oleh Aqila Hakim

VOC bukanlah nama asing bagi sejarah perjuangan proklamasi merdeka Indonesia. VOC singkatan untuk Vereenigde Oostindische Compagnie itu dikenal sebagai persekutuan/kongsi perusahaan perdagangan dari Hindia Timur. Saat itu, VOC sedang menaklukan perdagangan Indonesia melalui monopoli, kerja paksa dan mengambil hasil – hasil perdagangan Indonesia dan membangun sebuah kantor pusati.

Untuk menggali lebih dalam materi tersebut, saya dan teman–teman saya mengikuti program Jakarta Walking Tour by Jakarta Good Guide di mana kami mengelilingi Kota Tua dan mengunjungi berbagai tempat–tempat bersejarah dan mempelajari cerita–cerita dibalik berbagai tempat tersebut. Walking Tour diadakan pada tanggal 11 Februari 2018, tepatnya pada hari Minggu, jam 03:00 sore. Semuanya berkumpul di Stasiun Kota depan Starbucks 15 menit sebelumnya.

Advertisement

Saat bertemu dengan pemandu wisata, yaitu Bapak Huans, ia memberikan penerangan singkat tentang perjalanan yang akan dilakukan. Tur dimulai dari Stasiun Kota itu sendiri, dan Pak Huans menjelaskan sejarah mengenai Stasiun Kota dan bagaimana bangunan tersebut dibuat dan bisa kokoh sampai sekarang.

Setelah Stasiun Kota, kami menunggangi salah satu angkot yang berkerumun didepan Stasiun Kota dan mengarah ke Pelabuhan Sunda Kelapa. Saat tiba di Pelabuhan Sunda Kelapa, kami turun dari angkot dan membayar sebanyak Rp2,500,00 untuk tiket masuk ke dalam Pelabuhan. Saat itu, kondisi sangat panas walaupun sudah sore, jadi kami berteduh di salah satu pohon selagi Pak Huans menjelaskan sejarah-sejarah tentang Pelabuhan Sunda Kelapa.

Kami juga jalan sedikit melihat kapal – kapal angkut tersebut dan berfoto – foto. Sesudah menelusuri Pelabuhan Sunda Kelapa, kami semua beranjak jalan kaki ke arah Gedung Syahbandar yang letaknya tak jauh dari Pelabuhan. Saat tiba di Gedung Syahbandar, sayangnya kami tidak dapat masuk karena sudah tutup dan Pak Huans tidak merekomendasikan untuk naik keatas karena bangunannya yang sudah tua.

Advertisement

Setelah mempelajari informasi-informasi mengenai Gedung Syahbandar, kami beranjak ke Galangan VOC yang letaknya persis didepan Gedung Syahbandar. Disinilah dimana saya mulai menggali lebih dalam tentang Galangan VOC yang juga Resto kafe VOC. Galangan VOC dikenal sebagai tempat reparasi kapal – kapal dagang yang datang ke Indonesia, baik kecil maupun besar.

Galangan VOC ini didirikan tahun 1628, dan menjadi salah satu bangunan penting. Awalnya, bangunan ini dibangun sebagai kantor pusat kegiatan perdagangan Hindia Belanda. ii Namun pada akhirnya, bangunan ini menjadi tempat dimana kapal – kapal bongkar muat barang dagangan baik dari rempah – rempah maupun tekstil. Galangan VOC terbagi menjadi dua, satu di Barat dan satu di Timur.

Galangan yang terletak di Timur, dikhususkan untuk awak – awak kapal, dan yang di Barat untuk reparasi kapal. Galangan VOC dulunya lebih besar dari sekarang, namun adanya kebakaran pada tahun 1721, membuat bangunan ini runtuh sebagian. Namun, pada tahun 1998, seorang pengusaha Cina membeli bangunan VOC dan mengambil alih.

“Dari tahun 98-an di renovasi, dan saat dibeli keadaan bangunan ini sudah rusak, sudah hancur, dan saat dibeli sama dia (Pengusaha Cina tersebut) di renovasi karena dia mau memanfaatkan tempat ini untuk aktifitas kesenian,” tutur Huans saat menjelaskan sejarah dibalik gedung Galangan VOC ini. Bangunan Galangan VOC ini sekarang sudah menjadi milik pribadi. Di Galangan VOC ini juga terdapat sebuah kafe yang juga didirikan oleh Sang Pengusaha namun, sudah tidak berfungsi.

“Dulu ada kafe resto, cuma sayangnya tidak berjalan dengan baik. Kafe nya masih ada sih ya cuman udah tidak rame, jadi cuma jual minuman kalo ada turis asing yang mampir, beli minuman soft drink atau beer,” jelas Huans. Di gedung VOC ini juga didirikan sekolah musik, dimana singkatan VOC dimanfaatkan sebagai nama sekolah yaitu Voice of Culture atau Voice of Chinese.

Sekolah musik tersebut diadakan hampir setiap hari di salah satu ruangan di bangunan ini. Saat di renovasi, bangunan luarnya diperbaiki, namun pengusaha Cina tersebut tidak memperbaiki dalamnya, dan meninggalkannya seperti bagaimana keadaannya dulu saat ia membeli bangunan VOC. Bisa terlihat dari dinding – dindingnya saat masuk kedalam salah satu ruangan, terlihat batu bata dan semen yang sudah rapuh namun bangunan masih kokoh.

Seiring berjalannya waktu, dan Jakarta berkembang, banyak hal – hal yang ditambahkan atau diganti, seperti sungai yang dulunya ada didepan bangunan VOC itu, sekarang ada jembatan dan jalan raya yang memisahkan gedung Syahbandar dengan bangunan VOC. Masih terpajangnya sebuah spanduk perayaan 300 tahun bangunan ini berdiri, membuktikan pemerintah masih mendukung dan membantu dalam menjaga salah satu ikon sejarah VOC ini.

Galangan VOC ini juga sekarang digunakan untuk acara-acara pribadi seperti lokasi resepsi nikahan, perkumpulan, reuni, ulang tahun dan lain sebagainya.Sebagian besar dari bangunannya masih ada, namun halaman depannya sudah di tambahkan bangunan kecil milik pengusaha Cina itu, sebagai gudang koleksi seni-seni koleksinya. Bisa terlihat juga halamannya tertata rapih dan di sudut samping terdapat koleksi-koleksi batu kayu yang sudah di koleksi dari jaman Belanda.

Tempat ini terlihat sepi dan jarang yang datang, sedangkan tempat ini memiliki banyak sejarah dan cerita yang patut di apresiasi dan diketahui banyak orang. Saya juga mengapresiasi tinggi Jakarta Walking Tour yang telah memberi sorotan terhadap bangunan-bangunan bersejarah untuk masyarakat Indonesia mengenang jasa-jasa pahlawan dan bagaimana Indonesia bisa merdeka karena sangatlah penting bagi kita untuk ingat dan kenang sepanjang masa.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya