Detox adalah istilah yang seringkali digunakan dalam dunia kesehatan dalam membuang zat buruk dari tubuh. Tapi, pernahkah kamu mendengar istilah detox sosial media? Berbeda dengan detox diet yang membuang racun dari dalam tubuh, detox sosial media justru membantu membuang semua racun yang menggangu mental, sehingga kita terbangun dan hidup dalam realita.

Advertisement

Namun, berbicara tentang social media memang tidak akan ada habisnya. Social media seperti Instagram yang menjadi makanan setiap hari membuat kita mengetahui berbagai macam informasi maupun hoax. Membuat kita terjerat dan terpengaruh akan konten tersebut. Tapi sadarkah kamu bahwa mengkonsumsi terlalu banyak social media seperti Instagram juga tidak baik?.

Jika kamu merasa sudah mencicipi media sosial berlebihan, maka kamu harus banget baca artikel ini sampai selesai.

Advertisement

Mungkin sebagian orang masih belum mengerti bahkan belum pernah mendengar apa itu social media detox. Well, detox sosial media biasa dilakukan oleh orang–orang yang kecanduan dan mengalami “stress”. Stress yang di maksud adalah, kondisi dimana orang – orang merasa tertekan akan kondisi dan situasi dalam hidupnya karena membandingkan hidupnya dengan hidup orang lain dengan menggunakan socmed sebagai alat takar.

Bahkan, sebagian besar orang melihat konten socmed seperti Instagram layaknya buku dongeng, dimana kehidupan semua orang ditampilkan dengan sempurna dan kebahagiaan.  Seperti seorang remaja yang pernah melakukan detox social media, Chandra Delon. Pria kelahiran 2 April ini pernah melakukan detox social media untuk memperbaiki kesehatan mental dan pandangannya mengenai kehidupan sosialnya lho.

Dia melakukan detox saat merasa kehidupannya tak seindah kehidupan orang saat disocial media. Kemudian, dia benar–benar mencoba berhenti menengok layar handphone yang berisikan social media selama 2 bulan. Hasilnya, dia merasakan perbedaan dalam kesehatan mentalnya. Menurutnya, sosial media memiliki manfaat jika berada ditangan yang tepat.

Namun, tak bisa dipunggkiri bahwa social media menjadi tipuan umum bagi orang untuk menampilkan sisi “palsu”nya dan menjerat orang. Tidak hanya Chandra yang melakukan detox socmed tersebut. Seorang remaja perempuan juga tengah mencoba melakukan detox social media. Berbeda dengan Chandra, remaja yang bernama Erlinda berhasil mencoba sosial media detox dan menurutnya itu membantu dalam kehidupan sosial.

Dalam hal ini, dia seringkali kecanduan melihat sosial media, berburu likes dan membandingkan kehidupannya dengan orang lain yang mengakibatkan kehidupannya terganggu, bahkan meniru seseorang, tidak menjadi dirinya sendiri dengan tujuan agar merasa lebih baik. Menurutnya, detox social media dapat dilakukan oleh orang yang tidak kecanduaan maupun sebaliknya. Detox ini membantunya untuk terbangun dari dunia maya, dan menyadarkannya bahwa kehidupannya adalah realita bukan dunia maya.

Bahkan, membantunya merubah cara pandangnya mengenai kehidupan sosial dan kehidupan biasanya bahwa semua orang telah memiliki porsi kehidupannya sendiri dan tidak perlu iri. Erlinda melakukan detox dengan cara jarang melihat social media, memperbanyak berkomunikasi dengan orang secara face to face, membiasakan diri tidak melihat Instagram saat baru bangun,dan mengatur waktu melihat social media untuk meminimalisir pemborosan waktu.

Awalnya, dia merasa sulit karna kegiatan melihat social media sudah menjadi bagian dari kebiasaanya, namun perlahan tapi pasti. Erlinda akhirnya berhasil melakukan detox social media dan menunjukkan kepadaa orang mengenai berbagai manfaat dari detox tersebut. Jika kalian merasa telah kecanduan mengonsumsi social media, berikut beberapa langkah mudah yang bisa ditiru  :


  1. Jangan mengecek handphone saat bangun pagi.

Di era yang serba modern, tidak menutup kemungkinan bahwasannya banyak orang termasuk generasi muda kecanduan memainkan handphonenya setiap hari. Bahkan, untuk bangun pagi saja, harus mengecek handphone,scroll Instagram, sampai bermalas–malasan di tempat tidur demi social media. Jika kamu merasa sulit untuk menghentikannya, cobalah untuk menaruh HP di laci atau meja saat sebelum tidur, atau lakukan rutinitas seperti sarapan dan berolahraga untuk menghindari mencicip social media saat pagi hari.

Abaikan dan tahan nafsu saat membuka mata dan ingin menyentuh handphone. Kalau perlu, berilah reward untuk dirimu saat kamu mulai bisa mengendalikan kecanduan socmed di pagi hari. Lakukan ini setiap hari dalam 1minggu, dan hal ini akan membiasakan kita untuk skip buka social media saat membuka mata.


  1. Unfollow semua orang di Instagram demi kesehatan mental.

Sebagian besar orang merasa hidupnya tertekan saat melihat layar handphone mereka. dimana mereka membandingkan kehidupan sosial dengan orang lain melalui socmed sebagai alat takarnya. Tidak semua foto bagus, bahkan kehidupan yang ditampilkan oleh orang lain di social media adalah gambaran penuh mengenai kehidupan sehari – harinya.

Jika kamu merasa iri dan kurang beruntung karena melihat isi social media milik orang lain, cobalah untuk meng unfollow semua orang dari akunmu. Dan post foto yang kamu inginkan tanpa memikirkan like,comment,dan semacamnya. Hal ini dapat membantu kamu untuk mensyukuri hidupmu, menikmati dan tidak menggunakan standard orang lain dalam menjalani hidupmu. Tapi ingat, kamu meng unfollow orang tersebut demi kesehatan mental, bukan dengki melihat kebahagiaan dan isi postingan mereka. ini merupakan cara yang paling efektif bagi orang yang tertekan dan merasa insecure dengan hidup mereka, karena tidak akan ada judgement, dan comparison kehidupan melalui ini.


  1. Atur jadwal untuk melihat social media

Mungkin cara ini terkesan kekanak–kanakan,karena melihat social media saja harus di atur seperti jadwal belajar. Mengatur jadwal untuk melihat social media adalah cara untuk membantu kedisiplinan dan pengaturan waktu lebih baik.

Karena, ketika kita bisa mengatur jadwal dan waktu kapan saja untuk melihat social media, kita bisa menggunakan sisa waktu untuk melakukan hal lebih penting, dan tidak berlebihan. Akibatnya, kita tidak akan merasa telah membuang waktu dan stuck melihat kehidupan orang di socmed, cukup fokus pada goals dan hidupmu.

“Sosial media itu seperti apelnya putri salju, terlihat manis namun bisa saja mematikan. Begitu juga kehidupan social media yang penuh dengan tipuan manis yang berujung iri dan menyebabkan kemunduran mental. Tidak semua yang ditampilkan itu 100%benar, cerdas dan cermati lah saat menccipi social media. Agar kita tidak terjerat dan teracuni di dalamnya karena social media itu bukan dongeng”(Bong Erlinda)

artikel ini ditulis oleh : Bong Erlinda Verina Anthonia

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya