Sesekali saat hujan tiba, aku mencoba menadahkan tanganku dan menikmati setiap alunan tetes demi tetes air hujan membasahi tanganku. Aku mengingatmu.


Suatu waktu, aku dipertemukan dengan seorang pria penyuka kopi. Klasik memang. Kau tahu? senyumnya apalagi. Dia telah lama mengenalku, mengetahui siapa aku, namun baru-baru saja memasuki kehidupanku yang sesungguhnya. Kehidupanku dengan aku yang apa adanya. Yang masih menyongsong gumpalan-gumpalan ekspektasi impian di masa depannya. Meski pun penyuka kopi, tak ku temukan sisi pahit dari dirinya. Atau mungkin karena aku penikmat Coffe Latte yang manis itu? haha..ini tak masuk akal. Aku bukan penyuka, hanya saja mengimbanginya. Mengimbangi apa yang dia suka. Demi dirinya.

Advertisement


Singkat cerita aku jatuh. Aku jatuh di hadapannya. Aku jatuh cinta. Kita jatuh cinta.


Bisikkan mentari hangat memang. Menghangatkan hati dua sejoli. Aku dan dia semakin dekat. Cinta itu semakin pekat. Begitu juga kopinya. Aku merasa jantungku kian berdegup. Aku merasa, hatiku mulai kembali hidup. Iya benar, dulunya hatiku gersang. Kini tak lagi. Aku merasa, karenanya aku menemukan dunia baru. Dunia yang dulu aku takut memasukinya. Dunia yang katanya hanya milik berdua oleh tokoh utamanya.

Banyak hal telah dia ajarkan, waktu pun telah dia bagikan, berawal dari kopi dan berakhir pula dengan kopi. Dia penyuka kopi hitam, iya kopi yang pekat rasa pahitnya, getir. Dan aku, bukan penyuka kopi sama sekali. Kadang aku memaksakan dengan memesan secangkir Coffe Latte, manis. Hmm..selera kita berbeda memang. Tapi tidak dengan perasaan kita. Masih sama kita rasa.

Advertisement

Minggu berganti bulan. Dan juga saat itu musim berganti panas menjadi hujan. Teduh memang. Seperti dia. Mungkin karena dia penyuka hujan. Dia masih saja klasik, saat hujan dia selalu menikmati aroma tanah bumi pertiwi yang terbasahi oleh lantunan hujan. Baunya harum. Tak lupa, secangkir kopi pasti ada menemaninya. Memang, dia penyuka kopi sejati. Pahit terasa, tapi bahagia saja yang terasa olehnya.


Tatkala aku melihat tanganmu dan tangannya saling bergandengan. Misteri.


Yang benar saja, aku melihat hanya melalui sebuah aplikasi chat di media sosial. Saat itu sudah seminggu kau tak jua ada kabar. Namun, aku rela menanti. Waktu itu masih musim hujan. Entah apa yang terlintas di benakku, semacam kepercayaan atau pengabaian semata? aku tak tahu. Aku mempercayai saja itu dia, dan dengan dia milikmu yang lain. Milikmu yang lain? ah yang benar saja. Serentak semesta bersedih. Hujan datang dengan badai dan angin ribut. Kopi semakin pahit dan Coffe Latte tak lagi manis.

Sesaat aku meronta-ronta melihatnya. Melihat kenyataan yang bukan fantasi semata. Itu jelas dirinya. Aku apa-apa. Mungkin bagimu tak apa-apa. Bagiku sungguh-sungguh tidak. Kadang ingin bertanya, namun aku ini siapa. Tak berhak atas itu.


Kopi hitam adalah kejujuran dan gula adalah perombaknya.


Tak jua ada kabar darimu terkhusus untukmu. Yang terlihat hanyalah status di media sosialmu yang teramati olehku. Tak ku sadari. Saat mencari yang tepat aku lupa untuk memantaskan diri. Hanya sibuk dengan pencarian yang tak berujung dengan sebuah penemuan.

Nurani membisu. Semesta kalang kabut. Hanya tinggal seberkas kenangan tersisa. Andai saja dia tahu, dulu aku pemujamu, pemuja yang bukan rahasiamu. Aku terang-terangan menyukaimu. Dulu..

Hingga saat ini, aku masih peminum Coffe Latte, walau pun rasanya menjadai getir, tak semanis dahulu. Andaikan sejak awal aku tahu kemana alur cerita ini, mungkin aku tak akan pernah belajar. Karena pasti aku tak melangkah. Hah.. Tuhan memang adil, Tuhan memang benar. Memberiku kesempatan untuk belajar apa arti sebuah kepantasan, apa arti menjadi bukan mencari. Tuhan tak ingin menjadikanku sebagai pengecut. Dengan membodohi takdir-takdirku. Tuhan hanya ingin aku melaluinya, meski pun terjal dan menjadikanku seorang piawai di cerita kemudian hari.

Aku merasa telah jauh bangkit. Dari masalalu yang bila teringat menjadi kegalauan yang tak penting lagi. Mengikhlaskan. Memang berat, namun aku mendambakan senyumanku sendiri di ujung proses ini. Nyatanya aku bisa. Memandangmu tak lagi semu. Sungguh aku tak menyangka berada di titik ini. Aku bahagia.

Terima kasih aku ucapkan. Kepada kopi, peminumnya, dan kepada hujan. Maaf, aku memaksa diri untuk memesan secangkir Coffee Latte. Memantaskan diri, dan menjadi yang tepat. Menjadi diri sendiri dengan gemerlap impian yang teraih sebentar lagi. Dulu, menggebu untuk mencari yang tepat. Untuk mencarimu. Dan memaksa sepantas-pantasnya bersamamu. Bohong belaka. Haha aku bangkit.


Aku pernah melihat lengkungan senyum di wajahmu, untukku. -Anonim-


Kau penyukan hujan, dan aku kini hanya menjadi pelangi. Sementara.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya