Indonesia adalah negara yang kaya dalam berbagai hal, salah satunya adalah kuliner. Berbagai macam sajian kuliner khas Indonesia selalu menjadi daya tarik tersendiri bagi setiap orang yang mencicipinya. Di antara kuliner tersebut terdapat salah satu sajian yang masih menjadi idaman hingga saat ini dan sering dikonsumsi pada saat hari-hari khusus, yaitu bubur sumsum.

Bubur sumsum adalah makanan sejenis bubur berwarna putih yang dibuat tepung beras dan biasa disantap bersama dengan kuah manis yang terbuat dari air gula Jawa. Walaupun menyandang nama sumsum, namun bubur sumsum jarang ada yang benar-benar mengandung sumsum. Nama bubur sumsum diberikan karena penampilannya yang seperti sumsum tulang pada saat disajikan.


Menurut Murdijati Gardjito, seorang Guru Besar dan peneliti pangan dari Universitas Gadjah Mada, kisah semangkuk bubur di Indonesia sama dengan kisah pada saat memperjuangkan hidup, terutama pada masa kritis. Menurutnya, bubur terlahir pada saat kalangan bawah tengah berjuang untuk memenuhi pangannya. Terutama pada saat sedang terjadi krisis pangan. Hal tersebut terlihat dari ratusan bubur di Indonesia yang jarang sekali dicampur dengan lauk hewani. Oleh karena itu kasta bubur bisa dikatakan berada di bawah nasi.


Walaupun terlahir dari kalangan bawah, menurut Heri Priyatmoko, Dosen Prodi Sejarah Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma, bubur menjadi sebuah simbol kesederhanaan. Di mana bubur yang dalam bahasa jawa disebut sebagai jenang mampu mendobrak tembok-tembok kasta dan hadir menjadi sajian untuk berbagai kasta di Indonesia. Jenang mampu menjadi simbol kesederhanaan karena terbuat dari bahan-bahan yang berada di sekitar tanpa harus diimpor.

Dalam penyajiannya, bubur sumsum biasa disajikan baik sebagai cemilan di saat senggang maupun sebagai peringatan suatu hari khusus atau perayaan suatu upacara khusus. Beberapa contoh dari penyajian bubur sumsum pada saat hari khusus atau perayaan upacara adalah bubur merah dan bubur putih pada saat hari kelahiran bayi. Pada saat bayi baru lahir, orang tua biasa akan membagi-bagikan bubur merah dan bubur putih kepada tetangga, dan handai taulan sebagai simbol perkenalan.

Advertisement

Oleh karena itu, masyarakat Sunda seringkali mendengar ungkapan “Ngaran budak the geus beunang ngabubur beureum ngabubur bodas” yang berarti nama anak ini sudah dikuatkan dengan bubur merah dan bubur putih.