"Hai, jeng. Gimana kabarnya?" Suara Bu Mery menyapaku saat aku berpapasan dengannya di jalan. Jangan lagi, gumamku pelan. Pelan, aku memasang wajah senyum terpaksa padanya.

"Halo, Bu Mery. Kabar saya sehat," sahutku singkat.

Advertisement

Aku tak mau bertele-tele, kalau bisa aku ingin segera menyingkir dari sana. Ah, seandainya diriku punya jurus menghilang.

"Lama nggak kelihatan lho Jeng Wika ini. Ke mana aja, Jeng?"

Malas sekali sebenarnya meladeninya. Tapi, demi sopan santun dan kerukunan hidup bertetangga, ku jawab juga pertanyaannya.

Advertisement

"Habis keluar kota, Bu. Tugas kantor," jawabku.

"Sibuk kerja ya? Ngomong-ngomong, gimana Jeng? Sudah isi?"

Oh My God, pertanyaan itu lagi. Kenapa sih orang tidak bosan-bosan bertanya tentang hal itu? Ingin tahu saja. Sekali-sekali, bertanyalah hal yang lain. Kalau tidak, tutup mulut sekalian, tidak usah bertanya.

Aku meringis lalu menggeleng pelan. "Belum, Bu," sahutku. Lalu pura-pura menoleh jam tangan "Bu Mery, saya permisi duluan. Mau ke warung sebelah, mau cepat-cepat masak sebelum berangkat kerja,"

Aku tersenyum singkat lalu meninggalkan tetanggaku itu. Sebentar lagi, berita kalau aku belum hamil juga bulan ini akan menyebar ke tetangga-tetangga yang lain.

Aku merutuk dalam hati, setengah kesal setengah nelangsa. Niatku ke warung pupus sudah, aku kembali ke rumah lewat jalan memutar agar tak bertemu tetanggaku yang suka bergosip dan sok ikut campur urusan orang itu.

Sesampai di rumah, kututup pintu depan dengan membantingnya, meluapkan kekesalan. Lalu duduk terhenyak di kursi ruang tamu.

"Kenapa, Ma?" Suamiku muncul dari kamar sudah berpakaian kantor. Dia menatap wajahku yang ditekuk terlihat jengkel.

"Lho? Nggak jadi ke warung? Katanya mau masak soto sebelum berangkat kerja?" Dia bertanya lagi.

Aku diam, tak kusahuti pertanyaannya.

Suamiku menghela napas lalu duduk di sampingku. "Ada apa?" tanyanya lembut.

"Aku kesal, Pa. Kenapa setiap bertemu orang pasti pertanyaannya selalu sudah isi apa belum? Kayak nggak punya stok pertanyaan yang lain aja. Memang siapa yang sudah menikah nggak ingin hamil, Pa?! Semua perempuan juga mau! Tapi, itu'kan rejeki dari Tuhan. Kalau belum waktunya kita bisa apa?!"

Dan akhirnya, aku pun meluapkan kekesalanku pada Beno diiringi air mata yang mulai jatuh membasahi pipiku tanpa bisa kutahan. Selalu seperti ini, padahal aku sudah menguatkan hati mendengar apa pun ucapan orang. Dari nasihat-nasihat halus, kata-kata bernada prihatin sampai sindiran-sindiran tidak berperikemanusiaan. 

Pernah ada temanku yang berkata," Ka, percuma lho kerja keras tiap hari kamu sama suami kalau sampai sekarang belum hamil juga. Rumah sudah ada, mobil ada, uangmu banyak, tapi rumahmu sepi."

Ya Tuhan, temanku berkata seperti itu dengan wajah mencela seolah mengejek. 

Siapa juga yang tidak ingin hamil setelah menikah, aku rasa itu impian semua perempuan setelah menikah. Bisa hamil, bisa melahirkan. Yang menunjukkan artinya aku dan suami normal. Sedih hati ini, padahal usia pernikahanku dan suami baru 1 tahun. Belum bertahun-tahun, apalagi berpuluh-puluh tahun.

"Sudah, Ma. Jangan dipikirkan," Beno mengelus kepalaku. "Kalau kamu stres, malah berpengaruh ke psikis kamu"

"Papa nggak ngerti perasaanku!" sahutku ketus di sela-sela tangis.

"Papa paham, Ma. Bukan cuma mama saja yang mengalami," suamiku tetap mengelus-elus kepalaku berusaha meredakan tangisku.

***

 

"Besok Sabtu kita pulang kampung ke rumah mami papi ya, Ma," kata  Beno saat keluar dari kamar mandi. Aku sedang menyiapkan makan malam.

"Malas, Pa," sahutku singkat.

"Lho? Kita jenguk mami papi, kan sudah lama nggak pulang. Sudah ada sebulan," ujar Beno.

"Malas ketemu keluarga yang ini yang itu. Paling juga kalau ketemu pertanyaannya, gimana Wika, udah isi belum? Kok belum hamil juga? Kok lama ya? Muak aku dengarnya!" sahutku sengit.

"Abaikan saja. Kan cukup dijawab belum, gitu aja jawab," Beno duduk di meja makan sambil menyantap nasi, ayam serta sayur sup yang kuhidangkan.

"Kita program aja yuk, Pa. Atau bayi tabung gimana?" ujarku lirih.

"Papa rasa belum perlu, Ma. Toh, baru setahun. Program ke dokter juga paling disuruh memperbaiki pola makan, makan makanan yang sehat, minum obat penyubur dulu. Kan kamu sudah dikasih tahu temanmu yang bidan itu," ujar Beno menanggapi permintaanku.

"Papa yakin papa sehat, papa juga yakin kalau mama juga sehat. Belum waktunya saja, Ma. Kita bersabar dulu"

"Aku capek, Pa. Tiap bulan berharap, setiap bulan ngecek testpack harap-harap cemas nunggu dua garis merah tapi nggak ada hasil. Sudah dua kali kena zonk. Saat telat, kupikir positif. Ternyata nggak," kataku pelan. Hilang sudah selera makanku. Begitu sensitif kalau sudah membahas hal ini.

"Tetap sabar, tetap berdoa. Pasti akan datang disaat yang tepat," Beno kembali membesarkan hatiku.

***

Tanpa sengaja, aku mencuri dengar percakapan suamiku dengan ibu mertuaku di dapur.

"Coba saja diajak ke orang pintar itu. Kata saudara dan tetangga di sini bagus, perutnya dipijat-pijat aja sedikit. Nanti dikasih tahu minum air kelapa. Siapa tahu istrimu bisa hamil," kata ibu mertuaku pelan.

"Tapi, Mi, harusnya kita ngomong dulu ke Wika. Dianya mau apa nggak. Nggak usah aja, Mi. Kita masih mau sabar nunggu. Semua Tuhan yang atur," Kudengar sahutan suamiku.

"Mami yakin, tanpa dikasih tahu, istrimu pasti setuju," sahut ibu mertuaku nggak sabaran. "Harus mau, siapa tahu habis dari sana mami jadi punya cucu kedua."

Aku menghela napas panjang, ingin teriak rasanya. Yang menjalani aku, kenapa mereka semua begitu ribet mengatur hidupku. Aku berjalan menuju kamar, malas mendengarkan percakapan mereka lagi.

Malam hari, saat akan tidur, suami memberitahuku untuk siap-siap esok pagi.

"Mau ke rumah orang pintar, tukang pijat perut itu 'kan?" tanyaku tanpa menoleh padanya.

"Kamu tahu, Ma?" Beno balik bertanya kaget.

"Aku nggak sengaja denger omongan kamu sama mami. Kenapa nggak nanya aku dulu, Pa? Ini badan aku, ini hak aku. Mestinya kamu atau mami tanya dulu ke aku. Aku mau apa nggak ke sana," kataku kesal. Aku memandang langit-langit kamar.

"Aku udah sampai capek bilang sama mami, Ma, buat minta izin ke kamu. Tapi mami bilang, kamu pasti setuju. Tinggal bilang ke kamu buat siap-siap paginya, jangan sarapan minum air putih aja," Suamiku menyahut pelan, ada rasa bersalah pada suaranya. Dia menggenggam tanganku.

Aku memunggunginya. "Kamu aku ajak program ke dokter bilang belum perlu, giliran mamimu yang ngomong ngajak ke tukang pijat perut, kamu nggak bisa nolak. Padahal yang ngejalanin aku, bukan kamu"

Suamiku terdiam, tanpa tahu harus menjawab apa.

***

 

Aku cuma diam memandang jalan tanpa berniat ikut ngobrol. Sementara ibu mertuaku, sepupu jauh suamiku yang menunjukkan jalan ke tukang pijat perut serta ayah mertuaku sibuk mengobrol di belakang.

"Bisa hamil kamu, Ka. Cuma memang nunggu agak lama kata si tukang pijat," sepupu jauh suamiku mengajakku bicara. "Rajin-rajin minum air kelapa biar haidmu teratur"

"Iya, kak," sahutku tanpa menoleh.

"Hebat juga ya itu tukang pijat," kata ibu mertuaku semangat. "Bahkan orang yang nggak mungkin bisa hamil bisa sembuh"

"Iya dong, Mi. Aku bisa punya anak laki-laki juga karena tukang pijat itu. Sudah uzur begitu, masih kuat lho," sahut sepupu jauh suamiku.

Samar-samar kurasakan tangan suamiku menggenggam tanganku sambil menyetir mobil. Aku melirik sekilas padanya yang masih fokus ke jalanan. Aku tahu maksudnya, seolah dia mengatakan untuk ikhlas, berserah dan pasrah pada Yang Kuasa.

Aku menggenggam balik tangannya. Kami berdua seakan saling menguatkan lewat genggaman tangan masing-masing.

***

 

Aku meminum air kelapa yang sudah dibelikan suamiku sebelum dia berangkat pulang kampung karena ada acara keluarga. Aku ingat percakapanku dengan suami seminggu yang lalu.

"Pa, aku kok belum haid juga ya? Padahal sudah lewat seminggu dari tanggal biasa," ujarku pada suami yang sedang sibuk di depan laptop.

"Coba dicek, Ma. Masih punya testpack 'kan?" sahut suamiku.

"Hhh….Aku takut kecewa lagi, Pa," kataku lirih.

Suamiku menoleh padaku lalu beranjak bangun dari duduknya dan berdiri di sampingku yang sedang mengatur pakaian.

"Coba saja, Ma. Siapa tahu," Dia memeluk pinggangku. "Tapi terserah mama saja."

Aku berbalik menghadap Beno, menatap matanya.

"Kita pasrah dan serahkan semua ke Tuhan ya, Ma," kata suamiku lagi, mengecup sekilas keningku lalu kembali duduk di depan laptop.

Aku menarik nafas, menghabiskan air kelapa muda. Sudah lewat 2 minggu dan aku belum haid juga. Apa aku harus mencobanya?

Memantapkan hati, aku mengambil tespack di lemari lalu berjalan menuju kamar mandi. Aku menunggu hasilnya sambil menutup mata dan saat ku tatap garis di testpack, ada dua garis merah di sana walaupun yang satu lagi terlihat samar. Aku terkejut, tidak percaya lalu kembali mengambil testpack  kedua dan mencobanya kembali untuk meyakinkan diri.

5 menit berlalu dan saat ku tatap kembali testpack, memang ada dua garis merah yang kini terlihat jelas. Aku menutup mulutku, tak terasa air mataku mengalir deras. Ya Tuhan, terima kasih sudah mengabulkan doaku.

Buru-buru kutelepon Beno. Di dering ketiga dia mengangkat ponselnya.

"Halo, Ma, kenapa?" sahutnya dari seberang.

"Pa, positif," ujarku lirih ditengah isak tangisku.

Hening, tak terdengar suara sesaat dari seberang sampai kemudian.

"Yess! Yess!" Suamiku berteriak kegirangan. Aku yang mendengarnya tertawa di sela-sela tangisku.

"Begitu acara selesai, aku usahain langsung pulang, Ma. Kita ke dokter kandungan ya mastiin," ujarnya bersemangat, tidak bisa menyembunyikan bahagia.

"Ya, Pa. Mama tunggu. Mama akan telpon kantor minta izin," sahutku.

Begitu menutup telpon, aku kembali melanjutkan tangisku. Tangis bahagia. Ya Tuhan, terima kasih sudah mengabulkan doa-doa kami. Penantian ini berbuah manis.

***

"Iya, ini ada kantong rahimnya. Sudah ada janin ini, letaknya di dalam kantong rahim janinnya. Sudah 4 minggu usianya."

Dokter Suta menjelaskan sambil tangannya lincah menggerakkan alat USG di atas perutku. Aku dan suami memandang Dokter Suta lalu kembali menatap layar USG. Wajah kami begitu bahagia. Suamiku menggenggam erat tanganku sambil sesekali mengecup punggung tanganku. Matanya tampak berkaca-kaca.

"Istri saya positif hamil berarti, Dok?" tanya Beno sekali lagi, mencari keyakinan.

Dokter Suta tertawa sebelum menjawab," Positif. Janinnya sudah 4 minggu dan letaknya di dalam kantong rahim. Bukan hamil anggur ya. Selamat sekali lagi ya, saya ikut berbahagia. Ingat bulan depan kontrol lagi ya, kita lihat perkembangannya si dedek bayi."

"Terima kasih banyak ya, Dok," sahutku sambil tersenyum. Rasanya bibirku tidak bisa berhenti tersenyum. Terima kasih Tuhan telah menghadirkan rejeki yang luar biasa di dalam rahimku. Buah cintaku bersama Beno yang kami tunggu-tunggu.

Halo, Nak. Selamat datang di hidup kami, terima kasih sudah menjadi pelengkap kebahagiaan kami, kataku dalam hati sambil mengelus lembut perutku.

***

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya