Kumpulin duit dulu yang banyak, baru nikah! Pria berduit banyak disenangi kaum wanita.


Ini adalah contoh pemikiran picik pria tentang wanita. Apakah semua wanita memikirkan materi semata dalam rumah tangga? Selain itu juga wanita yang menginginkan pria kaya belum tentu tulus menjalani bahtera rumah tangga nantinya. Cari istri yang cantik itu banyak, tetapi yang sholehah itu sukar.

Untuk para pria, wajib baca kisah ini. Ini adalah kisah tentang salah satu saudara sepupuku. Sebut saja namanya Ahmad. Dia berumur 19 tahun waktu itu. Kesehariannya adalah mengaji. Ibunya sudah lama meninggal dan Ayahnya tinggal di Bandung. Ahmad di Jakarta tinggal di rumah nenek kami, Ayahku juga lebih sering tinggal di sana untuk menemani nenek. Aku tidak dekat dengan sepupuku, Ahmad. Namun, aku sempat kaget ketika mendengarnya ingin menikah segera. Bukan karena aku cemburu.

Ayahku dianggap orang yang dihormati di antara keponakan-keponakannya. Sebab itu, Ahmad mengatakan keinginannya untuk menikah kepada Ayahku.


“Uwak, Ahmad mau melamar seorang wanita. Namanya Fatimah. Kalau boleh, Uwak jadi saksinya nanti.”


Advertisement

Mendengar itu Ayahku tentu saja kaget, termasuk aku yang tidak sengaja mendengar karena sedang makan di ruangan yang bersebelahan dengan ruang tamu tanpa dinding ataupun sekat.


“Mau kasih anak orang apa, Ahmad? Mau nikah itu pikirin juga masa depan anak orang.”


Aku sependapat mendengar jawaban Ayahku. Bagaimana mungkin sepupuku ini bisa-bisanya memiliki keinginan menikah tanpa memikirkan masak-masak. Namun, aku berubah pikiran dan sependapat dengan sepupuku, ketika ia menjawab pernyataan Ayahku.


“Uwak, yang kasih makan bukan Ahmad. Allah yang kasih makan, Wak. Ahmad cuma berusaha dan berdoa nantinya. Allah yang kasih jalan.”



“Baiklah, Ahmad. Uwak mendukung dan akan menjadi saksi nanti. Kapan kamu akan melamar?”


Ahmad tersenyum. Kemudian ia menjawab pertanyaan Ayahku


“Insha Allah, Sabtu ini Wak!”


Ahmad dan Fatimah saling kenal dalam proses ta’aruf. Usia keduanya selisih 5 tahun. Usia Fatimah lebih tua dibandingkan sepupuku. Mungkin usia juga menjadi pertimbangan Ahmad untuk melamar Fatimah. Ahmad sangat manja dengan Fatimah. Aku melihat mereka seperti ibu dan anak.

Setelah 10 tahun berumah tangga, Ahmad dan Fatimah telah memiliki 5 anak. Mereka hidup dengan kecukupan, tidak berlebihan, tidak kekurangan. Ahmad berjualan mie ayam didekat rumah yang ditempati oleh keluarganya sekarang. Setiap aku ke rumahnya terasa seperti di playgroup, anak-anak di mana-mana.

Mereka bahagia hingga saat ini. Tidak ada satu pun anaknya yang kekurangan gizi bahkan anak pertama dan kedua telah sekolah di salah satu sekolah dasar Islam terpadu. Tentu saja tidak ada bantuan pemerintah untuk sekolah di sana. Tetapi mereka bisa dan mampu. Benar kata sepupuku, yang memberi makan bukan kita melainkan Allah. Di mana ada niat untuk menjadi manusia yang baik pasti akan dibukakan jalan oleh Allah.