Jika ditanya kenapa bisa membencinya itu berawal dari pillihannya untuk menyerah walaupun jelas-jelas dia sudah tau saya tetap memilih untuk bertahan. Saya kesal, saya pikir selama ini dia orang yang tidak mudah menyerah dan pada akhirnya dia orang yang pertama kali menyerah ketidak cocokkan dan berasa tidak pantas untukku adalah alasannya.

Alasan yang classic, tapi saya bingung alasan apa lagi yang harus saya pakai selain saya mencintanya walaupun saya tau jawaban setelah ini adalah dia tidak akan lagi. Saya tidak mungkin membiarkannya tetap bertahan karena pada akhirnya akan percuma menjalani segalanya tanpa sebuah rasa yang pasti.

Advertisement

Sosoknya hilang beberapa waktu, namun bayangannya semakin sering muncuk dipikiran saya. Mengganggu konsentrasi saya dan berpengaruh pada mood, di sanalah rasa benci mulai muncul lalu bertumbuh setiap waktu. Setiap kali teringat, setiap kali bayangannya muncul pada semua hal yang biasanya ia lakukan, pada semua hal yang berkaitan dengannya membuat saya semakin tidak tenang. Terasa digrogoti oleh rasa benci yang membuat saya tidak tenang setiap waktu, setiap saat, dan setiap saya mengingat dia.

Rasa benci itu menjadi sumpah serapah yang menggunung dihati saya, dan seluruh pernyataan akan penyesalan semakin menjadi. Segala hal baik tentangnya menjadi kebalikkannya, yang selalu berfikir positif tentangnya menjadi hal negatif tentangnya. Rasanya saya masih mencintainya, namun untuk pertahanan diri saya membuat diri saya membencinya.

Resah semakin sering muncul, rasa kesal semakin membuat saya tidak tenang dan membuat saya merasa sangat lelah. Semakin waktu bertambah, banyak orang mengatakan bahwa saya terlalu egois karena telah membencinya untuk sesuatu hal yang tidak dapat saya paksakan. Beberapa orang mengatakan bahwa saya hanya perlu ikhlas dan menerima semuanya.

Advertisement

Perasaan itu mulai merasuk dan membuat saya mengerti, ada hal yang saya lupakan bahwa memang ada hal yang tidak bisa saya paksakan. Rasa benci membuat proses melupakan dia menjadi sangat sulit, semakin membencinya membuat saya terus-menerus mengingatnya dan pada ujungnya membuat saya semakin tidak bisa melepaskannya.

Yang ku butuhkan adalah rasa ikhlas dan membiarkan semua yang terjadi dengan apa adanya, tidak ada yang salah dan tidak ada yang harus disalahkan karena semua orang punya pilihannya masing-masing. Yang kubutuhkan adalah bagaimana cara menyesuikan diri lagi dengan tidak adanya dia didalam hidup saya kemudian membuka lagi hati saya untuk merasakan semua rasa yang ada dihidup saya.

Jika pilihan dia menyerah pada saya, maka saya tidak akan menyerah pada rasa benci yang sangat merugikan ini.

Dengan membencimu, semua tidak akan baik-baik saja.

Jika ditanya kenaoa bisa membencinya itu berawal dari pillihannya untuk menyerah walaupun jelas-jelas dia sudah tau saya tetap memilih untuk bertahan. Saya kesal, saya pikir selama ini dia orang yang tidak mudah menyerah dan pada akhirnya dia orang yang pertama kali menyerah ketidak cocokkan dan berasa tidak pantas untukku adalah alasannya.

Alasan yang classic, tapi saya bingung alasan apa lagi yang harus saya pakai selain saya mencintanya walaupun saya tau jawaban setelah ini adalah dia tidak akan lagi. Saya tidak mungkin membiarkannya tetap bertahan karena pada akhirnya akan percuma menjalani segalanya tanpa sebuah rasa yang pasti.

Sosoknya hilang beberapa waktu, namun bayangannya semakin sering muncuk di pikiran saya. Mengganggu konsentrasi saya dan berpengaruh pada mood, di sanalah rasa benci mulai muncul lalu bertumbuh setiap waktu. Setiap kali teringat, setiap kali bayangannya muncul pada semua hal yang biasanya ia lakukan, pada semua hal yang berkaitan dengannya membuat saya semakin tidak tenang. Terasa digrogoti oleh rasa benci yang membuat saya tidak tenang setiap waktu, setiap saat, dan setiap saya mengingat dia.

Rasa benci itu menjadi sumpah serapah yang menggunung di hati saya, dan seluruh pernyataan akan penyesalan semakin menjadi. Segala hal baik tentangnya menjadi kebalikkannya, yang selalu berfikir positif tentangnya menjadi hal negatif tentangnya. Rasanya saya masih mencintainya, namun untuk pertahanan diri saya membuat diri saya membencinya.

Resah semakin sering muncul, rasa kesal semakin membuat saya tidak tenang dan membuat saya merasa sangat lelah. Semakin waktu bertambah, banyak orang mengatakan bahwa saya terlalu egois karena telah membencinya untuk sesuatu hal yang tidak dapat saya paksakan. Beberapa orang mengatakan bahwa saya hanya perlu ikhlas dan menerima semuanya.

Perasaan itu mulai merasuk dan membuat saya mengerti, ada hal yang saya lupakan bahwa memang ada hal yang tidak bisa saya paksakan. Rasa benci membuat proses melupakan dia menjadi sangat sulit, semakin membencinya membuat saya terus-menerus mengingatnya dan pada ujungnya membuat saya semakin tidak bisa melepaskannya.

Yang kubutuhkan adalah rasa ikhlas dan membiarkan semua yang terjadi dengan apa adanya, tidak ada yang salah dan tidak ada yang harus disalahkan karena semua orang punya pilihannya masing-masing. Yang kubutuhkan adalah bagaimana cara menyesuikan diri lagi dengan tidak adanya dia didalam hidup saya kemudian membuka lagi hati saya untuk merasakan semua rasa yang ada di hidup saya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya