Saya adalah seorang remaja yang sejak kecil mimimpikan sebuah cita – cita ingin menjadi seorang dokter gigi. Seperti kebanyakan anak – anak pada umumnya, profesi dokter, guru, dan polisi merupaka cita – cita yang di idam – idamkan oleh mereka. Ketertarikan saya pada profesi dokter adalah karena saya ingin membatu sesama di bidang kesehatan. Sejak SD, SMP saya tertarik dengan dunia IPA. Memasuki SMA, sebenarnya saya sudah mempunyai rencana untuk masuk SMA yang saya impikan. Tetapi impian tersebut kandas karena orang tua saya menginginkan saya untuk bersekolah di SMK. Dilema dalam menentukan pilihan saya rasakan pada saat itu. Saya juga sempat datang ke sebuah SMA Negeri untuk mendaftar, tetapi disana gurunya berkata "Mbak, kalau orientasinya pengen kerja jangan masuk SMA. Sayang kalau mbak nya pintar tapi nanti malah gak lanjut kuliah" . Pada saat itu ibu saya berpikir untuk menyekolahkan ku di SMK saja. Saya mendaftar SMK didampingi oleh ibu saya. Ibu saya merupakan wanita yang hebat bagi saya. Ia merupakan sosok wanita yang paling saya kagumi. Yang selalu ditekankan oleh ibu saya adalah "Tidak usah minder, Ibu percaya kamu bisa". Saya menganggap hal tersebut sebagai sebuah keinginan dari ibu saya yang harus saya wujudkan.

Di SMK pun saya harus berdebat dengan orangtua saya dalam memilih jurusan. Saya menginginkan jurusan Perbankan Syariah, sedangkan ibu saya menginginkan saya masuk di Akuntansi. Dan saat itu saya memutuskan untuk menuruti kemauan orangtua saya untuk masuk di Akuntansi. Alhamdulillah pada saat pengumuman saya di terima di SMK tersebut di jurusan Akuntansi. Disana saya belajar dengan sungguh – sungguh. Bagi saya, sekolah saya merupakan sekolah yang mengajarkan sesuatu yang sangat bermanfaat bagi saya. Disana saya hanya menemukan satu teman laki-laki dan banyak teman perempuan. Maklum, di jurusan akuntansi laki-lakinya memang sedikit. Disana saya menemukan sosok sahabat bernama Fina. Bagi saya, ia adalah seorang sahabat yang baik. Ia selalu mengantarkanku kemana pun aku ingin pergi dengan sepedanya. Ia selalu menjadi tempatku bersandar di kala aku sedang dalam posisi yang benar – benar membuatku lemah. Ia selalu memberikan semangat kepadaku dan selalu mendukung aku dalam hal apapun. Dan dibalik semua keinginanku yang tidak terkabul. Tuhan telah memberikan ku seorang sahabat yang benar – benar mengerti keadaanku dan mungkin aku tidak akan pernah menemukannya di tempat lain.

Tuhan tidak selalu memberikan apa yang kita inginkan, tetapi dia pasti akan memberi apa yang kita butuhkan.