Baru baru ini warga kecamatan Wonoayu di hebohkan dengan fenomena unik di desa Pager Ngumbuk kecamatan Wonoayu kabupaten Sidoarjo Jawa Timur. Yaitu fenomena penampakan mirip puluhan mayat yang digotong dan ditaruh di balai desa. Namun ternyata itu bukanlah mayat melainkan salah satu adat dari budaya ruah desa di desa Pager Ngumbuk yang diadakan pada tanggal 29 April 2018 kemarin.

Ruah desa adalah upacara adat Jawa yang artinya Bersih desa, yang dilakukan oleh masyarakat dusun untuk membersihkan desa dari roh-roh jahat yang mengganggu. Dalam upacara bersih desa ada sedekah bumi yang biasanya berupa nasi tumpeng dan lauk-pauk yang dibuat oleh warga desa yang mempunyai sawah atau perkebunan di daerah tersebut.

Advertisement

Tidak hanya itu pihak desapun menyembelih satu buah kerbau untuk di bagikan kepada seluruh warga yang mempunyai sawah atau perkebunan tersebut. Dan nantinya daging serta tulang kerbau harus dimasak lalu dibawa dalam upacara adat tersebut untuk di kenduren.

“Jadi mulai bagian ujung kepala sampai kaki kerbau yang di masak oleh warga di bawa di upacara adat dan tidak boleh tertinggal satupun organ–organnya walaupun itu organ dalam perut seperti usus sekalipun,” ujar Wika panitia pelaksana adat tersebut.

Sebelum acara puncak upacara ada ada beberapa serangkaian kegiatan lain yang di selenggarakan panitia yaitu yang pertama adalah Gebyar Sholawat yang diadakan di tiap dusun di desa tersebut, lalu di lanjut keesokan harinya dengan acara pengajian akbar yang di isi oleh ustad yang cukup ternama di daerah tersebut.

Advertisement

Dan pada hari kegita barulah masuk ke acara upacara adat pada pagi hari semua warga membawa makana yang di tempatkan di tempat seperti kursi lonjong lalu semua makanan dan buah buahan ditutupi oleh kain hingga menyerupai mayat kaena bentuknya menyerupai gulungan mayat. Setelah itu digotong dan diarak dibawa ke balai desa untuk berdoa bersama dan dimakan bersama.

Acara ada ini di ikuti oleh puluhan orang warga desa tersebut. Namun semua orang boleh ikut menikmati hasil bumi dan makanan yang telah didoakan di upacara adat ruah desa tersebut. Setelah berdoa bersama dalam upacara adat malamnya ada pagelaran budaya yang diadakan yaitu pagelaran wayang kulit.

Di era milenial seperti ini masih ada suatu desa yang masih memegang teguh budaya leluhur bahkan tidak disangka-sangka yang menjadi penyukses acara tersebut tidaklah luput dari usaha panitai yang rata rata usianya masih muda. Pemuda yang masih mengingat dan melestarikan budayanya seperti inilah yang patut diregenerasikan. tanpa menutup diri dari tren, namun tetap teguh pertahankan jati diri budayanya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya