Sejak Tahun 2014 dunia musik Indonesia sedang berada di fase jenuh dan para muda mudi cenderung bosan dengan musik yang itu-itu saja. Kala itu musisi Indonesia dianggap tidak serius membuat musik dan hanya meraup keuntungan semata saja. Entah berawal dari mana, nama-nama seperti Danilla, Barasuara, Banda Neira hingga Fourtwnty, melejit bak penyelamat krisis pada skena musik Indonesia. Dan para kawula muda menyebutnya sebagai “Musik Indie”.

Demam Indie ini semakin berlanjut seiring pengaruh social media yang begitu besar dan semakin banyaknya gigs yang menghadirkan nama-nama di atas. Gigs mereka pun tidak melalui promosi yang mewah, hanya sebatas poster dan mengandalkan social media saja. Produksinya pun sederhana, hanya sebatas stage kecil dan segelintir penonton. Dan dari situ penonton dan band dapat terikat secara personal.

Advertisement

Seiring berjalannya waktu, “power of social media” kembali berulah, yang tadinya hanya sebagai ajang promosi, kini menjadi ajang keren-kerenan antar pemuda. Gokil!. Efek Rumah Kaca yang sempat redup kini bersinar kembali dengan tembang “Sebelah Mata” yang sebenarnya sudah lama diciptakan. Semua orang mulai mengenali band-band indie dan mengakui kemampuan mereka dalam skena musik. Yang akhirnya, fenomena ini menjadi “pop-culture” dalam skena musik Indonesia. Gairah hipster semakin terlihat di lingkaran pemuda-pemuda penikmat musik, semua berlomba-lomba ingin menjadi beda dan sebisa mungkin mendengarkan musik yang belum pernah orang lain dengar sebelumnya. Dan tentunya, mereka menyebut itu dengan sebutan “Musik Indie”. Ditambah lagi, band-band barat yang populer di tahun 90-an kembali melejit seakan terbakar kembali. Sebut saja Oasis, Nirvana, Radiohead, Blur. Nama yang familiar di zaman dahulu, kembali terlihat di era milenial. Kebosanan masyarakat Indonesia atas skena musik memang benar-benar serius. Pasalnya, di era tersebut sedang gencar gencarnya musik EDM, dan lagu-lagu cinta dengan lirik yang cengeng.

Hal yang menarik adalah, para pendengar musik di skena ini bukan hanya berperan sebagai pendengar saja. Semua mendadak jadi anak sastra dengan menghadirkan puisi-puisi terbaik mereka untuk upload di social media. Dan tentunya nggak lupa kopi dan buku sebagai “props” wajib ketika nongkrong. Hal ini pun pelan-pelan semakin membudaya dan menular ke berbagai lapisan masyarakat. Bak sebuah wabah, gigs-gigs yang menghadirkan band Indie pun semakin menjamur, hal ini menandakan respon masyarakat yang begitu baik atas kehadiran mereka.

Masyarakat pun mulai meninggalkan tv dan beralih ke sosial media untuk mengetahui kabar terbaru mereka, yang mencakup jadwal gigs, lagu terbaru, album terbaru dan lainnya. Bisa dikatakan, pada fase ini kebanyakan masyarakat mulai melek musik dan bahkan haus akan musik-musik berkualitas. Atas fenomena ini, major label pun pusing bukan main dibuatnya.

Advertisement

Bahkan lagu Akad dari Payung Teduh berhasil menduduki Top Chart di berbagai televisi swasta. Meskipun begitu fenomena ini bukanlah hal yang baru, pada tahun 2000-an awal Efek Rumah Kaca juga eksis secara komersil di berbagai acara musik, bahkan hingga saat ini. Senja, kopi dan puisi bak sebuah keluarga yang tidak bisa dipisahkan dari fenomena ini. Coffee shop semakin banyak disinggahi oleh para penikmat musik yang padahal sebelumnya memang tidak menyukai kopi. Sisi melankolis mereka pun dituangkan kedalam bait-bait puisi dengan berbagai frasa dan metafora. Sampai akhirnya, yang semua berawal berlomba-lomba untuk menjadi berbeda. Kini semua terlihat sama dan bermuara pada kata “Mainstream”.

Menarik memang, tidak ada salahnya jika nama – nama diatas menjadi pemantik atas fenomena ini dan turut serta memperbaiki skena musik Indonesia kala itu. Semua kembali lagi pada penikmatnya. Orang – orang seakan lupa, mereka yang menganggap skena musik Indonesia kala itu norak, kini mereka enggak kalah norak. Banyak orang beranggapan bahwa musik yang mereka buat adalah “musik indie”, jadi mereka menyebut “indie” sebagai genre atau aliran musik. Faktanya, Indie merupakan sebutan bagi band yang berada diluar major label alias Independen.

Tidak ada hubungannya dengan aliran musik yang diusung. Hanya saja, karena faktor kebebasan tersebut, banyak karya-karya dari band Indie yang di luar template major label hingga membentuk anggapan bahwa indie merupakan genre sebuah lagu. Maka dari itulah, mengandalkan kebebasan tersebut, mereka dapat menemukan esensi dari musik itu sendiri. Lirik yang cerdas hingga cadas, kritik terhadap suatu hal, hingga bermain emosi melalui melodi.

Namun yang terjadi di lapangan adalah, para pendengarnya hanya memanfaatkan sisi “keren” dari band-band tersebut sehingga menghilangkan esensi musik sebenarnya. Lebih parahnya, para pendengar indie garis keras ini mengolok-ngolok pendengar musik lain yang tidak satu aliran dengan mereka. Terlebih lagi bagi mereka pendengar band major label, sehingga menimbulkan stereotype bahwa “indie itu gaul. Label itu norak”.

Indie bukan lah sekedar musik keren atau kebetulan keren karena lagi masanya. Terlepas dari Indie atau Major Label, musik diciptakan untuk menemani pendengarnya di keadaan dan kondisi emosional apapun. Baik itu major label atau indie, jika mereka serius dalam membuat musik, kenapa tidak didengarkan saja?. Berhentilah beranggapan bahwa musik major label sampah dan indie adalah musik anak – anak gaul. Berhenti juga mendengarkan Arctic Monkeys, Rex Orange County, Boy Pablo, Peach Pit hanya untuk keren-kerenan saja tanpa tahu esensi yang mereka buat. Pada intinya, dengarkan musik sesuai selera kalian tanpa sikut – sikutan, karena selera musik adalah representasi dari sisi emosional seseorang

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya