Dimana ada pertemuan pasti juga ada perpisahan, kalimat itulah yang selalu ku ingat dan ku buat sebagai prinsip hidupku untuk tidak mencintai dan menyayangi apapun secara berlebihan. Dan prinsip itu ku buat setelah aku tahu rasanya kehilangan dirimu yang dari dulu aku cintai.

Advertisement

Hai, namaku Siska Pratiwi tapi anak-anak gengku atau sahabatku di sekolah memanggilku sis layaknya sedang beli sesuatu di toko online.

“ kalau yang size L nya ada sis?”

“sis yang ini masih ready gk?”

Advertisement

“sis aku mau yang warna merah dong”

Yaahh, begitulah mereka memanggilku, but i like it. Aku selalu menerima dan tidak merasa terganggu dengan apapun panggilan mereka kepadaku. Aku merasa itu adalah panggilan sayang mereka kepadaku hahahaha, walaupun banyak juga yang memanggilku dengan kata-kata kotor tapi itu hanya beberapa anak yang memang sudah akrab sekali denganku. Mempunyai banyak teman itu rasanya WOW sekali bagiku, seperti dunia ini milikku sendiri, ketika keluar gang di daerah kosku selalu ada yang kusapa dan yang menyapaku. Yesss, rasanya seperti semuanya kenal denganku dan aku begitu terkenal dilingkungan rantauanku.

Tapi itu aku yang sekarang, bukan aku yang dulu. Dimana aku merasa tak mempunyai teman banyak dan sangat malu untuk bergaul dengan anak-anak sekelasku. Itu aku lakukan bukan tanpa alasan, tapi karena banyak sekali alasan yang akhirnya membuatku seperti itu. Dari dulu ukuran tubuh terlalu berlebihan dan hampir tak pernah kurus, salah satu alasanku tidak bisa bergaul dengan temanku adalah itu. Terlalu malu untuk mengenal lelaki yang aku sukai dan terlalu malu juga untuk mau berkenalan dengan orang.

Aku tumbuh di keluarga yang bisa dikatakan lebih dari berkecukupan, dan banyak orang di lingkunganku yang menghormati keluargaku begitupun kepadaku. Jadi meskipun ukuran tubuhku terlalu besar tidak ada yang mengolok-olok diriku di lingkungan rumahku. Sebenarnya banyak yang ingin mendekatku di rumah, tapi aku selalu berfikir dua kali untuk menanggapi hal seperti itu.

Aku sangat takut jika mereka mendekatiku hanya karena aku terlahir dari keluarga yang lebih dari berkecukupan, dan aku merasa sangat sensitif dengan hal itu. Karena aku tidak mau jika nanti cintaku hanya dimanfaatkan saja oleh mereka. Dengan keadaan itu aku tidak memperlihatkan latar belakang keluargaku di sekolahan atau di luar rumah. Biasanya aku berpenampilan seperti yang aku inginkan dan yang membuatku nyaman.

Seperti yang sudah aku jelaskan, aku tidak sebegitu berani jika berhadapan dengan lawan jenis, dan aku tidak mempunyai nyali untuk akrab dengan orang yang aku cintai. Seperti ada sesuatu yang mengganjal, jantungku berdetak lebih kencang dan tingkahku tak bisa ku kendalikan.

Saat itu aku berumur 16 tahun dan saat itu kehidupan asmaraku yang sesungguhnya dimulai. Dia adalah teman masa kecilku yang selalu bermain denganku saat dia ada di rumah neneknya. Ingatanku sangat buruk saat mengingat kenangan itu, dan aku tak tahu seberapa sering aku bermain dengannya. Hanya 2 moment yang aku ingat bersamanya diwaktu kecilku, pertama saat bermain perang-perangan dan kami berubah layaknya ultramen dan power rangers. Kedua, saat kami bermain kelereng di rumah neneknya dengan teman baikku yaitu sepupu perempuanya dan hanya kenangan itu yang bisa kuingat. Kira-kira saat itu kami masih SD kelas 3 atau 4 mungkin. Oh kenapa aku tidak bisa mengingat kejadian itu dengan baik.

Setelah kenangan itu aku tidak bisa lagi mengingat apapun yang terjadi dengan dia. Sampai akhirnya ketika aku SMP kelas 3 dia kembali lagi ke tempat neneknya dan tinggal bersama neneknya. Pertama melihatnya aku belum begitu mengenalnya, aku masih menerka-nerka apakah dia teman kecilku? Apakah dia sepupu teman baikku? Karena saat itu aku sangat pemalu untuk berkomunikasi dengan orang baru jadi aku hanya bisa menerka-nerka. Tidak tahu kenapa tapi pertama melihatnya aku tertarik kepadanya.

Aku tidak tau apa yang membuatku tertarik, namun matanya dan senyumnya tidak bisa aku hilangkan dari ingatanku. Dia memang bukan cinta pertama dihidupku, aku pernah mencintai seseorang tapi itu dulu saat aku masih kelas 5  SD. Tapi dia adalah cinta pertamaku di umur yang tidak monyet lagi, dia bukan cinta monyetku lagi, dia adalah cinta pertamaku ketika aku ABG.

Dan akhirnya lama-kelamaan aku mengetahui cerita tentang dia dari mulut-mulut tetanggaku. Kenapa dia tinggal dengan neneknya di sini. Setelah mendengarnya aku seperti tidak berdaya, bingung harus bagaimana dengan perasaanku yang sudah terlanjur mencintainya. Keluarga dia broken home, ayahnya pergi entah kemana dan ibunya menikah lagi dengan lelaki pilihan ibunya. Entah kenapa akhirnya dia tinggal dengan neneknya dan melanjutkan SMA di daerahku tinggal. Ya benar, latar belakang keluarganya kurang baik di lingkunganku dan neneknya pun kurang disukai oleh keluargaku. Hatiku saat itu benar-benar bingung, apakah yang harus aku lakukan? Apakah aku harus melanjutkan perasaan untuk mencintainya? Walaupun sebenarnya aku tahu akhir dari perasaanku ini.

Keluargaku yang sudah dihormati orang-orang di lingkunganku tidak mungkin memberikanku izin untuk mencintai dia dengan latar belakang yang seperti itu. Sebenarnya perasaanku tidak mengukur seseorang dari pendidikan, harta atau bahkan latar belakang keluarga, tapi di hidupku keputusan orangtua tidak bisa aku tolak. Sejak saat itu aku masih belum bisa menghilangkan perasaanku untuknya, jantung ini masih berdetak lebih kencang ketika aku bertemu dengan dia.

Mulut ini tiba-tiba melebar saat menatap matanya, kaki ini tidak bisa melangkah saat dia ada di tempatku berada, telinga ini tidak bisa pura-pura tidak mendengar ketika dia berbicara dengan orang lain dan perasaan ini tidak bisa berhenti untuk mencintainya. Setiap berpapasan dengan dia mata ini tidak bisa menunduk dan selalu melirik ke arah mata indahnya dan begitu bahagia ketika dia tersenyum tipis kepadaku. Tuhan apakah aku berdosa jika aku sangat mencintainya?

(to be continued )

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya