Untuk kamu,

Setelah kamu pergi, rasanya sama seperti awal tahun ini. Kelabu, sendu, meragu. Sedih rasanya hal itu tak kunjung pergi. Dulu kamu datang mengobati luka, sekarang kamu pergi meninggalkan luka. Rasanya setengah tahun terlalu cepat berlalu untuk kita yang bahkan bertukar rindu dengan peluk pun sangat sulit. Rasanya sejak kamu pergi pun aku sudah merasakan hal yang berbeda darimu, seperti ada yang lain. Alasanmu yang berkata bahwa kita tak sepaham rasanya pun terlalu dicari-cari karena sejak beberapa bulan lalu pun kamu selalu berkata akan pergi, bahkan meminta berulang kali. Mulai dari tidak sepaham, restu keluarga, dan perbedaan keyakinan. Rasanya sesuatu terlalu cepat berubah.

Advertisement

Sekarang aku mulai merasa, mungkin ada dia yang selalu ada di sana dan bisa bertemu serta berdiskusi setiap saat. Dia bukan aku, yang kamu pernah bilang jika suatu saat nanti kamu menemukan seseorang lain, kamu akan datang sejauh apapun itu untuk memelukku dan meyakinkan dirimu sendiri bahwa tidak ada yang lain selain aku. Aku memang bukan dia, yang mungkin jauh lebih dewasa dan bisa mengimbangimu dalam hal apapun. Aku bahkan tidak merasakan apa rasanya selalu berada di dekatmu, mengikuti keseharianmu, menemanimu saat kamu sedih ataupun senang. Rasanya ingin aku ada di posisinya, bisa selalu ada di dekatmu dan memelukmu karena aku tau kamu selalu suka pelukan. Rasanya jarak terlalu sulit, untukku dan untukmu. Komunikasi yang tidak selalu mulus seringkali mengakibatkan kesalahpahaman yang fatal. Aku dan kamu terlalu keras kepala, kita pernah sekeraskepala itu.

Kali ini aku merasa kedatangannya seperti disengaja, entah olehmu, entah olehnya. Sejak pertemuan terakhir kali pun rasanya kamu sudah tidak sesemangat dulu bertemu denganku, bahkan untuk memajangnya di media sosialmu seperti yang biasa kamu lakukan pun tidak. Saat itu aku berpikir apakah kamu tidak senang dengan pertemuan kita atau ada perasaan seseorang yang kamu jaga? Apa benar dia datang kembali setelah kita tidak lagi bersama? Di sini aku sendiri meringkuk, mungkin di sana kamu sedang bertukar peluk. Siapa yang tahu?

Mungkin aku terlalu berburuk sangka. Mungkin juga aku terlalu takut kehilangan. Rasanya ucapanmu beberapa hari lalu untuk tetap dekat, sekarang berbalik 180 derajat. Aku bahkan sudah tidak kenal denganmu lagi. Tak kusangkal memang aku pun punya terlalu banyak kesalahan kepadamu, mungkin terlalu banyak sehingga tidak dapat kamu tolerir. Aku mungkin tak sehebat dia yang bisa membuatmu berlarut padanya terlalu lama. Posisiku terlalu mudah digantikan karena mungkin aku hanya sekedar selingan penyemangat di hidupmu yang sesaat datang kemudian pergi. Mungkin aku tak seperti dirinya yang sudah memahami dirimu selama bertahun-tahun.

Advertisement

Lalu, doaku selalu sama. Walau kita berdoa dengan cara yang berbeda, aku selalu mendoakanmu untuk selalu berbahagia dengan apapun yang kamu punya. Semoga aku bahagia, kamu bahagia, kita bahagia walau aku dan kamu bukan lagi kita.

Dengan sayang,

Aku

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya