Dear Nadia Ayu Pratiwi, mungkin perkenalan kita sangat singkat. Kala itu kamu masih duduk di bangku sekolah menengah pertama kelas dua belas. Sedangkan aku duduk di bangku sekolah menengah kejuruan kelas sebelas. Kamu adalah kapten basket wanita di sekolahmu dan vokalis band indie, sedangkan aku adalah biang kerok atau biang rusuh di sekolahku.

Pertama kali aku melihatmu ketika kamu lewat di depan tongkoranganku bersama teman-temanmu menggunakan sepeda motor. Dengan rasa penasaran aku mencoba mencari tahu tentangmu. Akhirnya aku mendapatkan nomor handphonemu. Saling balas pesan membuat kita semakin dekat dan akrab.

Advertisement

Suatu hari ada pertunjukan konser musik di sekolah menengah pertama yang dulu aku bersekolah di sana. Pada acara tersebut aku menjadi salah satu panitia dan kamu ikut ambil bagian dalam acara tersebut sebagai penonton. Kamu dan aku saling berdampingan satu sisi untuk mendengarkan dan melihat perfoma salah satu band. Kita berdua mengikuti irama musik serta mengucapkan lirik lagu tersebut.

Di tengah kesaduhan saat menikmati suasana, salah satu penonton berjoget rusuh, kemudian menyenggol tanganku lalu menjatuhkan sapu tangan yang kugenggam. Tanpa banyak kata aku memukul penonton tersebut sampai terjatuh. Lalu kamu pergi karena tidak suka dengan sikapku yang arogan.

Aku mencoba memperbaiki. Meminta maaf bahkan aku tak pernah lupa dengan hari ulang tahunmu setiap tanggal itu. Aku selalu mengucapakan selamat ulang tahun kepadamu melalui akun sosial media milikmu, tapi kamu tidak membalas malah memblokirku. Perjuanganku untuk memperbaiki tidak cukup sampai di situ. Menitipkan kado ultah yang kubuat sendiri  kepada teman sekolahmu, bahkan aku pernah mengirim kado ultahmu lewat expedisi, tetap saja hatimu tidak luluh.

Advertisement

Hal-hal konyol tersebut selalu kulakukan tanpa kenal menyerah meskipun tidak setiap tahun aku mengirim kado ultah. Tapi tahun ini sudah tahun ke tujuh aku tidak bisa berhenti memikirkanmu

Aku tidak tahu lagi akses mana lagi yang kutempu untuk menyakinimu, Nad.

Coba dengarkan aku sebentar saja Nad. Dalam proses melupakanmu, jujur saja aku mencoba mencintai seseorang akan tetapi dalam perjalanan tersebut aku selalu dipatahkan Nad. Bukan aku tidak mau berjuang total Nad untuk mendapatkan cinta baruku. Entah mengapa saat aku dipatahkan oleh yang lain, aku selalu mengingatmu dengan seketika hasrat untuk berjuang hilang begitu saja.

Saat ini aku lagi kacau banget Nad, serasa dipermainkan oleh perasaan sendiri tentang semua hal. Berharap dengan tulisan ini bisa tersampaikan kepadamu Nad. Aku memang seorang yang badung dan biang kerok Nad. Tapi aku yang sekarang tak seperti aku yang dulu Nad.

Sekarang aku sedang kuliah, Nad. Jurusan ilmu komunikasi masuk semester lima serta aku aktif menulis sastra Nad. Banyak hal lain yang ingin aku tunjukan kepadamu serta membuktikan aku bukan seperti yang dulu lagi.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya