Siapa dari kita yang tidak ingin sukses dalam hidup? Sukses kini sudah menjadi target utama banyak orang dalam menjalani hidup dan karirnya.


Tapi apa sebenarnya sukses itu?


Advertisement

Mungkin banyak dari kita akan menjawab, sukses itu adalah ketika kita bisa jadi direktur utama sebuah perusahaan, punya gaji ratusan juta rupiah, rumah mewah di beberapa kota, pekerjaan tetap, jadi PNS, punya keluarga sakinah mawwadah warahmah, menang perlombaan, jadi selebgram dengan follower jutaan, atau punya subscriber Youtube jutaan, dan sebagainya. Tapi sayangnya, kondisi seperti itu tidak semua orang bisa mendapatkannya. Bahkan, hingga akhir hayat pun, banyak orang yang hanya mampu memimpikannya dan tidak mampu mencapainya.


Sukses adalah persepsi yang terbentuk dalam pikiran manusia.


Sukses sebenarnya hanyalah persepsi yang dibentuk di benak manusia. Jika ditanya satu per satu, tiap orang punya definisi sukses yang berbeda. Seperti halnya ketika kita mendefinisikan kata "cantik", "pintar", dan "kaya". Apa yang kita sebut cantik, pintar, atau kaya, belum tentu orang lain akan sepakat dan memiliki definisi yang sama dengan kita. Begitu pun dengan kata sukses. Kita akan mendapatkan definisi yang sangat luas dan berbeda-beda. Kita pun tidak tahu pasti, mana definisi yang tepat atau kurang tepat tentang sukses itu sendiri. Karena semua itu hanyalah persepsi yang terbentuk dari otak manusia yang punya jalur pikir yang berbeda-beda.

Advertisement

Karena kita tidak tahu mana yang benar dan mana yang tidak, akhirnya kebanyakan dari kita mengikuti persepsi mayoritas. Persepsi yang banyak dimiliki masyarakat tentang kata sukses. Masyarakat secara mayoritas menyebut seseorang itu sukses, jika dia memiliki jabatan yang tinggi, harta yang banyak, dan kehidupan yang tampak sempurna. Akhirnya, semua orang berlomba-lomba mencapai apa yang disebut "sukses" oleh mayoritas masyarakat tersebut. Memusatkan segala daya upayanya untuk mencapai titik itu.

Meskipun harus berdarah-darah dan harus menggunakan berbagai cara. Cara halal atau haram, baik atau buruk, sudah tidak dipedulikan. Hal yang terpenting adalah tercapai apa yang ditargetkan. Lalu apa yang terjadi ketika titik sukses itu tidak kunjung didapatkan?

Seseorang akan mulai melihat hidupnya sebagai sebuah kegagalan dan tidak berguna. Dia akan mulai membenci diri sendiri, depresi, hingga melakukan bunuh diri. Dia akan merasa hidupnya penuh kegagalan dan semua usahanya sia-sia jika dia tidak mampu menjadi seorang yang sukses seperti masyarakat mayoritas persepsikan. Dia juga mungkin akan membenci dan berbuat buruk pada orang lain karena merasa iri dengan kesuksesan yang dimiliki orang lain yang mana dia tidak mampu memilikinya.


Apakah kamu ingin mengalami hal seperti itu dalam hidupmu?


Pastilah kita tidak ingin mengalaminya. Kita pasti ingin hidup kita di dunia ini adem ayem, tentram, dan bahagia.


Lalu apa yang perlu kita lakukan ?

Jawabannya adalah mendefinisikan ulang kata "sukses" itu sendiri.


Ingat, sukses itu hanya persepsi di dalam benak manusia. Dia tidak memiliki definisi pasti atau saklek. Kita bisa menganggap diri sukses, kapan pun dan di titik manapun, jika kita mendefinisikan sukses dengan cara kita sendiri atau berpendapat bahwa kita sudah sukses.

Setiap manusia memang seharusnya punya definisi suksesnya masing-masing. Karena mereka menjalani hidup yang berbeda-beda. Terkesan mustahil dan penuh khayalan misalnya, jika seorang pegawai kantoran biasa atau PNS dengan gaji tetap sepanjang tahun memiliki definisi sukses seperti yang dimiliki seorang pengusaha batu bara. Bekerja mati-matian sampai lanjut usia pun, harta yang dimilikinya tidak akan mampu mengalahkan atau bahkan menyamai harta miliki pengusaha batu bara.

Atau seorang sarjana yang baru lulus kuliah, baru 1 sampai 2 tahun bekerja menganggap diri sukses jika mampu punya rumah pribadi, mobil pribadi, dan hal-hal pribadi lainnya sebelum usianya genap 30 tahun. Bukannya tidak mungkin, tapi kenyataannya tidak banyak orang yang mampu mencapai titik itu. Bahkan, ada banyak orang yang hingga lanjut usia pun mereka masih berjuang untuk punya rumah pribadi.


Lalu apakah kita disebut gagal jika tidak mampu mencapai semua itu?

Jawabannya TERGANTUNG.


Jawabannya bisa ya, jika kita memang mendefinisikan sukses seperti yang didefinisikan mayoritas penduduk dunia. Tapi, jawabannya bisa tidak, jika kita punya definisi sukses kita sendiri, meskipun tidak sejalan dengan apa yang diyakini masyarakat luas. Apalagi jika kita mau mendefinisikan sukses mulai dari keberhasilan-keberhasilan kecil yang kita mampu raih. Kita bisa merasakan "rasanya sukses" setiap hari. Dan itu akan berdampak sangat baik untuk kesehatan mental kita.

Karena kita mampu menghargai setiap langkah dan setiap usaha yang kita lakukan. Kita akan menganggap diri berharga dan semakin mencintai diri sendiri. Kita pun akan termotivasi untuk terus melangkah, terus berusaha, terus bermanfaat meski hanya dengan sesuatu yang kecil. Karena kita tahu bahwa setiap usaha tidak ada yang sia-sia. Jika kita merasa baik sebagai diri sendiri, kita akan mampu memaksimalkan potensi yang kita miliki. Bukan tidak mungkin, suatu hari kita bisa mencapai sukses besar sebelum akhir hayat kita.


Jadi, apakah kamu akan terus memilih menjadi seorang yang gagal?

Atau kamu ingin mencoba mengubah definisi suksesmu dan hidup penuh keberhasilan dan kebahagiaan?


Pilihan ada di tanganmu sendiri. Dan kamu bisa merasakan sukses sekarang ini juga. Tidak perlu menunggu rambutmu beruban atau wajahmu keriput. Tidak perlu menunggu bos di kantormu turun jabatan atau melihat saldo rekening tabunganmu memiliki 10 digit. Kamu hanya perlu mengubah apa yang kamu pikirkan saat ini. Dan kamu bisa merasakan apa yang disebut "sukses" saat ini juga. Kamu akan melihat hidupmu dengan pandangan yang berbeda. Kamu akan merasa bangga jadi dirimu, menjalani hidupmu, dan tidak lagi bermimpi memiliki hidup seperti milik orang lain. Karena kamu kini punya definisi suksesmu sendiri.

Life is only as good as your mindset.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya