#DiIndonesiaAja-Mewawas Indahnya Panorama Dieng: Negeri Sang Para Dewa

Menceritakan keindahan pesona dataran Dieng

Setelah sekian purnama, akhirnya aku bisa juga keluar untuk menikmati setiap keindahan surga Indonesia. Kali ini pilihan destinasinya adalah dataran tinggi Dieng. Puluhan artikel yang telah mendeskripsikan keindahan panorama Dieng telah sukses memantik hasratku untuk menyambangi negeri di atas awan ini. Well! Ketika sampai di sini, that was very, very awesome. Wilayahnya yang berupa lembah-lembah dengan berbagai macam tanaman yang iconic, juga penduduknya yang sangat friendly semakin menjadikan kawasan yang berada di ketinggian rata-rata 2.000 mdpl ini menjadi one of the must-visit destinations bagi para traveler.

Advertisement

Menurut penjelasan guide kami, secara etimologi, nama Dieng sendiri merupakan gabungan dari dua kata yang diambil dari bahasa Sansakerta, yaitu “Di” dan “Hyang”. "Di" berarti tempat dan "Hyang" berarti dewa. Jadi Dieng berarti tempat para dewa atau lebih sering diartikan sebagai negerinya para dewa.

Dalam teori lain juga dikatakan bahwa nama Dieng diambil dari bahasa Jawa berupa “Adi tur aeng”. Adi berarti keindahan dan aeng berarti unik. Jadi Dieng berarti sebuah tempat yang mempunyai keindahan dan keunikan. Of course aku mengamininya, sebab adanya fenomena anak yang berambut gimbal dan tanaman langka seperti buah carica dan purwaceng (biasa disebut sebagai ginsengnya orang Dieng) yang menjadi salah satu bukti keunikan dari kawasan vulkanik aktif ini.

Secara admistratif dataran tinggi Dieng terbagi dalam dua wilayah, yaitu Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur yang masuk dalam wilayah Kabupaten Banjarnegara dan Dieng Wetan, Kecamatan Kejajar yang masuk dalam wilayah Kabupaten Wonosobo.

Advertisement

Ketika melihat keindahan pesona alam Dieng ini, aku merasa seolah-olah Tuhan sedang berbahagia ketika menciptakannya. Bagaimana tidak, kalau setiap detail dari sudut wilayahnya adalah keanggunan yang selalu membuat takjub. Atau memang benar ya, kalau Dieng merupakan tempat persemayaman para Dewa? Hmmm!

Karena ingin mencoba traveling dengan sensasi yang lain, aku mencoba ke daerah yang suhunya berkisar 12-20 derajat celcius ini dengan ikut agen perjalanan. Tentunya dengan mematuhi protokol kesehatan. Well! Diantara sekian banyak wisata alam tanah Dieng, hanya beberapa tempat saja yang bisa kami kunjungi. Tempat-tempat itu adalah Batu Angkruk, Candi Arjuna, dan Kawah Sikidang.

Advertisement

 

Melihat Indahnya Panorama Matahari Terbit di Batu Angkruk

Tempat yang menawarkan salah satu sisi keindahan dataran tinggi Dieng ini masih terbilang baru. Salah satu keunggulan dari tempat ini adalah sunrise point berupa jembatan kaca berukuran 18,6×2,3. Untuk menikmati sensasi berjalan di atasnya, para pengunjung diharuskan membayar tiket sebesar Rp15.000 untuk waktu beberapa menit saja. Pihak pengelola sengaja membatasi waktu bagi para pengunjung, sebab jembatan ini hanya bisa dinaiki oleh 10 orang saja.

 

Keturistikan Candi Arjuna

Candi Arjuna merupakan sebuah komplek dari kumpulan beberapa candi yang menempati area seluas -+ 1 hektar. Candi-candi tersebut adalah Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, dan Candi Sembadra. Penamaan candi-candi tersebut diambil dari nama-nama pewayangan. Menurut penjelasan dari guide kami, candi-candi ini ditemukan pada awal abad 18 oleh seorang arkeolog dari Belanda yang bernama Theodor Van Elf. Sewaktu ditemukan, komplek candi ini tergenang dalam air. Setelah 2-4 tahun, dilakukan upaya penyelamatan oleh arkeologi berkebangsaan Inggris yang bernama HC Corneulius. Untuk menghindari genangan air lagi, arkeolog ini kemudian membuat saluran pembuangan air.

Komplek Candi Arjuna ini terletak di Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara. Secara fungsi, Candi Arjuna, Candi Puntadewa, dan Candi Sembadra digunakan sebagai tempat persembahyangan dalam memuja Dewa Syiwa. Sedangkan candi yang lain digunakan sebagai tempat memuja Dewa Syiwa, Dewa Brahma, dan Dewa Wisnu (lebih dikenal dengan trimurti).

Sebelum memasuki komplek candi ini, kita akan menemukan suatu area yang luas bernama Darmasala. Ialah tempat tinggal sementara bagi umat Hindu yang akan menjalani peribadatan di komplek Candi Arjuna. Namun sebelumnya, umat hindu diharuskan untuk melakukan upaya pembersihan dan penyucian diri di dua sendang bernama Sendang Sedayu dan Sendang Maerokoco.

Secara etimologi, “sendang” adalah kumpulan dari air suci. Adapun “sedayu” berarti membersihkan diri. Sedangkan penamaan “maerokoco” diambil dari kisah Gatotkaca yang ketika lahir tidak bisa melihat. Hal itu menyimbolkan agar para penganut umat Hindu senantiasa memejamkan mata untuk bertafakur atas semua yang dilakukan. Maka dapat diketahui bahwasanya tahapan untuk bersembahyang di areal komplek candi Arjuna ini adalah pertama, melakukan penyucian diri di Sendang Sedayu dan Sendang Maerokoco. Kemudian para mereka beranjak ke Dharmasula untuk beristirahat dan bersiap-siap dan puncaknya adalah melakukan persembahyangan di areal komplek candi.

Menilik sejarah penduduk Dieng yang saat ini semuanya beragama Islam adalah pada zaman dahulu, telah terjadi bencana alam di kawasan ini. Hingga para penduduk yang dulunya semua beragama Hindu kemudian pindah pindah ke arah timur, tepatnya ke arah Tengger dan Bali. Setelah itu Dieng kosong dan kemudian datang beberapa orang dengan seorang tokoh agamawan muslim hingga kemudian agama Islam menjadi agama para penduduk hingga saat ini.

 

Sikidang, Si Kawah Yang Suka Berlompat-lompat

Kalau kita hendak berwisata ke dataran tinggi Dieng, maka Kawah Sikidang akan menjadi salah satu bucketlist yang pasti akan dikunjungi, sebab lokasinya yang tidak jauh dari area komplek Candi Arjuna dan juga Telaga Warna. Untuk menuju ke sini, dari kawasan Candi Arjuna kita hanya butuh 10 menit saja menggunakan kendaraan roda 4. Kita bisa masuk ke kawasan ini dengan tiket terusan dari Candi Arjuna.

Kawah Sikidang terletak di Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara. Kawah ini memiliki keunikan tersendiri dibanding dengan kawah-kawah yang lain. Keunikan tersebut terdapat dari kawah utamanya yang selalu berloncat-loncat/ pindah-pindah bak hewan kidang/kijang. Kita akan dengan mudah menemukan bekas kawah-kawah tersebut bahkan ketika baru masuk di kawasan ini. Bekas kawah-kawah tersebut adalah lubang-lubang besar yang mengeluarkan asap tipis. Adapun kawah utama saat ini berada di sekitar 1 kilometer dari pintu masuk. Kawah utama tersebut berupa kepulan asap tebal dengan air kawah mendidih yang cukup luas dengan suhu mencapai 80-90 derajat celcius. 

Ketika aku sampai di bibir kawah ini, aku melihat dua orang berbusana adat Jawa yang menjual telur rebus kawah. Aku heran, kok betah benget yang mereka mencium bau belerang yang menyengat tajam. Hmmmm, “paleng wes kulino, (mungkin sudah terbiasa), ucap temanku.

Di sepanjang jalan menuju kawah utama, berderet warga lokal yang menjual aneka oleh-oleh khas Dieng seperti tanaman purwaceng, buah carica, dan juga aneka olahan home made lainnya. Kawah yang dikelola oleh Perum Perhutani ini dibuka untuk umum mulai pukul 07:00-16:00 WIB setiap hari.

 

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

CLOSE