyamu lirih sambil kamu terus mengenggam tanganku

Aku terus memperhatikanmu, mata kita saling bertemu dan aku pun mencoba menangkap dari sudut matamu ada kepedihan yang hendak kamu utarakan tapi kamu tak cukup kuasa dengan semua ini."

Mata kita masih beradadu pandang untuk waktu yang cukup lama dengan secarik kertas yang terus kau genggamkan ke tanganku.

Seolah olah mantra yang keluar dari mulut kamu yang membuat aku terdiam, lemas tanpa tenaga sedikit pun dan sekedar untuk mamanggil nama kamu akupun tak berdaya.


Saka, kamu harus menunggu! lagi


Bersambung…