Tidak selamanya fisik yang kuat diikuti oleh hati yang kuat juga. Yang berusaha sekuat tenaga untuk tidak merasa lemah, tetap saja di saat keluh datang rasanya ingin menyerah. Dilahirkan dengan tubuh yang sehat, belum tentu mempunyai mental yang kuat. Bukan tidak bersyukur, bukan. Kita tidak selamanya bisa merasa kuat, kan?

Ada kalanya aku hanya ingin berbincang dengan angin, perihal takdir yang tak diinginkan. Semakin banyak keluhku, semakin banyak pula ia berembus, berniat menyadarkan dari perasaan yang mematikan.

Advertisement

Saat duniaku sedang benar-benar hancur, saat jiwa ini membutuhkan rumah untuk pulang, saat itu pula semesta mengujiku dengan petang, kegelapan yang diantar malam. Beribu mengapa tak jua mendapat karena, beribu keluh tak jua menemui penawarnya, yang akhirnya hanya amarah yang meredam dalam diri.

Ketika inginku yang tak kunjung menemui puncaknya, ketika harapku hanya menyisakan sesak, ketika rasa iri mendominasi hati, ketika itu pula yang bisa aku lakukan hanya menyalahkan takdir.

Satu pertanyaan yang paling menggerogoti pikiranku adalah "mengapa aku berbeda?"

Mengapa mereka bisa merasakan apa yang selama ini aku inginkan, sedangkan aku masih berjuang bahkan mungkin hanya bisa jalan di tempat untuk meraihnya. Banyak sekali rintangan yang harus aku hadapi, sedangkan mereka dengan begitu mudah mendapatkan semuanya.

Advertisement

Aku tahu mungkin aku diciptakan sebagai manusia yang lebih kuat, tapi apakah harus semenyakitkan ini dalam mengahadapi rasa iri? Keluarga yang tak lagi lengkap, pendidikan yang tak mampu aku gapai, karier yang hanya jalan di tempat, dan passion yang sama sekali belum aku ketahui.

Usahaku untuk bangkit, mengumpulkan puing-puing kebahagiaan yang tersisa namun masih tetap saja Dia uji. Ketika prosesku selalu menemui gagal, ketika keberhasilan tak kunjung aku genggam, dosa terbesarku adalah meragukan keadilan-Mu, maafkan hamba yang sedang lemah ini. Beri aku kekuatan agar bisa melewati ini semua.

Jangan menghakimi ketidakberdayaan ini, aku hanya seorang manusia biasa. Setiap orang pasti pernah berada di titik terlemahnya, dan mungkin ini adalah bagianku. Aku hanya butuh senyum dalam tangis, setidaknya ada sesuatu yang mengingatkan aku untuk bersyukur saat air mata ini mengalir tak terukur.

Tenang saja, ini hanya sementara dan tidak akan berlangsung lama, aku paham betul jika hidup ini harus tetap dijalani, apa pun yang terjadi, berapa banyak kegagalan yang menghampiri, nasib buruk tidak selalu harus diratapi, aku sadar akan semua itu.

Sekali lagi izinkan aku merenung dan tampak lemah kali ini saja, maafkan aku yang tidak bisa sekuat biasanya, beban ini terlalu berat untuk disembunyikan. Begitu pandainya diri ini menyembunyikan isi hati, hingga tak seorang pun menyangka jika terdapat jiwa yang teramat lemah di balik senyuman yang selalu terpancar ramah. Doakan aku agar kembali kuat seperti sedia kala. Saat duniaku kembali baik-baik saja, saat hatiku kembali berdamai dengan keadaan, saat itu pula ceriaku dapat kembali kalian temukan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya