Sempat terpikir, dimanapun, bersamamu adalah bagian terindah yang sang Khalik suratkan untuk skenario hidupku.

Tapi..

Advertisement

Ternyata itu hanya angan sepihakku, kau hanya ingin menikmati ku saja. Kau hanya menginginkan raga ku dengan memperalat lidah mu yang licin dan lihai itu. Seolah satu-satunya kau orang yang paling diperlakukan tidak adil di dunia ini. Tangisanmu, suara beratmu kau tumpahkan padaku, dan dengan bodohnya aku, mudah saja terhanyut cerita fiksimu itu.


Ku berikan kau bahu untuk menumpahkan keluh kesahmu. Sesekali ku usap air matamu, ku kecup keningmu berharap kau tidak se-down itu lagi. Jujur saja, aku yang lemah dan tak berpikir jauh ini, hanya ingin menenangkan mu kala itu. Lalu kau memelukku, sambil menangis terisak. Ku elus kepala mu dan ku bisikkan satu kalimat. ”Hidup itu proses, bersabarlah”.


Advertisement

Tiga hari berlalu, kita masih baik-baik saja, dan memang baik-baik saja.

Entah angin apa yang mendorongku, untuk melintasi jalan itu, tiba-tiba aku melihatmu sedang bersama yang lain, dengan tawa kemenangan disertai genggaman tangan erat jemari kalian. Seketika langkah ku terhenti. Lidah ini kelu tidak mampu mengeluarkan kata-kata. Aku tidak ingin kau melihatku waktu itu.Tetapi terlambat, pandanganmu tengah menoleh ke arah ku.


Refleks aku berlari. Kala itu aku bersama teman ku, Ara. Ara mengikutiku sembari memandangku yang tengah berurai air mata. Jujur saja doa ku saat itu, tidak ingin melihatmu lagi, sungguh aku sangat membenci mu. Amat sangat.


Kini kubenarkan, ternyata gosip yang selama ini menerpaku. Dia tidak lebih dari seorang bajingan dan penjahat wanita. Ternyata itu, benar adanya.

Mereka melarangku dekat dengannya, karena memang dia tidak baik. Musnah sudah mimpiku. Kau tersenyum padaku waktu aku melihat saat itu, seolah tidak merasa bersalah, tidak ada sedikit pun penjelasan mu padaku.


Perih sekali, rasanya ingin mati saja.


Kau menghubungiku seperti biasa dan tidak ku hiraukan lagi. Sakit sekali rasanya. Berhari-hari aku menangis. Tidak selera makan, tidak ingin keluar kamar. Dalam hati aku mengutuki diriku yang begitu bodoh dan naif. Dalam tangis ku terbersit rindu, rindu sekali padamu. Ingin aku berlari memelukmu dan menumpahkan kesakitan ku padamu. Tapi itu mustahil.

Kau kembali menghubungiku. Jujur saja, aku tidak ingin mengabaikannya, lalu kujawab deringanmu, kau marah padaku. Kenapa aku begitu sulit dihubungi. Mengapa tak ada kabar tentangku. Darimana saja, sudah makan, lagi dimana, masih sehatkan, dan sejuta pertanyaan lainnya.

Kau menghujani ku dengan pertanyaan basi mu, aku menangis mendengar suara mu. Aku terisak, tapi aku tidak menjawab. Aku hanya ingin mendengar suaramu. Aku mematikan deringanmu tanpa menjawab sedikit pun.


Kini ku kubur dalam-dalam mimpiku untuk terus bersamamu. Tak ada lagi kata semoga ku semenjak doa sia-sia tanpa hasil. Tidak kupungkiri, aku masih ingin bersamamu. Tapi rasanya tidak pantas terus mengharapkanmu.


Awalnya aku meragukan omongan buruk orang terhadapmu. Tetapi aku sudah menyaksikan kebenarannya dengan mata kepalaku sendiri. Berkali-kali kau memintaku agar megulang kisah itu kembali, tanpa kata maaf darimu. Terbersit, kenapa aku harus memberimu kesempatan ke 2, ketika dikesempatan pertama saja hatiku sudah kau patahkan.

Kini aku mengakhirinya. Kelak, kan kutemukan orang yang tepat yang selalu membawakanku dalam doanya. Aku akan membenahi dan mempersiapkan diriku untuk waktu itu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya