Banyak sekali alasan yang orang berikan ketika ditanya kenapa mencintainya? Karena dia cantik, ganteng, karena dia baik, dia perhatian, dia kaya bahkan ada yang jawab "Nggak tau nyaman aja". Itulah alasan sebagian orang jika diberikan pertanyaan seperti itu, namun tidak denganku karena aku mencinainya tanpa alasan.

Banyak orang yang berpendapat jika orang itu mencintaimu tanpa alasan maka dia juga akan meninggalkanmu tanpa alasan. Tapi saya benar-benar tidak setuju dengan pendapat itu, jika kalian mencintai seseorang itu karena kecantikannya atau ketampananya maka cintai kalian akan hilang kalau orang itu tak lagi cantik dan tampan.

Advertisement

Kalau kalian mencintai seseorang karena orang itu kaya, maka cinta kalian juga akan musnah ketika orang itu jatuh miskin. Selalu ada alasan ketika kita meninggalkan seseorang, selalu butuh alasan untuk menjauhi dan membenci seseorang. Namun, ketika mencintai tanpa alasan maka tak akan ada alasan untuk meninggalkannya.

Seperti aku mencintainya tanpa alasan. Namun keadaan tidak berpihak kepadaku. Aku dan dia sangat berbeda, lingkungan, keluarga, pola hidup, teman, seperti sangat mustahil jika kami bersatu. tetap tetap saja perasaan ini berpihak kepadanya dan aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri ketika aku bertemu dengannya. Semakin hari aku semakin mencintainya, kami lebh sering bertemu dan saling melirik satu sama lain. Hingga suatu hari saat aku berada di tempat rantauanku yang pertama, aku mendapatkan sebuah text message dari nomor yang tidak kukenal.

"Hai". Hanya satu kata dan itu membuatku kesal, kupikir itu dari mereka yang berpura-pura salah nomor atau dapat nomorku dari temannya dan alasan lainnya.

Advertisement

"Siapa", kataku membalasnya.

"Tetanggamu". Dari pesan itu entah kenapa jantungku tiba-tiba berdetak kencang, pikiranku langsung menuju ke dia.

"Tetanggaku? Siapa?". Aku berpura-pura tidak mengetahuinya, meskipun hatiku sangat berharap bahwa itu adalah dia.

"Tian, masa lupa?". Diiaaaaaarrrrr, jantungku langsung meletus begitu membaca pesan balasan darinya.

"Oohhh, kenapa? Kok tau nomorku?". Aku masih berlagak bahwa keadaan itu biasa saja, padahal sebenarnya aku senyum-senyum sendiri saat membalasnya dan menenangkan hatiku.

Sejak saat itu aku lebih sering berkomunikasi dengan dia lewat pesan, semakin hari kami semakin perhatian satu sama lain dan saling mengetahui sifat kami masing-masing walaupun tidak begitu banyak. Namun, semakin aku mengenal dia ada sesuatu yang mengganjal di pikiranku tentang perilakunya. Ternyata dari sebelum pindah dia terkenal anak yang bandel, nakal dan susah diatur bahkan sering ganti pacar.

Saat ini yang aku rasakan adalah ketakutan, takut kalau aku hanya dimanfaatkan dan rasa cintaku tidak diartikan dengan sungguh baginya, takut jika ketika dia bersama temannya dia mengolok-olokku. Namun, dari sikap dia kepadaku semua yang ada di pikiranku hilang begitu saja tapi tidak hilang sepenuhnya, masih ada pertanyaan-pertanyaan tentang perasaanya di pikiranku.

Banyak orang yang berpendapat bahwa ini adalah masa PDKT kami, di mana kami sedang dekat dan saling mengenal sebelum pacaran. Dan lamanya masa PDKT kami kurang lebih satu tahun. Lama bukan? Ya, satu tahun bukan waktu yang sebentar. Aku sudah ingin mengakhiri dan tidak ingin melanjutkan untuk mengenalnya lebih dalam. Namun tetap saja kembali kepadanya, banyak kejadian-kejadian yang membuatku bahagia dan terkadang membuatku kesal dan membencinya selama satu tahun itu.

Dan lagi-lagi hatiku tetap berpihak kepadanya padahal dia sering membuatku kecewa. Dia menarik ulur hatiku, terkadang menghilang tak pernah menghubungiku dan tiba-tiba dia datang lagi kepadaku dengan semua tingkahya yang meluluhkan hatiku. Entah aku yang terlalu bodoh dengan cinta pertamaku atau memang dia masih mencintaiku juga?

Ada saat aku melihat dia dengan perempuan lain, memang dia hanya teman sekelasnya saja dan mereka pulang sekolah bersama namun rasanya kesal sekali. Setelah itu aku mengirimkan dia pesan yang mengintrogasi dia kenapa dengan perempuan itu dan yang aku bingungkan dia menjawabku dengan santai, dia tidak berusaha membuatku percaya, sepertinya dia baik-baik saja walaupun aku tidak percaya kepadanya. Dia terlihat tidak benar-benar mencintaiku dan seperti itulah yang membuatku sedih dan ragu.

Dia pernah menghilang dariku lama sekali sampai aku lupa tentangnya, namun tiba-tiba dia mengirimkanku pesan dan pesan itu membuat air mataku menetes dengan sendirinya. Dan seperti sebelum-sebelumnya hatiku kembali padanya walaupun dia dulu sering membuatku kecewa. Setelah itu kami dekat kembali dan saling perhatian lagi, hingga dia menjadi anak yang terkenal nakal di lingkunganku dan semua orang tau bahwa dia bukan anak baik-baik yang sukanya keluar malam, mabuk-mabukan dan sering tidak di rumah.

Dan tidak tau kenapa aku masih memihaknya, hatiku berkata mungkin ini karena keluarganya yang bercerai dan kurangnya perhatian kedua orangtuanya. Jadi, aku semakin ingin melindunginya, menyayanginya, dan mengubahnya. Mungkin perhatian dan kasih sayangku bisa menghilangkan rasa kesepiannya walaupun hanya sedikit, namun sepertinya aku salah menilai semuanya.

Beberapa bulan kemudian dia keluar dari sekolahnya, banyak yang bilang kalau dia sering membolos dan akhirnya dia dikeluarkan. Namun aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi karena aku tidak pernah bertanya kepadanya tentang hal itu. Hingga akhirnya aku tidak berkomunikasi dengan dia lagi, dan aku mendengar bahwa dia bekerja di luar kota unutk mencari uang.

Saat itu aku sudah duduk di kelas 1 SMA, di sana aku memiliki teman dan lingkungan baru yang membuat pola berpikirku juga ikut berubah. Sekarang aku lebih berpikir dewasa, berpikir sebelum melakukan hal apapun dan lebih berfikir menggunakan logika. Saat itu aku mempunyai banyak teman dan kenalan yang membuat aku semakin percaya diri. Aku mempunyai seseorang yang bisa dibilang spesial tapi masih belum bisa menempati hatiku dengan seutuhnya karena sebagian hatiku masih ditempati Tian.

Tak tau apakah aku benar-benar bodoh atau aku diberikan guna-guna oleh Tian atau memang ini takdir. Walaupun aku sudah banyak mempunyai teman dan kenalan yang mendekatiku tapi hatiku tidak bisa bohong kalau aku masih mencintainnya. Hingga suatu saat dia kembali dan aku lebih memilih dia hingga rela melepaskan seseorang yang sangat mencintai aku.

Karena dia kembali kepadaku dan aku menerimanya kembali.

(to be continued)

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya