Duck Syndrome, Antara Pura-pura Bahagia Atau Memang Tabah Dalam Menjalani Kehidupan?

Dibalik bakwan ada udang, dibalik kebahagiaan ada tekanan

Hai Sohip apa kabarnya kali ini? Sejak covid menerpa, sosial media menjadi hal yang tak bisa lepas dari kita, apalagi sejak digunakannya system work from home rasanya memang sungguh aduhai. By the way kalau ngomong sosial sosial media pasti kalian akan menemukan berbagai jenis manusia mulai dari mereka post foto mobil mewah, jalan-jalan ke luar negeri, ikut fansign bareng idol kpop, dan yang pasti membuatmu berfikir enak banget ya hidupnya bisa ini itu. Siapa sih yang gak kagum dengan orang yang meraih kesuksesan entah itu di bidang prestasi maupun usaha. Bahkan nggak sedikit dari kita juga yang berharap seperti mereka.

Advertisement

Eitss, tapi tunggu dulu tapi apa kalian pernah berfikir juga dibalik kesuksesan dan kesenangan yang diperoleh terdapat tekanan dan permasalahan yang ditutupi. Sehingga demi menutupinya mereka akan terlihat baik-baik saja tanpa beban. Kalo kata orang sih, pura-pura bahagia di atas penderitaan. Nah, kondisi inilah yang disebut sebagai duck syndrome.

Nah, pasti kalian pernah melihat bebek yang berenang, istilah duck syndrom tidak jauh dengan bebek yang berenang seolah merasa tenang, namun tahukah kalian bahwa bebek menggunakan kakinya untuk berjuang bergerak di dalam air agar tubuhnya tetap berada di atas permukaan air.

Lalu, apa hubungannya dengan bebek? bebek yang berenang seolah tenang ini digambarkan sebagai kondisi seseorang yang terlihat tenang dan baik-baik saja, namun sebenarnya ia memiliki tekanan dalam hidupnya untuk mencapai tujuannya sendiri. Sindrom ini kebanyakan dialami oleh para pelajar, dan para pekerja.

Advertisement

Walaupun orang yang mengalami hal ini masih memiliki beban dan tekanan yang dipikul, mereka masih bisa menjalankan aktivitas seperti biasa dengan baik dan produktif. Hal ini terjadi karena mereka memiliki dukungan serta ketabahan yang kuat.

Hal-hal seperti tuntutan untuk menjadi yang terbaik,perfeksionis, pengaruh sosmed, serta peristiwa trauma menjadi faktor penyebab mengapa banyak orang mengalami sindrom ini. Perasaan gugup,cemas, dan tekanan mereka paksakan demi terlihat baik-baik saja. Orang yang mengalami sindrom ini bahkan lebih suka membanding-bandingkan kehidupannya yang mana ia merasa bahwa hidup orang lebih baik dan sempurna dibanding dengan dirinya.

Adapun orang yang memiliki sindrom ini sering mengalami gejala seperti kewalahan dalam melakukan hal-hal yang berada di luar kendali, terus-menerus meras khawatir, merasa kesepian, dan suka membandingkan diri. Untuk menangani sindrom ini, biasanya diperlukan manajemen waktu dengan baik guna mencapai sebuah perencanaan demi menghindari hal-hal yang terduga, tidak hanya itu menikmati waktu bersama dengan teman, dan melakukan hobi yang disukai bisa membantu perasaan lebih baik.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Selain suka buku aku juga suka halu

CLOSE